Midnight Romeo Chapter 6 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

midnight romeo 2

 

Aku meremas dadaku, langkahku terhenti di depan gereja yang berada persis di depan subway. Aku hanya menatap gereja itu dan tersenyum lirih.

Harusnya aku menyadari semua kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Harusnya aku tahu betapa pun aku berusaha melarikan diri dari takdir yang tidak adil, semua usahaku tidak akan membuatku menjadi seseorang yang jauh lebih baik.

Ku pikir, semua tekanan emosional ini dapat membunuhku. 

Ini menyedihkan, bukan?

Bagaimana mungkin aku bisa mempertahankan hidupku di saat aku telah kehilangan seluruh alasanku untuk hidup.

No matter how far I reach for you

It just an empty dream.

Then why do I keep needing you when I know I’ll get hurt?

***

PROLOGUE  CHAPTER 1 CHAPTER 2 CHAPTER3 CHAPTER4 CHAPTER5

***

Seoul, 30 Januari 2015.

Ini adalah draft terakhir yang akan ku antar pada Profesor Park untuk melengkapi tugas akhirku. Aku cukup senang karena pada akhirnya salah satu impian terbesarku menjadi semakin dekat. Aku akan segera lulus dari universitas ini dan meninggalkan negara ini bersama dengan seluruh masa laluku yang menyedihkan.

Di akhir musim dingin aku memberanikan diri untuk datang ke ruangan Profesor Park dengan menggenggam seluruh keyakinanku pada draft ini. Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal seputar kehidupanku dan memutuskan untuk fokus pada tugas akhirku. Akhirnya aku bisa sedikit bernapas lega.

Saat aku masuk ke dalam ruangannya, ia terlihat lelah dan tampak sibuk dengan beberapa lembar tugas mahasiswa di mejanya. Ia tersenyum lembut saat melihatku dan mempersilahkanku duduk.

“Terlihat bersemangat untuk mengantarkan tugas akhir, bukankah aku benar?”

Aku hanya tersenyum tipis, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku terlalu lelah bahkan hanya untuk tersenyum.

“Aku hanya ingin menyelesaikannya dengan cepat,”

Profesor Park meraih draft yang ku serahkan padanya dan membaca setiap lembarnya dengan sabar. Ia tersenyum puas saat membaca lembar terakhir dari draftku.

“Kalau begitu, sampai jumpa di upacara kelulusan,” ia kembali tersenyum hingga menampakkan lesung pipinya.

Profesor Park memelukku. Selama 9 bulan aku berada dalam bimbingan Profesor Park, aku telah menganggap Profesor Park seperti ayahku sendiri. Aku merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan seseorang berjiwa besar seperti dirinya, dan aku tidak tahu apakah setelah hari kelulusan tiba aku bisa tetap menemuinya seperti biasa atau tidak.

“Aku tahu kau adalah gadis yang hebat,”

Hal terakhir yang aku inginkan di dunia ini adalah kata pujian yang diucapkan ayahku untukku.

“Terimakasih, Profesor Park,”

Dan aku tahu itu adalah hal yang tidak mungkin akan terjadi.

“Siapapun ayahmu, dia pasti akan bangga memiliki seorang anak yang luar biasa sepertimu, Cheon Sa-ssi.”

Aku pamit dari ruangannya dan Profesor Park mengantarku keluar. Dia mengatakan beberapa pesan sebelum aku pergi. Beberapa diantaranya sudah sering ku dengar dari guru-guruku di masa SMA. Pesan-pesan itu tidak jauh dari pesan untuk memintaku tetap sehat, hidup dengan hati yang bahagia dan selalu mengunjungi mereka kapanpun aku sempat.

Aku cukup tersentuh dengan hal-hal kecil seperti itu. Aku sangat menghargainya.

Kemudian aku melirik jam tanganku, saat aku menyadari ini hampir jam 10 pagi, ponselku tiba-tiba saja berdering dan nama Lu Han terpampang jelas di sana.

