Midnight Romeo Chapter 7 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

Dan pada akhirnya, aku bisa membuatmu bahagia. Paling tidak, aku bisa memberikanmu kehidupan yang telah kau dambakan selama ini. Kehidupan yang telah ku renggut dari hidupmu sejak lama. Kau akan bebas.

Ini adalah limit yang diberikan Tuhan padaku. Dan aku telah mencapai batasannya.

Tidak masalah jika aku harus menangis dan merasa kesepian selamanya. Itu masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan melihat orang-orang tersakiti karena keberadaanku. Mereka tidak perlu terluka hanya demi diriku.

Eun Soo, Ibu… terimakasih.

***

PROLOGUE  CHAPTER 1 CHAPTER 2 CHAPTER3 CHAPTER4 CHAPTER5 CHAPTER6

***

 

Seoul, 1 Mei  2015.

Di hidupku, aku hanya memiliki dua opsi yang harus ku jalani.

Ya dan tidak.

Dan semua orang tahu akan hal itu.

Bahkan saat aku tak menyukai dua opsi itu, aku harus tetap berdiri dan menatap kenyataan di depan wajahku.

Meski itu menyakitkan.

Meski itu akan membuatku menderita.

Meski itu akan membuatku terbunuh.

Mengeluh tidak akan membuatku menjadi lebih baik. Protes tidak akan membuat takdirku berubah.

Pada akhirnya, aku tetaplah Park Cheon Sa.

Dan itulah yang telah terjadi.

Bahkan saat aku mati, aku akan tetap menjadi Park Cheon Sa.

Aku telah memutuskan untuk melepaskan seluruh pencapaianku pada hidup. Aku tidak akan mengharapkan apa pun, dan aku juga ‘tak ingin menyesali apapun. Satu-satunya hal yang ku inginkan saat ini adalah menikmati sisa hidupku yang tidak seberapa dengan hati bahagia.

Kadang-kadang, aku membenci diriku yang naif. Tapi ku putuskan untuk menerima kenyataan itu dengan tangan terbuka, dan berdamai dengan diriku. Bagaimana pun juga, sangat tidak adil bagiku untuk meninggalkan dunia ini dengan membawa kebencian dan rasa marah setelah nyaris menghabiskan separuh hidupku dengan hati yang rusak.

Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan studiku ke Los Angeles dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Universitas Seoul.

Di minggu pertama bulan Februari, Hyun Jo mendapati aku tidak sadarkan diri di rumah kontrakanku, dan segera membawaku ke Rumah Sakit. Pada hari itu, seperti yang sudah dijanjikan, Hyun Jo mengajakku pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan wisudaku yang akan diadakan Juli nanti. Hyun Jo meneleponku untuk bertemu di subway, namun aku tidak menjawab panggilan itu. Berpuluh-puluh kali. Hingga akhirnya Hyun Jo memutuskan untuk menjemputku, dan dia menemukanku tidak sadarkan diri.

Hal pertama yang ia lakukan saat aku tersadar di Rumah Sakit adalah memelukku dengan erat. Dia menangis sesenggukan. Aku juga melihat Lu Han berdiri di sampingnya, masih memakai jas putih dan terlihat sangat berantakan.

Aku tidak terkejut saat mendapati tubuhku ditopang oleh berbagai peralatan medis, hal yang membuatku terkejut justru pernyataan pendek Lu Han pada hari itu.

“Hyun Jo sudah tahu,”

Ku pikir, tidak ada hal yang jauh lebih buruk dari pada mengetahui sahabat terbaikmu sekarat, dan hanya menyisakan sedikit waktu baginya hingga waktu kematian datang.

Dan aku tahu, Hyun Jo juga berpikir seperti itu.

Karena itu aku memutuskan untuk tidak memberitahunya mengenai kondisiku. Aku paham apa yang akan terjadi saat ia mengetahui betapa buruknya kondisiku. Gadis itu tidak akan bisa menahan air matanya, dia akan menangis tersedu-sedu, dan terus memelukku sepanjang hari. Aku tahu ia akan terguncang—bahkan  melebihi diriku sendiri, dan itulah yang sedang terjadi.

“Cheonsa, katakan bahwa itu tidak benar, katakan bahwa kau tidak akan pergi,”

Aku tidak yakin apakah aku masih bisa berjanji saat ini.

Aku melirik Lu Han, dan mendapati sorot redup dari matanya. Ia tersenyum lirih.

