Midnight Romeo Chapter 6 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

midnight romeo 2

 

Aku meremas dadaku, langkahku terhenti di depan gereja yang berada persis di depan subway. Aku hanya menatap gereja itu dan tersenyum lirih.

Harusnya aku menyadari semua kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Harusnya aku tahu betapa pun aku berusaha melarikan diri dari takdir yang tidak adil, semua usahaku tidak akan membuatku menjadi seseorang yang jauh lebih baik.

Ku pikir, semua tekanan emosional ini dapat membunuhku. 

Ini menyedihkan, bukan?

Bagaimana mungkin aku bisa mempertahankan hidupku di saat aku telah kehilangan seluruh alasanku untuk hidup.

No matter how far I reach for you

It just an empty dream.

Then why do I keep needing you when I know I’ll get hurt?

***

PROLOGUE  CHAPTER 1 CHAPTER 2 CHAPTER3 CHAPTER4 CHAPTER5

***

Seoul, 30 Januari 2015.

Ini adalah draft terakhir yang akan ku antar pada Profesor Park untuk melengkapi tugas akhirku. Aku cukup senang karena pada akhirnya salah satu impian terbesarku menjadi semakin dekat. Aku akan segera lulus dari universitas ini dan meninggalkan negara ini bersama dengan seluruh masa laluku yang menyedihkan.

Di akhir musim dingin aku memberanikan diri untuk datang ke ruangan Profesor Park dengan menggenggam seluruh keyakinanku pada draft ini. Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal seputar kehidupanku dan memutuskan untuk fokus pada tugas akhirku. Akhirnya aku bisa sedikit bernapas lega.

Saat aku masuk ke dalam ruangannya, ia terlihat lelah dan tampak sibuk dengan beberapa lembar tugas mahasiswa di mejanya. Ia tersenyum lembut saat melihatku dan mempersilahkanku duduk.

“Terlihat bersemangat untuk mengantarkan tugas akhir, bukankah aku benar?”

Aku hanya tersenyum tipis, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku terlalu lelah bahkan hanya untuk tersenyum.

“Aku hanya ingin menyelesaikannya dengan cepat,”

Profesor Park meraih draft yang ku serahkan padanya dan membaca setiap lembarnya dengan sabar. Ia tersenyum puas saat membaca lembar terakhir dari draftku.

“Kalau begitu, sampai jumpa di upacara kelulusan,” ia kembali tersenyum hingga menampakkan lesung pipinya.

Profesor Park memelukku. Selama 9 bulan aku berada dalam bimbingan Profesor Park, aku telah menganggap Profesor Park seperti ayahku sendiri. Aku merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan seseorang berjiwa besar seperti dirinya, dan aku tidak tahu apakah setelah hari kelulusan tiba aku bisa tetap menemuinya seperti biasa atau tidak.

“Aku tahu kau adalah gadis yang hebat,”

Hal terakhir yang aku inginkan di dunia ini adalah kata pujian yang diucapkan ayahku untukku.

“Terimakasih, Profesor Park,”

Dan aku tahu itu adalah hal yang tidak mungkin akan terjadi.

“Siapapun ayahmu, dia pasti akan bangga memiliki seorang anak yang luar biasa sepertimu, Cheon Sa-ssi.”

Aku pamit dari ruangannya dan Profesor Park mengantarku keluar. Dia mengatakan beberapa pesan sebelum aku pergi. Beberapa diantaranya sudah sering ku dengar dari guru-guruku di masa SMA. Pesan-pesan itu tidak jauh dari pesan untuk memintaku tetap sehat, hidup dengan hati yang bahagia dan selalu mengunjungi mereka kapanpun aku sempat.

Aku cukup tersentuh dengan hal-hal kecil seperti itu. Aku sangat menghargainya.

Kemudian aku melirik jam tanganku, saat aku menyadari ini hampir jam 10 pagi, ponselku tiba-tiba saja berdering dan nama Lu Han terpampang jelas di sana.