“Ada hal yang ingin ku katakan padamu, datanglah ke klinik,”

Sejujurnya nada urgensi pada kata-kata Lu Han sedikit mengganggu pendengaranku. Dia tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara dan menanyakan hal penting macam apa yang harus ku diskusikan di klinik bersama pria menyebalkan itu.

Saat aku tiba di klinik, Lu Han terlihat berantakan dengan jas lab yang tersampir di bahu kirinya. Ada perasaan janggal saat matanya bertemu dengan pandanganku.

Lu Han duduk di depanku, memegang sebuah map yang tidak ku ketahui apa isinya dan tiba-tiba saja menyodorkan map itu padaku.

“Park Cheon Sa,”

Aku sudah pernah mendengar Lu Han memanggil namaku, dia selalu memanggil namaku lengkap-lengkap  dengan intonasi yang kedengaran berbahaya. Tapi aku tak pernah menanggapi hal itu secara serius, aku berusaha terlihat santai dan menganggapinya sebagai seorang teman lama yang hanya ingin bercerita tentang tunangannya yang merepotkan. Tapi aku tahu kali ini tidak akan sama, ada sesuatu yang berbeda dengan ucapan laki-laki itu, dan aku menyadarinya dengan baik.

“Hentikan seluruh kegiatan studimu dan mulailah untuk melakukan perawatan medis secara intensif.”

Sejak dulu Lu Han selalu mengatakan hal yang sama.

Dia selalu menyuruhku untuk melakukan hal yang mustahil untuk ku lakukan. Dan aku selalu berusaha menganggap itu  lelucon murahan yang tidak penting. Kata-kata Lu Han hanya akan berdengung  sesaat di telingaku dan kemudian pergi bersama hembusan angin.

Tapi aku tahu ada sesuatu yang salah.

“Apa maksudmu?”

Lu Han mengeluarkan isi map itu dan kembali membuatku bertanya-tanya.

Lu Han menunjuk paru-paru kiriku dengan pensilnya. Ia menggaruk kepalanya gusar dan menutup wajahnya frustasi.

“Kali ini kau tidak hanya menghadapi pneumonia untuk pertaruhan hidup dan matimu. Tapi kau juga akan menghadapi kanker paru-paru, dan sekarang kau hanya memiliki separuh dari paru-parumu untuk menghabiskan seluruh sisa hidup yang kau miliki.”

Aku mendongakkan kepalaku dan menatap Lu Han dengan pandangan tidak mengerti. Ada sesuatu yang salah saat ia mengucapkan permintaan maaf itu. Sesaat, aku merasa terluka dan merasa lebih buruk dari apa pun di dunia ini.

“Maafkan aku,”

Kanker paru-paru…

“Hentikan omong kosongmu dan berikan resep obat itu,”

Aku tidak mengerti dengan semua ini. Aku tidak mengerti dengan diriku dan aku tidak mengerti mengapa Lu Han berusaha membuat lelucon di saat yang tidak tepat seperti ini.

Satu-satunya hal yang ku sadari adalah air mataku yang menetes di tanganku.

Aku mengambil resep obat yang telah Lu Han tulis dan segera keluar dari ruangannya. Aku berlari sekuat yang ku bisa, menyusuri daerah pertokoan dengan menahan air mataku yang tak bisa berhenti.

Aku meremas dadaku, langkahku terhenti di depan gereja yang berada persis di depan subway. Aku hanya menatap gereja itu dan tersenyum lirih.

Harusnya aku menyadari semua kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Harusnya aku tahu betapa pun aku berusaha melarikan diri dari takdir yang tidak adil, semua usahaku tidak akan membuatku menjadi seseorang yang jauh lebih baik.

Lalu, apa yang bisa ku harapkan dengan menghabiskan seluruh sisa hidupku dengan paru-paru yang hanya tersisa setengah?

Ku pikir, semua tekanan emosional ini bisa membunuhku dan semua orang pasti berpikir begitu.

Aku menepi di salah satu taman yang letaknya tidak jauh dari gereja tua yang akhir-akhir ini sering ku kunjungi. Aku hanya duduk di ayunan dan sesekali mengayunnya dengan kakiku. Aku tersenyum dan mengingat masa kecilku.