Maafkan aku.

Ia bergumam pelan. Aku tahu ia berusaha menahan air matanya, aku tahu betapa menyakitkannya melihat sahabat terbaikmu terbaring di rumah sakit dan kau hanya bisa berdiri menyaksikan sisa hidupnya dari tempat itu.

Aku tidak bisa menjanjikan apa pun, bahkan untuk diriku sendiri karena aku tahu janji itu tidak akan pernah bisa ku tepati.

Namun untuk kali ini aku ingin melindungi hatinya sekali lagi. Aku hanya berharap ia bisa memaafkanku. Aku tahu ia akan memahami keadaanku dan mengerti mengapa aku mengatakan hal ini.

Aku tersenyum dan mengelus pundak Hyunjo.

“Tentu saja. Aku tidak akan pergi kemana-mana.”

Saat suster memasuki ruanganku, ia tersenyum ramah dan bertanya mengenai kondisiku. Lu Han dan Hyun Jo pamit keluar untuk membeli sesuatu dan meninggalkanku.

“Aku baik-baik saja, Suster Kim,”

Suster Kim mencatat sesuatu di papannya, sesekali ia menatapku dan kemudian menghela napas.

“Cheon Sa,”

“…”

“Kau harus mengatakan sesuatu pada orang tuamu,”

Tatapan Suster Kim melembut, ia menggenggam tanganku. Aku menatapnya dan tersenyum miring, kemudian mengalihkan tatapanku pada jendela di sebelahku.

“Aku akan memberitahunya, Suster Kim. Tapi tidak saat ini,”

Suster Kim menatapku nanar, ia mengelus kepalaku.

“Cheon Sa,”

Aku bisa merasakan kesedihan itu dari caranya memanggil namaku. Aku tahu ia mencemaskanku. Hanya saja, aku memiliki alasan kuat mengapa aku tak bisa melakukannya.

“Eun Soo pasti mengkhawatirkanmu,”

Aku tersenyum getir.

Ku pikir, akan lebih baik seperti ini. Dia tidak perlu tahu mengenai keadaanku.

Ku pikir, dengan menyimpan seluruh kesedihan dan luka ini, tidak akan ada yang terluka. Seseorang tidak harus terluka hanya untukku. Aku tidak ingin melihat seseorang menangis karena mengetahui kebenaran tentang diriku.

Itu…akan sangat menyedihkan.

“Dia akan baik-baik saja, Suster Kim. Dia telah menemukan kebahagiaannya, dan ku pikir akan lebih baik jika ia tidak mengetahuinya,”

Aku dan Eun Soo tidak harus saling melukai.

Dan aku hanya tidak ingin merusak kebahagiaan yang telah ia dapatkan. Menjadi seseorang yang terlahir dengan seluruh ketidaksempurnaan tidak harus menjadikan diriku sebagai manusia yang buruk.

Paling tidak, aku harus bisa menerima segalanya dengan tangan terbuka. Hanya dengan cara itulah aku bisa berdamai dengan diriku. Hanya dengan itu, aku bisa berhenti merutuki semua ketidakberuntungan yang terjadi padaku.

Semua akan menjadi baik-baik saja. Bahkan meski faktanya tidak begitu, aku akan merasa baik-baik saja dengan membawa seluruh luka dan kepingan hatiku.

 

—(midnight romeo)—

 

 

 

“Bagaimana keadaanmu?”

Aku tersenyum samar saat Profesor Park memasuki ruanganku dengan membawa sekeranjang buah.

“Ku pikir aku cukup sehat untuk menghabiskan sekeranjang buah yang kau bawa,”

Ia terkekeh pelan, kemudian mengambil posisi di sisi tempat tidurku.

“Itu bagus. Kau harus menghadiri upacara kelulusanmu Juli ini,”

Profesor Park memberiku sebuah apel, ia mengelus kepalaku, dan aku sungguh menghargai hal itu.

Bagiku, dia sudah seperti sosok ayah yang selalu ku impikan. Dia baik, pengertian, penyayang, dan siapapun putrinya, dia pasti sangatlah beruntung.

“Apa kau akan datang?”

“Tentu saja, kau salah satu mahasiswa kesayanganku. Bagaimana mungkin aku bisa melewatkan kesempatan ini?”