“Ada hal yang ingin ku katakan padamu, datanglah ke klinik,”

Sejujurnya nada urgensi pada kata-kata Lu Han sedikit mengganggu pendengaranku. Dia tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara dan menanyakan hal penting macam apa yang harus ku diskusikan di klinik bersama pria menyebalkan itu.

Saat aku tiba di klinik, Lu Han terlihat berantakan dengan jas lab yang tersampir di bahu kirinya. Ada perasaan janggal saat matanya bertemu dengan pandanganku.

Lu Han duduk di depanku, memegang sebuah map yang tidak ku ketahui apa isinya dan tiba-tiba saja menyodorkan map itu padaku.

“Park Cheon Sa,”

Aku sudah pernah mendengar Lu Han memanggil namaku, dia selalu memanggil namaku lengkap-lengkap  dengan intonasi yang kedengaran berbahaya. Tapi aku tak pernah menanggapi hal itu secara serius, aku berusaha terlihat santai dan menganggapinya sebagai seorang teman lama yang hanya ingin bercerita tentang tunangannya yang merepotkan. Tapi aku tahu kali ini tidak akan sama, ada sesuatu yang berbeda dengan ucapan laki-laki itu, dan aku menyadarinya dengan baik.

“Hentikan seluruh kegiatan studimu dan mulailah untuk melakukan perawatan medis secara intensif.”

Sejak dulu Lu Han selalu mengatakan hal yang sama.

Dia selalu menyuruhku untuk melakukan hal yang mustahil untuk ku lakukan. Dan aku selalu berusaha menganggap itu  lelucon murahan yang tidak penting. Kata-kata Lu Han hanya akan berdengung  sesaat di telingaku dan kemudian pergi bersama hembusan angin.

Tapi aku tahu ada sesuatu yang salah.

“Apa maksudmu?”

Lu Han mengeluarkan isi map itu dan kembali membuatku bertanya-tanya.

Lu Han menunjuk paru-paru kiriku dengan pensilnya. Ia menggaruk kepalanya gusar dan menutup wajahnya frustasi.

“Kali ini kau tidak hanya menghadapi pneumonia untuk pertaruhan hidup dan matimu. Tapi kau juga akan menghadapi kanker paru-paru, dan sekarang kau hanya memiliki separuh dari paru-parumu untuk menghabiskan seluruh sisa hidup yang kau miliki.”

Aku mendongakkan kepalaku dan menatap Lu Han dengan pandangan tidak mengerti. Ada sesuatu yang salah saat ia mengucapkan permintaan maaf itu. Sesaat, aku merasa terluka dan merasa lebih buruk dari apa pun di dunia ini.

“Maafkan aku,”

Kanker paru-paru…

“Hentikan omong kosongmu dan berikan resep obat itu,”

Aku tidak mengerti dengan semua ini. Aku tidak mengerti dengan diriku dan aku tidak mengerti mengapa Lu Han berusaha membuat lelucon di saat yang tidak tepat seperti ini.

Satu-satunya hal yang ku sadari adalah air mataku yang menetes di tanganku.

Aku mengambil resep obat yang telah Lu Han tulis dan segera keluar dari ruangannya. Aku berlari sekuat yang ku bisa, menyusuri daerah pertokoan dengan menahan air mataku yang tak bisa berhenti.

Aku meremas dadaku, langkahku terhenti di depan gereja yang berada persis di depan subway. Aku hanya menatap gereja itu dan tersenyum lirih.

Harusnya aku menyadari semua kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Harusnya aku tahu betapa pun aku berusaha melarikan diri dari takdir yang tidak adil, semua usahaku tidak akan membuatku menjadi seseorang yang jauh lebih baik.

Lalu, apa yang bisa ku harapkan dengan menghabiskan seluruh sisa hidupku dengan paru-paru yang hanya tersisa setengah?