Dulu aku sering berkunjung ke taman. Aku selalu berkunjung hampir setiap hari. Aku akan duduk di ayunan dari siang hingga malam hanya untuk membaca buku dan kemudian pulang ke rumah. Saat aku pulang, aku hanya bisa mendengar dentuman musik yang cukup keras dan botol-botol minuman keras yang berserakan di lantai rumah. Tidak akan ada makanan yang tersisa saat aku sampai di rumah. Eun Soo hampir tidak pernah memasak dan hanya memberiku sebuah roti untuk makan di pagi hari. Itu sebabnya aku harus mencari cara untuk menemukan makanan, aku akan melakukan apa saja termasuk mengorek sampah untuk menemukan makanan sisa di salah satu tempat makan, dan begitulah aku berusaha untuk hidup hingga usiaku 12 tahun.

Setelah itu aku memutuskan bekerja di salah satu toko kelontong sebagai petugas bersih-bersih. Aku mulai bekerja saat aku pulang sekolah hingga pukul 8 malam, kemudian aku akan kembali mampir ke taman untuk belajar atau hanya untuk menghabiskan hariku  dengan memandangi langit malam.

Rumah adalah tempat yang ingin ku hindari. Dan sebisa mungkin aku berusaha untuk melarikandiri dari semua hal yang menyangkut rumah dan keluarga.

Aku membenci Eun Soo. Namun di sisi lain hatiku, aku tetap menyayanginya sebagai ibuku.

Maka saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah aku memutuskan untuk hidup sendiri. Aku menyewa sebuah rumah singgah yang disediakan oleh pihak sekolahku untuk para siswa dan sisiwinya. Di sana aku merasa hidupku jauh lebih baik, setidaknya tidak akan ada yang memarahi atau memukulku seperti yang selalu Eun Soo lakukan padaku. Hari-hariku menjadi sangat tenang dan lebih baik—meski tidak selalu, pada akhirnya aku bisa lebih mensyukuri hidupku bahkan hanya dengan menjauh dari rumah dan ibuku.

Aku mulai menyusun semua rencana-rencanaku untuk sepuluh tahun ke depan. Aku ingin masuk ke universitas terbaik di negeri ini dan pergi ke negara lain untuk meninggalkan semua masa laluku yang menyedihkan.

Lalu di sinilah aku sekarang. Berjuang dengan semua rasa sakitku seorang diri.

Apakah ini adil?

Aku tahu sesuatu yang salah sedang terjadi. Aku bahkan menyadari hal itu jauh sebelum aku menyadari apa arti dari sebuah rasa sakit itu sendiri.

Apakah ini akhirnya?

Saat aku sibuk berpikir tentang hidupku, ponselku berdering dan aku bisa melihat nama Eun Soo di layar ponselku. Aku tersenyum sinis.

“Aku sibuk,” aku menjawab panggilan itu tanpa mengucapkan salam dan segera memotongnya dengan cepat. Aku tahu Eun Soo tercekat dari seberang telepon, aku bisa mendengar suara helaan napasnya yang samar.

“Bisa kita bertemu?”

“Apa yang kau inginkan?”

Bahkan hanya mendengar suaranya aku bisa merasakan hatiku jatuh dan hancur berkeping-keping. Aku menggenggam tanganku, meremasnya sekuat yang ku bisa.

“Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu,”

Aku mungkin merasa sinting saat mendengar suara lirih Eun Soo dari seberang telepon—dan aku tahu tekanan emosional ini telah sampai pada batasnya hingga aku bisa berkhalusinasi tentang hal-hal yang tak pernah ku pikirkan.

“Aku akan menunggu di cafe Hwangdong,”

Aku mengakhiri panggilan itu dan menghela napas panjang. Tertawa miris dengan semua kenyataan pahit yang harus ku terima.