Selama aku dirawat di Rumah Sakit, Profesor Park sudah banyak menolongku. Dia bahkan beberapa kali menjengukku untuk memastikan keadaanku baik-baik saja. Bagaimanapun juga, aku hanyalah seorang penulis lepas untuk majalah Mingguan. Aku tidak memiliki uang untuk membayar seluruh biaya Rumah Sakit, dan aku tinggal seorang diri di pinggir kota tanpa didampingi orangtuaku.

“Cheon Sa,”

Aku bisa menangkap sorot sendu itu dari matanya. Dia selalu menatapku dengan tatapan itu setiap kali berusaha menebak apa yang ku pikirkan.

“Kau sudah ku anggap seperti putriku, dan aku benar-benar bangga padamu,”

Aku merasa senang karena ia menganggapku seperti anaknya, namun di satu sisi ada kesedihan yang tidak bisa ku ungkapkan.

Aku merindukan ayahku.

Aku ingin ia merasa bangga atas diriku. Aku ingin ia menghadiri upacara kelulusanku, dan mengajakku minum soju di kedai pinggir jalan seperti ayah lainnya.

Aku ingin ia tahu betapa aku sangat merindukannya. Sosok yang bahkan tidak ku ketahui keberadaannya.

“Terimakasih, Profesor Park,” aku tersenyum tipis.

“Apa kau sudah menghubungi orang tuamu?”

Aku tersenyum tipis.

“Kau harus memberitahunya mengenai kondisimu saat ini,”

Ia lagi-lagi menghujaniku dengan tatapan itu. Tatapan yang sesungguhnya ingin ku hindari. Aku ingin mengabaikannya, namun lagi-lagi membuatku tertahan.

“Aku baik-baik saja, Profesor Park. Dia tidak perlu tahu tentang ini,”

Aku hanya tidak ingin menghancurkan kebahagiaannya.

“Cheon Sa, kau tidak baik-baik saja, dan semua orang tahu hal itu,”

“Aku akan segera sembuh dan keluar dari Rumah Sakit ini, aku janji,” aku menatap Profesor Park dengan yakin—meski aku tahu jika ia mengira itu hanya sebuah kepalsuan.

Janji itu kedengaran seperti sebuah omong kosong. Aku mengetahui hal ini lebih baik dari orang lain. Begitu pula dengan dirinya.

Mungkin aku tidak akan pernah keluar dari Rumah Sakit ini.

Profesor Park tiba-tiba memelukku erat, butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Lalu aku merasakan sesuatu yang basah menetes di bajuku.

Dan isakan memilukan itu kembali menamparku pada sebuah kenyataan pahit.

“Ku mohon jangan berjanji padaku,” suara Profesor Park bergetar, pelukannya pada tubuhku semakin erat, dan aku bisa merasakan kegetiran dari suaranya.

Ia tidak ingin aku berjanji.

Ia tahu bahwa apapun yang ku katakan hanya akan menjadi sebuah kebohongan.

Pada akhirnya, aku tidak akan bisa membuktikan seluruh ucapanku dan meninggalkan semua orang dengan rasa kekecewaan yang mendalam.

 

—(midnight romeo)—

Eun Soo menatap sepatu bayi yang Jong In letakkan di atas meja tamu dengan tatapan bingung. Ia menatap pria itu sejenak, tidak berkata apa pun selain menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kau tahu, aku sudah ingin membeli sepatu ini sejak obral Minggu lalu,” pria itu tersenyum kikuk sembari mengusap lehernya.

“Sepatu ini membuatku teringat padamu,”

Jong In mengambil tempat duduk di sebelah Eun Soo, mengambil sepatu itu dan tidak dapat menahan senyum lebarnya. Itu sesuatu yang jarang—Jong In dan senyuman lebarnya sering kali membuat Eun Soo bertanya-tanya. Ini bukan pertama kalinya Eun Soo berspekulasi tentang apa yang Jong In pikirkan.

“Aku sangat berharap jika anak kita adalah laki-laki,”

Perkataan Jong In membuat alis wanita itu bertaut.

“Aku terlahir sebagai anak tunggal, aku tidak mempunyai saudara. Hal terakhir yang bisa ku harapkan adalah orang tuaku, tapi kau tahu bahwa orang tuaku membuat pekerjaan mereka menduduki posisi teratas dari skala prioritas mereka. Mereka tidak punya waktu untukku, dan aku harus menghabiskan masa kecilku bersama nanny. Ku pikir, saat aku akan memiliki anak nanti, aku berharap jika anakku seorang laki-laki. Menghabiskan waktu bersamanya akan menjadi hal yang menyenangkan, dan aku benar-benar tidak sabar akan hal itu,”

Eun Soo tersenyum lembut dan menggenggam tangan pria itu.