Ku pikir, semua tekanan emosional ini bisa membunuhku dan semua orang pasti berpikir begitu.

Aku menepi di salah satu taman yang letaknya tidak jauh dari gereja tua yang akhir-akhir ini sering ku kunjungi. Aku hanya duduk di ayunan dan sesekali mengayunnya dengan kakiku. Aku tersenyum dan mengingat masa kecilku.

Dulu aku sering berkunjung ke taman. Aku selalu berkunjung hampir setiap hari. Aku akan duduk di ayunan dari siang hingga malam hanya untuk membaca buku dan kemudian pulang ke rumah. Saat aku pulang, aku hanya bisa mendengar dentuman musik yang cukup keras dan botol-botol minuman keras yang berserakan di lantai rumah. Tidak akan ada makanan yang tersisa saat aku sampai di rumah. Eun Soo hampir tidak pernah memasak dan hanya memberiku sebuah roti untuk makan di pagi hari. Itu sebabnya aku harus mencari cara untuk menemukan makanan, aku akan melakukan apa saja termasuk mengorek sampah untuk menemukan makanan sisa di salah satu tempat makan, dan begitulah aku berusaha untuk hidup hingga usiaku 12 tahun.

Setelah itu aku memutuskan bekerja di salah satu toko kelontong sebagai petugas bersih-bersih. Aku mulai bekerja saat aku pulang sekolah hingga pukul 8 malam, kemudian aku akan kembali mampir ke taman untuk belajar atau hanya untuk menghabiskan hariku  dengan memandangi langit malam.

Rumah adalah tempat yang ingin ku hindari. Dan sebisa mungkin aku berusaha untuk melarikandiri dari semua hal yang menyangkut rumah dan keluarga.

Aku membenci Eun Soo. Namun di sisi lain hatiku, aku tetap menyayanginya sebagai ibuku.

Maka saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah aku memutuskan untuk hidup sendiri. Aku menyewa sebuah rumah singgah yang disediakan oleh pihak sekolahku untuk para siswa dan sisiwinya. Di sana aku merasa hidupku jauh lebih baik, setidaknya tidak akan ada yang memarahi atau memukulku seperti yang selalu Eun Soo lakukan padaku. Hari-hariku menjadi sangat tenang dan lebih baik—meski tidak selalu, pada akhirnya aku bisa lebih mensyukuri hidupku bahkan hanya dengan menjauh dari rumah dan ibuku.

Aku mulai menyusun semua rencana-rencanaku untuk sepuluh tahun ke depan. Aku ingin masuk ke universitas terbaik di negeri ini dan pergi ke negara lain untuk meninggalkan semua masa laluku yang menyedihkan.

Lalu di sinilah aku sekarang. Berjuang dengan semua rasa sakitku seorang diri.

Apakah ini adil?

Aku tahu sesuatu yang salah sedang terjadi. Aku bahkan menyadari hal itu jauh sebelum aku menyadari apa arti dari sebuah rasa sakit itu sendiri.

Apakah ini akhirnya?

Saat aku sibuk berpikir tentang hidupku, ponselku berdering dan aku bisa melihat nama Eun Soo di layar ponselku. Aku tersenyum sinis.

“Aku sibuk,” aku menjawab panggilan itu tanpa mengucapkan salam dan segera memotongnya dengan cepat. Aku tahu Eun Soo tercekat dari seberang telepon, aku bisa mendengar suara helaan napasnya yang samar.

“Bisa kita bertemu?”

“Apa yang kau inginkan?”

Bahkan hanya mendengar suaranya aku bisa merasakan hatiku jatuh dan hancur berkeping-keping. Aku menggenggam tanganku, meremasnya sekuat yang ku bisa.

“Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu,”

Aku mungkin merasa sinting saat mendengar suara lirih Eun Soo dari seberang telepon—dan aku tahu tekanan emosional ini telah sampai pada batasnya hingga aku bisa berkhalusinasi tentang hal-hal yang tak pernah ku pikirkan.

“Aku akan menunggu di cafe Hwangdong,”

Aku mengakhiri panggilan itu dan menghela napas panjang. Tertawa miris dengan semua kenyataan pahit yang harus ku terima.

 

—(midnight romeo)—

 

Aku memperhatikan Latteku yang mulai mendingin. Kemudian mengalihkan pandanganku ke luar jendela dan tersenyum melihat bagaimana keramaian di siang hari hampir membunuh warga Seoul.

“Kau tahu apa yang selalu orang-orang pikirkan tentang Seoul?” aku mengangkat gelas Latteku dan tersenyum miris menatap Eun Soo.

Wanita itu hanya menatapku dengan ekspresi yang tidak terbaca.

“Orang-orang berpikir Seoul adalah neraka, dan ku pikir aku juga sependapat dengan mereka,”

Aku tertawa hambar.

“Cheon Sa,”

Aku bisa melihat genangan air mata di sudut mata wanita itu. Aku hanya diam dan tidak bergeming.

Maafkan aku,

Air mata itu luruh di wajahnya. Ada luka yang tidak bisa ku jelaskan saat mata itu menatap mataku. Aku tidak mengerti—satu-satunya hal yang bisa ku rasakan saat ini adalah serpihan hatiku yang menghilang ditiup angin.

Aku tersenyum lirih.

“Aku tidak tertarik dengan permohonan maaf setengah hati yang diucapkan ibuku,”

Aku tahu itu cukup melukai Eun Soo. Ia menatapku tidak percaya—dia mungkin tidak pernah berpikir bahwa aku bisa mengatakan kata-kata menyedihkan seperti itu, karena selama ini ia selalu menganggapku sebagai putrinya yang tidak berdaya dan harus dienyahkan.

Aku meremas jemariku, menahan semua ledakan emosional yang berada di puncak kepalaku.

“Apa kau menyadari arti ucapanmu? Apa kau menyadari apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kau tahu betapa menderitanya seseorang karena kau telah memperlakukannya seperti sampah?” mataku memandangnya kejam, tapi air mata tetap saja tidak bisa membohongi betapa terlukanya diriku karena permohonan maafnya yang tidak berdasar.

Wanita itu hanya diam dan membiarkan air matanya jatuh. Aku menggigit bibirku kelu.

“Pernahkah kau berpikir bahwa aku ini adalah putrimu? Pernahkah satu kali saja kau menganggap aku adalah anggota keluargamu?”

“Apa itu adil bagiku? Aku melalui banyak hal sendirian dan aku tidak memiliki satu orang pun yang bersedia berdiri bersamaku. Satu-satunya hal yang bisa ku lakukan hanyalah mempertahankan diriku sendiri saat orang lain berusaha mengabaikanku. Aku mencoba melalui semua rasa sakit itu sorang diri dan karena itulah aku bisa duduk berhadapan denganmu saat ini.”

“Bukan kau satu-satunya orang yang menderita di sini, Park Eun Soo,”

Aku berusaha mengumpulkan tingkat kewarasanku, aku berusaha untuk tidak terisak dan membiarkan ledakan emosiku membuat ini semakin buruk.

“Ada banyak orang yang menderita di dunia ini, kau tahu?” aku tersenyum lirih dan memandang ke luar jendela.

“Mereka menderita karena keadaan ekonomi, lingkungan sosial yang kejam dan semua tekanan emosional yang mencekik seluruh sendi kehidupan mereka. Tapi itu tetaplah bukan alasan kau bisa memperlakukan putri yang kau lahirkan dari rahimmu seperti sampah,”

Kata-kataku mungkin menyakitkan, tapi aku tahu inilah hal terbaik yang bisa ku katakan pada ibuku.