 

—(midnight romeo)—

 

Aku memperhatikan Latteku yang mulai mendingin. Kemudian mengalihkan pandanganku ke luar jendela dan tersenyum melihat bagaimana keramaian di siang hari hampir membunuh warga Seoul.

“Kau tahu apa yang selalu orang-orang pikirkan tentang Seoul?” aku mengangkat gelas Latteku dan tersenyum miris menatap Eun Soo.

Wanita itu hanya menatapku dengan ekspresi yang tidak terbaca.

“Orang-orang berpikir Seoul adalah neraka, dan ku pikir aku juga sependapat dengan mereka,”

Aku tertawa hambar.

“Cheon Sa,”

Aku bisa melihat genangan air mata di sudut mata wanita itu. Aku hanya diam dan tidak bergeming.

Maafkan aku,

Air mata itu luruh di wajahnya. Ada luka yang tidak bisa ku jelaskan saat mata itu menatap mataku. Aku tidak mengerti—satu-satunya hal yang bisa ku rasakan saat ini adalah serpihan hatiku yang menghilang ditiup angin.

Aku tersenyum lirih.

“Aku tidak tertarik dengan permohonan maaf setengah hati yang diucapkan ibuku,”

Aku tahu itu cukup melukai Eun Soo. Ia menatapku tidak percaya—dia mungkin tidak pernah berpikir bahwa aku bisa mengatakan kata-kata menyedihkan seperti itu, karena selama ini ia selalu menganggapku sebagai putrinya yang tidak berdaya dan harus dienyahkan.

Aku meremas jemariku, menahan semua ledakan emosional yang berada di puncak kepalaku.

“Apa kau menyadari arti ucapanmu? Apa kau menyadari apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kau tahu betapa menderitanya seseorang karena kau telah memperlakukannya seperti sampah?” mataku memandangnya kejam, tapi air mata tetap saja tidak bisa membohongi betapa terlukanya diriku karena permohonan maafnya yang tidak berdasar.

Wanita itu hanya diam dan membiarkan air matanya jatuh. Aku menggigit bibirku kelu.

“Pernahkah kau berpikir bahwa aku ini adalah putrimu? Pernahkah satu kali saja kau menganggap aku adalah anggota keluargamu?”

“Apa itu adil bagiku? Aku melalui banyak hal sendirian dan aku tidak memiliki satu orang pun yang bersedia berdiri bersamaku. Satu-satunya hal yang bisa ku lakukan hanyalah mempertahankan diriku sendiri saat orang lain berusaha mengabaikanku. Aku mencoba melalui semua rasa sakit itu sorang diri dan karena itulah aku bisa duduk berhadapan denganmu saat ini.”

“Bukan kau satu-satunya orang yang menderita di sini, Park Eun Soo,”

Aku berusaha mengumpulkan tingkat kewarasanku, aku berusaha untuk tidak terisak dan membiarkan ledakan emosiku membuat ini semakin buruk.

“Ada banyak orang yang menderita di dunia ini, kau tahu?” aku tersenyum lirih dan memandang ke luar jendela.

“Mereka menderita karena keadaan ekonomi, lingkungan sosial yang kejam dan semua tekanan emosional yang mencekik seluruh sendi kehidupan mereka. Tapi itu tetaplah bukan alasan kau bisa memperlakukan putri yang kau lahirkan dari rahimmu seperti sampah,”

Kata-kataku mungkin menyakitkan, tapi aku tahu inilah hal terbaik yang bisa ku katakan pada ibuku.

”Aku tahu kau ingin menemuiku karena hal ini menyangkut Kim Jong In,”

Wanita itu kembali mendongak dan lagi-lagi menatapku tidak percaya.

“B-bagaimana kau—“

Aku menggigit bibirku dan menarik napas panjang.

“Kau akan menikah dengannya, aku benar kan?”

Aku tidak bisa menahan getaran pada suaraku dan membiarkan hatiku hancur untuk kesekian kalinya. Aku menggenggam jemariku, menundukkan kepalaku sedalam yang ku bisa dan tidak terisak di hadapan Eun Soo.