“Kita akan mengetahui jenis kelaminnya pada pemeriksaan bulan ini,”

“Kalau begitu aku akan menemanimu!” Eun Soo bisa merasakan rasa antusias Jong In saat ini. Ia bisa melihat pendar-pendar semangat itu di matanya. Dan sesungguhnya, ia memiliki perasaan yang sama. Ia merasa bahagia karena ia, sekali lagi mengandung. Tapi, itu bukan semata-mata perasaan bahagia, di satu sisi ia merasakan kepahitan itu tertanam di tenggorokannya.

Dan dia mengetahui seberapa besar konsekuensi yang ia miliki saat ia memutuskan tinggal bersama pria ini.

Dia telah menghancurkan kehidupan seseorang.

Sesederhana itu.

“Ku mohon berhentilah menyakitiku!!!!”

Eun Soo bahkan tidak yakin jika ini adalah perasaan bahagia. Bagaima mungkin ia bisa merasa bahagia setelah merenggut kebahagiaan putrinya sendiri.

Dia telah berjanji untuk menjaga putrinya. Dia berjanji untuk membahagiakan putrinya. Dia berjanji…

Eun Soo mencoba.

Dia berusaha.

Dan semua orang tahu, kadang kala takdir bisa berbuat sesukanya.

Inilah yang mereka sebut dengan ironi.

Tentu saja kau tidak bisa berpikir bahwa apapun yang kau harapkan akan menjadi sebuah kenyataan. Faktanya, takdir memiliki persepsinya sendiri. Mereka selalu memiliki cara tersendiri untuk menentukan akhir cerita seseorang.

 

“—So?”

 

Park Cheon Sa.

 

Ia ingin tahu bagaimana kabar gadis itu sekarang.

 

“Eun Soo?”

Eun Soo merasakan Jong In menepuk pundaknya. Pria itu menatapnya bingung.

“Ya?” Eun Soo berusaha menjawab panggilan Jong In dengan nada setenang mungkin—berusaha menutupi fakta bahwa dirinya merasa terguncang dengan semua tekanan emosional ini.

“Kau baik-baik saja?”

Jong In tahu ada yang salah dengan ekspresi wanita itu. Dia mengamati setiap detil garis wajahnya. Dan saat ia melihat senyuman tipis wanita itu, ia bisa merasakan kegetiran itu di sana.

Tatapannya melembut dan ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Eun Soo membalas pelukan Jong In, ia hanya menggeleng.

“Tidak ada,”

Jong In memegang bahu wanita itu dan menatap matanya. Pria itu menangkap kekhawatiran dari sorot mata Eun Soo.

“Eun Soo, kau tidak perlu—“

“—Jong In, ku mohon,”

“Berhentilah memikirkannya Eun Soo.”

Wanita itu menatap Jong In dengan mata berkaca-kaca. Jong In tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Dan Eun Soo yakin dia selalu memperhatikannya.

“Kau harus memikirkan dirimu sendiri. Kau mengandung,”

Aku tak bisa membiarkan putriku terluka, Jong In,

Eun Soo merasa gila dengan semua tekanan emosional ini.

 

 

”Kau benar,” Eun Soo menatap sepatu bayi itu lekat, lalu air mata itu menetes dari matanya yang terpejam “mungkin aku harus melupakannya.”

 

—(midnight romeo)—

 

 

Seoul, 3 Juni 2015.

 

Saat aku masih anak-anak, aku selalu berpikir tentang kesalahan apa yang pernah ku lakukan sehingga Ibu memperlakukanku dengan buruk. Aku berulang kali memohon maaf, aku memohon agar ia mengampuniku, aku berjanji akan menjadi anak yang baik.

 

Tapi aku tahu itu tidak ada gunanya.

 

Sejak awal, kehadiranku adalah sebuah kesalahan. Dan tidak ada gunanya untuk memohon maaf untuk eksistensiku.

 

Aku mengetahuinya. Tapi tetap saja, aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Aku berusaha membuatnya bangga dengan semua yang telah ku capai. Aku ingin melihatnya tersenyum dan merasa bahagia karena telah memiliki ku.

 

“MATI KAU ANAK SIAL!!! MATI SAJA!!! MATI!!!”