”Aku tahu kau ingin menemuiku karena hal ini menyangkut Kim Jong In,”

Wanita itu kembali mendongak dan lagi-lagi menatapku tidak percaya.

“B-bagaimana kau—“

Aku menggigit bibirku dan menarik napas panjang.

“Kau akan menikah dengannya, aku benar kan?”

Aku tidak bisa menahan getaran pada suaraku dan membiarkan hatiku hancur untuk kesekian kalinya. Aku menggenggam jemariku, menundukkan kepalaku sedalam yang ku bisa dan tidak terisak di hadapan Eun Soo.

Dia mungkin heran bagaimana mungkin aku bisa mengetahui hal itu. Dan aku bisa menebak dengan jelas hal itu akan terjadi saat Kim Jong In memberiku undangan pernikahannya. Aku tidak terkejut saat melihat nama si mempelai wanita. Aku hanya tertawa hambar dan menjabat tangan Jong In.

Aku sadar bahwa diriku adalah manusia munafik. Aku bahkan bisa mengucapkan kata selamat padanya dengan wajah tersenyum yang penuh kepalsuan sementara hatiku terluka berdarah-darah.

Selamat,”

Aku tahu diriku benar-benar menyedihkan. Aku bahkan tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk sekedar mengasihani diriku sendiri.

Aku merasakan Eun Soo menarik tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Matanya yang kekanakan dipenuhi oleh air mata dan bibirnya bergetar.

“Ku mohon maafkan aku,”

Aku melepaskan genggaman tangannya dan kembali mengumpulkan seluruh kekuatanku.

“Permintaan maaf itu tidak akan membuat hidupku jauh lebih baik, kau justru membuatku terlihat seperti pecundang payah, kau tahu?”

Sebutlah diriku sebagai manusia sarkastis yang tidak memiliki hati nurani. Aku menyumpahi ibuku, berkata kasar padanya dan sama sekali tidak berusaha terlihat seperti seorang anak yang berbakti. Kenyataannya aku hanya lelah dengan semua keadaan ini. Aku hanya lelah dengan hidupku dan seluruh tekanan emosional ini.

“Kau bahkan tidak mengetahui betapa tersiksanya diriku hanya dengan menyadari keberadaan kalian berdua di hidupku,”

Bagaimanapun juga, terlalu sulit membayangkan pria yang kau cintai selama bertahun-tahun akan menjadi ayahmu. Dan akan terasa begitu menyakitkan saat kau menyadari bahwa ibumu yang telah menghancurkan kehidupanmu telah merebut satu-satunya pria yang paling kau inginkan di hidupmu.

“Tapi kau tahu? Pada akhirnya aku tetaplah seorang pecundang,”

Aku terisak dan memeluk diriku sendiri.

“Menerima kenyataan bahwa pria yang kau cintai akan bersanding dengan ibumu sendiri bukanlah hal yang ku inginkan…”

“Park Cheon Sa—“

“Bagaimana aku harus mempertahankan diriku saat aku telah kehilangan seluruh alasanku untuk hidup?”

Eun Soo beranjak dari kursinya dan berlutut untuk memelukku.

“Maaf, maafkan aku—maafkan aku—“

Aku hanya ingin menyerah dengan hidupku. Aku hanya tidak ingin semakin terluka hanya karena orang-orang yang begitu ku cintai.

Aku hanya merasa ingin lenyap.

Aku tidak tahu ada berapa banyak hal buruk lagi yang akan ku alami. Aku hanya menunggu sebuah hal yang tidak mungkin, bahkan meski saat kematianku telah tiba.

“Ku mohon berhentilah menyakitiku!!!”

Aku menyadari satu tamparan keras yang menghantam pipiku. Saat aku mendongakkan kepalaku, aku bisa melihat Kim Jong In berdiri di sana dengan luapan emosi.

“Berhentilah berteriak pada ibumu!”

Aku tersenyum miris dan menertawai diriku.