Dia mungkin heran bagaimana mungkin aku bisa mengetahui hal itu. Dan aku bisa menebak dengan jelas hal itu akan terjadi saat Kim Jong In memberiku undangan pernikahannya. Aku tidak terkejut saat melihat nama si mempelai wanita. Aku hanya tertawa hambar dan menjabat tangan Jong In.

Aku sadar bahwa diriku adalah manusia munafik. Aku bahkan bisa mengucapkan kata selamat padanya dengan wajah tersenyum yang penuh kepalsuan sementara hatiku terluka berdarah-darah.

Selamat,”

Aku tahu diriku benar-benar menyedihkan. Aku bahkan tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk sekedar mengasihani diriku sendiri.

Aku merasakan Eun Soo menarik tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Matanya yang kekanakan dipenuhi oleh air mata dan bibirnya bergetar.

“Ku mohon maafkan aku,”

Aku melepaskan genggaman tangannya dan kembali mengumpulkan seluruh kekuatanku.

“Permintaan maaf itu tidak akan membuat hidupku jauh lebih baik, kau justru membuatku terlihat seperti pecundang payah, kau tahu?”

Sebutlah diriku sebagai manusia sarkastis yang tidak memiliki hati nurani. Aku menyumpahi ibuku, berkata kasar padanya dan sama sekali tidak berusaha terlihat seperti seorang anak yang berbakti. Kenyataannya aku hanya lelah dengan semua keadaan ini. Aku hanya lelah dengan hidupku dan seluruh tekanan emosional ini.

“Kau bahkan tidak mengetahui betapa tersiksanya diriku hanya dengan menyadari keberadaan kalian berdua di hidupku,”

Bagaimanapun juga, terlalu sulit membayangkan pria yang kau cintai selama bertahun-tahun akan menjadi ayahmu. Dan akan terasa begitu menyakitkan saat kau menyadari bahwa ibumu yang telah menghancurkan kehidupanmu telah merebut satu-satunya pria yang paling kau inginkan di hidupmu.

“Tapi kau tahu? Pada akhirnya aku tetaplah seorang pecundang,”

Aku terisak dan memeluk diriku sendiri.

“Menerima kenyataan bahwa pria yang kau cintai akan bersanding dengan ibumu sendiri bukanlah hal yang ku inginkan…”

“Park Cheon Sa—“

“Bagaimana aku harus mempertahankan diriku saat aku telah kehilangan seluruh alasanku untuk hidup?”

Eun Soo beranjak dari kursinya dan berlutut untuk memelukku.

“Maaf, maafkan aku—maafkan aku—“

Aku hanya ingin menyerah dengan hidupku. Aku hanya tidak ingin semakin terluka hanya karena orang-orang yang begitu ku cintai.

Aku hanya merasa ingin lenyap.

Aku tidak tahu ada berapa banyak hal buruk lagi yang akan ku alami. Aku hanya menunggu sebuah hal yang tidak mungkin, bahkan meski saat kematianku telah tiba.

“Ku mohon berhentilah menyakitiku!!!”

Aku menyadari satu tamparan keras yang menghantam pipiku. Saat aku mendongakkan kepalaku, aku bisa melihat Kim Jong In berdiri di sana dengan luapan emosi.

“Berhentilah berteriak pada ibumu!”

Aku tersenyum miris dan menertawai diriku.

“Kau bahkan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada ibumu—“

Aku hanya tidak ingin orang lain menghakimiku tanpa melihat betapa banyaknya hal menyedihkan yang telah ku lalui. Aku hanya tidak ingin dihakimi atas kesalahan yang tidak pernah ku lakukan.

Kim Jong In berdiri di hadapanku. Membela Eun Soo seolah-olah dia telah menonton hidupku selama bertahun-tahun.

“Berhentilah bertingkah seolah-olah kau mengetahui hidupku!!!”

Jong In menahan bahuku, mencengkeramnya kuat hingga aku tidak bisa bergerak. Aku menatapnya marah.

“Eun Soo sedang mengandung! Jadi berhentilah untuk bersikap kekanakan dan egois!!!”