 

Hari itu aku menduduki peringkat teratas ujian yang diadakan oleh sekolahku. Semua orang bertepuk tangan untukku, mereka tersenyum padaku, mereka berkata bahwa aku telah membuat orang tuaku bangga. Aku percaya pada diriku bahwa aku bisa membuatmu tersenyum bahagia, aku percaya kau akan memelukku. Tapi pada hari itu, kau memukulku, kau kembali melukaiku, dan kali ini—

 

—kau menginginkan aku mati.

 

“Ibu…! Ku mohon maafkan aku…! Aku berjanji akan jadi anak baik…. Hiks! Ibu…!”

 

Pada akhirnya, permohonanku hanya akan menguap di udara beku. Kau akan meninggalkanku begitu saja dan pergi bersama orang lain. Sejak dulu, selalu seperti itu. Sering kali aku bertanya pada diriku, mengapa kau memberiku nama ini.

 

Malaikat.

 

Sesungguhnya, apa yang kau harapkan dariku.

 

Ibu… maaf.

 

Maaf jika selama ini kehadiranku selalu melukaimu. Maaf jika aku selalu membuatmu marah.

 

Aku tahu kau selalu menangis di ruang makan setiap malam. Aku tahu kau terisak dan selalu memohon pertolongan. Kau tersiksa, kau juga menderita, dan semua itu terjadi karena kau tetap mempertahankanku. Tetapi, kau juga melampiaskan semua kemarahanmu padaku, menyalahkanku dan melukaiku.

 

Dan akhirnya, kau menyerah.

 

Kau menginginkan aku lenyap. Mati.

 

Hingga saat ini, aku terus membawa perasaan itu bersamaku. Perasaan bersalah karena tidak pernah menjadi seseorang yang kau harapkan keberadaannya. Mungkin saja, jika saat itu kau tidak mempertahankanku, kau mungkin akan menjalani hidup yang lebih baik. Kau akan menikah dengan seseorang dan hidup bahagia. Paling tidak, kau tidak harus menoleh kebelakang hanya untuk melihatku dengan tatapan sinis itu.

Dan pada akhirnya, aku bisa membuatmu bahagia. Paling tidak, aku bisa memberikanmu kehidupan yang telah kau dambakan selama ini. Kehidupan yang telah ku renggut dari hidupmu sejak lama. Kau akan bebas.

 

Tidak masalah jika aku mati. Aku tidak keberatan untuk memberikan pria yang kucintai. Bukan masalah untuk menanggung semua luka dan penderitaan itu di pundakku. Aku masih bisa bertahan. Aku hidup. Mungkin tidak akan bertahan lama, tapi paling tidak, kau akan bahagia.

 

Itu sudah cukup.

 

Eun Soo. Ibu.

 

“Hiks… hiks….”

 

Ini adalah limit yang diberikan Tuhan padaku. Dan aku telah mencapai batasannya.

 

Tidak masalah jika aku harus menangis dan merasa kesepian selamanya. Itu masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan melihat orang-orang tersakiti karena keberadaanku. Mereka tidak perlu terluka hanya demi diriku.

 

Eun Soo, Ibu… terimakasih.

 

Kau tahu, aku benar-benar rindu menyebutmu dengan sebutan ‘ibu’. Dan aku ingin kau berhenti menatapku dengan tatapan itu.

 

Berhentilah menyalahkan dirimu dan tetaplah hidup.

 

Saat ini, ada orang lain yang berdiri di sampingmu, dan akan ada orang lain yang sangat membutuhkanmu.

 

Kau tidak perlu menangis. Dan aku tidak perlu berdiri di sampingmu lagi.

 

“Hiks…”

 

Kau tahu, kau tidak sepenuhnya buruk. Di satu sisi, kau kelihatan keren. Dan aku bersyukur akan hal itu. Aku bersyukur atas pertemuanku denganmu, aku bersyukur untuk semua hari-hari yang ku jalani bersamamu, dan aku bersyukur

 

Karena kau sudah melahirkanku.

 

Ibu…

 

 

—(midnight romeo)—

 

“Dokter Shim! Dokter Shim!”

 

Suster Kim menerobos masuk ke dalam ruangan dokter. Raut panik itu terpeta di wajahnya. Semua dokter di ruangan itu menatapnya kebingungan.

 

“Suster Kim?”