“Kau bahkan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada ibumu—“

Aku hanya tidak ingin orang lain menghakimiku tanpa melihat betapa banyaknya hal menyedihkan yang telah ku lalui. Aku hanya tidak ingin dihakimi atas kesalahan yang tidak pernah ku lakukan.

Kim Jong In berdiri di hadapanku. Membela Eun Soo seolah-olah dia telah menonton hidupku selama bertahun-tahun.

“Berhentilah bertingkah seolah-olah kau mengetahui hidupku!!!”

Jong In menahan bahuku, mencengkeramnya kuat hingga aku tidak bisa bergerak. Aku menatapnya marah.

“Eun Soo sedang mengandung! Jadi berhentilah untuk bersikap kekanakan dan egois!!!”

Rasa sesak ini memukul dadaku, mencoba melubangi paru-paruku. Aku berusaha untuk tidak menangis, aku berusaha mengumpulkan seluruh keyakinanku. Tapi semua orang tahu bahwa aku terlalu tidak berdaya.

Ini menyedihkan, bukan?

Bagaimana mungkin aku bisa mempertahankan hidupku di saat aku telah kehilangan seluruh alasanku untuk hidup.

 

TBC

extra quotes: 

Aku mungkin adalah manusia munafik.

Bahkan meski aku tahu segalanya tidak akan berakhir sesuai dengan keinginanku, aku tetap saja menjadi seseorang yang skeptis dan beranggapan bahwa hidupku tidak akan menjadi lebih buruk lagi.

Aku tidak mengerti mengapa segalanya terlihat menyedihkan dari sudut pandangku.

Mengapa aku selalu dihakimi atas kesalahan yang tak pernah ku lakukan?

Apa kesalahanku hingga aku harus hidup dengan menanggung penderitaan ini?

Aku hanya tidak ingin semakin terluka. Aku hanya tidak ingin semakin kecewa dengan semua khayalan konyol yang tidak berdasar itu.

Aku hanya berusaha menyelamatkan diriku sendiri, aku berusaha mempertahankan hidupku dan aku dihakimi untuk seluruh tindakanku–bahkan ketika mereka mengetahui aku tidak mencoba untuk melukai siapa pun.

Apa ini adil untukku?

Mengapa semua orang selalu saja bersikap seolah-olah mereka adalah manusia yang menyedihkan dan tidak berdaya?

Aku hanya tidak ingin berakhir menyedihkan seperti ini.

Love is what silently comes and go

and I’m so scared if I’ll disappear like this. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

59 thoughts on “Midnight Romeo Chapter 6 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

  1. Aaaaa sebel bgt sama sifat kai dia ngak tau apa yg udah di lakuin eunsoo ke cheonsa dan keadaan cheonsa gimana dan dia ngak punya hak juga buat nampat cheonsa
    Cuman berharap nih ff bakal happy end buat cheonsa
    Fighting thor lanjutin lagi nih ff baguuuus banget

    Like

  2. 😭😭😭
    Dari awal aku udah berharap smoga cheonsa dpat sdkit kbhagian dari orang yg brnama kim jong in…
    N now rasanya nyesek mnta ampun..
    Saat tau jong in mau nikah ama eunsoo…
    Dan eunsoo hamil…?
    Cheonsa nggak pantas hdup dengan orng yg nggak pernah peduli tentang skitnya…

    Like

  3. Waaahh baca sampai sini kykx nyesek bgt deh… jongin.. alsi.. pda akhirx dya cm mikirin eun soo sm calon bayi nya..
    Sbnerx yg egois it siapa…
    Bner2 menyebalkan..
    Klw ak blg eunsoo msh syg sm bpkx cheonsa kan..
    Dilanjut donk thor… ceritax bgs…

    Like

  4. Pingback: Midnight Romeo Chapter 7 – JiYoo19 (D.OneDeer19) | Elfsotics19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s