Rasa sesak ini memukul dadaku, mencoba melubangi paru-paruku. Aku berusaha untuk tidak menangis, aku berusaha mengumpulkan seluruh keyakinanku. Tapi semua orang tahu bahwa aku terlalu tidak berdaya.

Ini menyedihkan, bukan?

Bagaimana mungkin aku bisa mempertahankan hidupku di saat aku telah kehilangan seluruh alasanku untuk hidup.

 

TBC

extra quotes: 

Aku mungkin adalah manusia munafik.

Bahkan meski aku tahu segalanya tidak akan berakhir sesuai dengan keinginanku, aku tetap saja menjadi seseorang yang skeptis dan beranggapan bahwa hidupku tidak akan menjadi lebih buruk lagi.

Aku tidak mengerti mengapa segalanya terlihat menyedihkan dari sudut pandangku.

Mengapa aku selalu dihakimi atas kesalahan yang tak pernah ku lakukan?

Apa kesalahanku hingga aku harus hidup dengan menanggung penderitaan ini?

Aku hanya tidak ingin semakin terluka. Aku hanya tidak ingin semakin kecewa dengan semua khayalan konyol yang tidak berdasar itu.

Aku hanya berusaha menyelamatkan diriku sendiri, aku berusaha mempertahankan hidupku dan aku dihakimi untuk seluruh tindakanku–bahkan ketika mereka mengetahui aku tidak mencoba untuk melukai siapa pun.

Apa ini adil untukku?

Mengapa semua orang selalu saja bersikap seolah-olah mereka adalah manusia yang menyedihkan dan tidak berdaya?

Aku hanya tidak ingin berakhir menyedihkan seperti ini.

Love is what silently comes and go

and I’m so scared if I’ll disappear like this. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

59 thoughts on “Midnight Romeo Chapter 6 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

  1. It’s been awhile.. Tp untungnya aku tidak sepenuhnya lupa dg cerita ini 😊
    Seperti biasa, gaya bahasanya sll indah Dan ceritanya sll membuat pembaca penasaran dan ingin segera mengetahui kelanjutannya 🙂
    miris dg kehidupan yg d alami cheon sa, bahkan d saat terberatnya tak ada yg mendampinginya..
    2 org tercintanya malah mjd sumber penderitaan batin yg dy alami..
    Well, I wish to read the next story soon 🙂
    Good luck!

    Liked by 1 person

  2. ah selalu ya, bahasamu bikin aku ikut terbuai sama cerita. ya ampun, aku iri pengen bs nulis kayak kamu hihii
    aku dukung cheon sa buat mati *lah
    ya bukan apa2 sih, dari pada dia hidup di sakitin mulu. sebenernya yg egois disini siapa? cheon sa atau jongin sama ibunya? mereka minta di mengerti tp mereka sendiri ga bisa ngertiin perasaannya cheon sa heuheu
    lagian hidup dia jg ga bakal lama lagi lah karena penyakitnya itu. udahlah cheon sa tinggalin aja semua orang2 di masa lalu. mending idup sendiri biar pun kesepian senggaknya bs lebih baik.

    Like

  3. sumpah aku emosi banget sama jongin eunso yg giniin cheonsa, seolah2 hanya mereka yg ngerti keadaan cheonsa, udah kalo kayak gini mah pasti gak ada harapan lagi buat cheonsa bertahan, paling enggak dia nerima keadaan kalo dia bakalan mati

    Like

  4. lihat kamu update chapter terbaru ini langsung jingkrak2 girang, yeps finally akhirnya di lanjut *tebar confetti*
    mau misuh semisuh misuhnya boleh gak?! terus mau jambak rambut jongin sambil tereak, “WOY! DASAR KAMBING EMANG!!” terus nangis di lantai.
    apa sih ini kan cuma ff kenapa sebaper ini sih-,-
    yawllah, beneran kaget gak terima apa sih nikah2 gitu terus taunya hamil, aing kudu kumaha ieu?????
    huhuhuhuu,
    sejahat itu dunia padamu Mbak cheon saa….
    well tapi tetep terus ditunggu chapter selanjutnya… ^^