 

“Dokter Shim! Chensa! Cheonsa—“

 

Suster Kim tidak bisa menahan genangan air mata itu lagi. Ia hanya bisa terisak dan meremas erat lengan dokter Shim yang berada di hadapannya.

 

“Tolong… tolong selamatkan Cheonsa…”

 

 

 

TBC

extra quotes: 

Apakah kau pernah berpikir bahwa kau akan merasa lebih baik setelah meninggalkan dunia ini? 

Aku selalu. 

Aku selalu berpikir bahwa ini bukanlah tempatku. 

Aku selalu berpikir bahwa keberadaanku akan selalu menyakiti orang-orang. 

Diriku adalah kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Sudah terlambat. 

Dan satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan kebahagiaan orang lain adalah dengan mengorbankan diriku. 

Aku percaya bahwa kebahagiaan tidak hanya diperoleh oleh dirimu sendiri, tapi saat kau melihat orang lain bahagia. Bahkan meski tubuhmu dipenuhi darah dan luka, kau akan merasa baik-baik saja. 

Bagiku, mengorbankan diri demi orang lain adalah wujud permohonan maaf. 

Bahkan meski itu bukanlah kesalahan yang ku lakukan. 

Tapi tak mengapa. 

Aku tidak pernah menyesal untuk setiap luka ataupun rasa sakit yang ku rasakan. Aku tidak pernah bisa membencinya. 

Dan aku tidak akan pernah bisa memohon yang lebih baik lagi. 

Karena bagiku, sudah cukup dengan hidup seperti ini. 

Advertisements

13 thoughts on “Midnight Romeo Chapter 7 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

  1. Sejujurnya, antara percaya atw nggak ngeliat Midnight Romeo Up. Sampai2 aku kepo chapter sblmnya, 1 tahun bolak-balik ngeliat update-an. Akhirnya up jg, Terima kasih penulis tercinta yg udah ngelanjutin. Ngeliat ini ff up, udah deg2an dluan. Duuhh Cheonsa hidupmu menderita banget, apa nggak ada harapan lg buat dia hdup bhagia.

    Like

  2. Sedih banget bacanya dri awal smpe abis aku nangis mulu kak…
    Sumph ini ff nyesek banget dalemm…
    Apakah mungkin aku berharap eunsoo hidupnya bakalan bahagia?

    Like

  3. 😭😭😭😭😭 sumpah ya kak ceritanya Bagus bangett, aku sampai kebawa perasaan.

    Good luck ya kak
    semangat terus nulisnya 😄😄😄

    Like

  4. Heheh kak saya nangis :’) terimakasih ya kak.
    Haduh awalnya saya jejeritan bgt tau kalau ff ini update setelah jerit2 eh nangis :’)) haha semua katakatanya kakak cara penulisannya kakak , berhasil banget loh kak buat terbawa kedalam emosinya si cheonsa. Suka banget deh kak
    Aku selalu nungguin ff ini loh kak, smangat nulisnya yaa. Terimakasih udah mau ngelanjutin ff ini . Seneng banget deh pokoknya! Hehe
    Di tunggu ya kak karya selanjutnya 🙂

    Like

  5. Seburuk-buruknya Eunsoo pada Cheonsa. Anak perempuannya itu tetap memanggilnya Ibu di akhir.

    Cheonsa. Malaikat. Namanya terlalu bagus. Dan dia terlalu baik hati, cocok dengan namanya. Baik hati karena tidak ingin melihat orang yang melahirkannya sedih karenanya. Seperti malaikat baik hati, dia akan menjaga ibunya tetap bahagia sampai akhir.

    Mewek ah :”

    Like

  6. 😭😭😭 Cheonsa..

    Akhirnya vi.. sudah berabad2 aku menantikannya..
    Karena berita yg sedang hangat2 nya d bicarakan hari ini, aku langsung keinget km vi . Eh pas buka blog km .. ada lanjutan ff ini..
    Udh mah lg galau ama mas lulu . Dsini muncul mas lulu.. jd baper ..
    Oke lupakan itu….

    Itu cheonsa ny knpa ?? Aku ga tega baca nya?? Sumpah pengen nangis… aku pernah merasakan apa yg cheonsa rasakan.. 😭😭😭😭😢😢😢

    Like

  7. kak apakabar? lama ya gak ada kabar? gimna sekarang ? sehat kan? masih belum bias kerja lapangan ato udah bias sekarang kak? masi kerja jadi editor juga gak kak? hehe

    salam cinta
    – utikpa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s