    Like

  5. lihat kamu update chapter terbaru ini langsung jingkrak2 girang, yeps finally akhirnya di lanjut *tebar confetti*
    mau misuh semisuh misuhnya boleh gak?! terus mau jambak rambut jongin sambil tereak, “WOY! DASAR KAMBING EMANG!!” terus nangis di lantai.
    apa sih ini kan cuma ff kenapa sebaper ini sih-,-
    yawllah, beneran kaget gak terima apa sih nikah2 gitu terus taunya hamil, aing kudu kumaha ieu?????
    huhuhuhuu,
    sejahat itu dunia padamu Mbak cheon saa….
    well tapi tetep terus ditunggu chapter selanjutnya… ^^

    Like

  6. aku baper parah bacanya seriusan. ga sanggup bayangin jadi si cheonsa, berasa pengen mati cepet aja :’ D emosinya dapet banget kak! sukaaaaa, nusuk banget wkwkwk ; u ; keep writing ya~ ditunggi chapter selanjutnyaa. fighting^^)9

    Liked by 1 person

  7. Kira-kira ibunya cheonsa hamil anak siapa ya kak? masa sih anaknya Jong In? Kalo aku jadi Cheonsa beneran aku kabur keluar negri. bodoamad dah sama si kaitem hihihi^^
    btw, kenapa Luhan terlihat dewasa sekali di situ? biasanya di superpervert dan childish, terpesona aku sama ke manly-annya kekeke^^

    Like

  8. My new id
    Liat kamu update lagi ff ini hatiku bener2 bahagia…
    Setelah dibaca…
    Guweh malah speechlezz…
    Sumpah…baper akut…
    Jongin asdfjghkl…hufttt…
    Pen nangis…
    Makasi kaka author udah mau update… i hope you can post next chap soon..

    Like

  9. Sakit kak sakittt… ga punya muka bgt si eun soo mak ga tau diri bgt. Aku kecewa bgt ma jongin, kamu kek gtu karna ga pernah tau hidup cheonsa selama ini- malah pngen hajar jongin jdnya kann 😥 mewek dulu- biarin aja. Cheonsa kamu hrs kuat, lepasin jongin, biarin dia nikah sama eun soo biarin aja… Doain aja idupnya ga pernah tentram. Kamu hrs sembuh cheonsa dan cari cinta sejati mu… Aku dkung kalo kamu lupain jongin, trs hdp bhgia ma cnta masa depan mu Hiks Hiks gakuku…

    Like

  10. Sakit kak sakittt… ga punya muka bgt si eun soo mak ga tau diri bgt. Aku kecewa bgt ma jongin, kamu kek gtu karna ga pernah tau hidup cheonsa selama ini- malah pngen hajar jongin jdnya kann 😥 mewek dulu-

    Liked by 1 person

  11. 😭😭😭😭😭😭 cheonsa memang wanita yg strong yaa..untung iman ny kuat bnget,, gw aja kebawa emosi baca ny.. kebayang deh rasa nya jadi cheonsa..
    Thank vi..

    Like

  12. 😭😭😭😭😭😭 cheonsa memang wanita yg strong yaa..untung iman ny kuat bnget,, gw aja kebawa emosi baca ny.. kebayang deh rasa nya jadi cheonsa..😭😭😭
    Thank vi..

    Like

  13. Tentu itu tidak adil.

    Kau hanya sedang berusaha untuk bertahan hidup dan mencoba menjalaninya dengan berpikir bahwa sesuatu yang paling buruk tidak akan pernah terjadi.

    Tapi begitulah kau hidup, pada dasarnya menjadi orang munafik itu tidak salah. Hanya mencoba lari dari kenyataan yang menyakitkan, dan itu normal saja bagi manusia biasa.

    Setidaknya kau mempertahankan hidupmu dengan ketidak adilan sekalipun.

    Lalu bagaimana jika alasanmu untuk mempertahankan hidupmu sudah tidak ada? Kalau begitu cari saja keadilan yang belum kau dapatkan sebelum hidupmu menjadi sia-sia..

    Pft! Itu pasti akan sangat sulit, benar kan?

    Like

  14. Aku baru baca ini. Dan aku baru tau kalau ini sudah update.
    Aku tidak tahu harus menulis apa aku bingung, sungguh. Oh sht kenapa menjadi cheonsa itu sangat menyedihkan selalu menderita seperti tuhan tak sayang padanya saja. Eunsoo ibu paling kejam tak punya hati nurani pada anaknya sendiri.. jika ia sudah tau bahwa anaknya itu amat sangat mencintai jongin seharusnya ia menjauh dan membenci jongin dan merelakannya untuk anaknya. Dan sekarang apa hamil? Anak jongin? Demi apapun, sungguh ibu brngsk sekali dia. Ah tau deh aku beneran bingung harus nulis komentar yang seperti apalagi. Cepet di lanjut ya, padahal aku berharap jongin bisa mencintai cheonsa lebih tulus dari cintanya pada eunsoo, gila. Semangat author

    Like

  15. kesian sama cheonsa gondok banget ngeliat si eunsoo ada aja ibu kelakuannya sejahat itu sm anak nya seharusnya kalo udah tau cheonsa suka sm jongin rela in kek ini mana gak mau ngalah ibu macem apaan sih wkwkw/kebawa emosi/ ahh pokonya keren banget lah ceritanya beda dari yang lain

    Liked by 1 person

  16. Plot nya emang bikin baper maksimal keren banget, sampe kesel sama sedih kenapa cheonsa gini banget idupnya, emang ya orang tuh cuman bisa komentar apa yang dilihatnya tanpa mau tau yang sebenarnya. seneng banget akhirnya kaka balik lagi sama cerita ini semoga lancar terus ya ka ceritanya ditunggu kelanjutannya, semoga hidup cheonsa bakalan bahagia dan mendapatkan keadilan hehee

    Like

  17. uugghh merinding bacanya..
    kesel, marah, sakitt bgt rasanya tau ga sih…
    choensa mending km buru2 mati aja deh dr pada menderita terusss hik hik 😂
    eun soo dan jongin ih bener2 keterlaluan, g punya hati dan so ngerasa paling menderita sedunia. padahal lebih parah mana hidup meraka sm choensa.. ihhkk kesel bgt sm jongin.. sadar dong jong choensa tuh cinta bgt sm lo melebihi cinta eun soo ke lo.. . akh jadi emosi saya #banting hp.. #hahha
    ok d tunggu nextnya ya saeng 😉

    Like

  18. Cheon sa itu istimewa bget ya,, sabar nya keterlaluan, jadi sebel sama mama nya, tapi paling gedek sama jong in. Gak tau apa apa llu main tampar aja (tampar blik aja cheon sa). Baper parah bacanya, berharap chein sa bahagia walau sebentar. keep writing and fightiiiiiiiiiinnnnggggg

    Like

  19. nohh kan.. makin parah penderitaannya cheonsa.. unghhh sedihh… itu ibunya hamil.. dan mereka mau nikah.. kasihan cheonsa.. mana dia sakit lg.. pokoknya suka ff ini… gaya bahasanya keren kak.. next chap aku tunggu lohh fighting…

    Like

  20. Well, Jongin tau Cheonsa anaknya Eunsoo. Complicated! Ugh! Aku kesel sama Jongin, kesel sama Eunsoo tapi juga gak bs nyalahin mereka. Eunsoo punya sesuatu yg sulit yg bm diungkapin semua sampe chapter 6 ini agaknya, dan itu masalahnya. Apa nanti Cheonsa bakal bisa nerima ibunya nikah sama jongin. apa kabar hatinya? Astaga.. hurt!

    Like

  21. Siaall ini keren banget, angt nya luar biasa dapet bgt.
    Aigo miris bgt hidup nya cheon sa, dari masalalunya nya miris bgt, makan ajh ngambil dri sisasisa sampah. Kalo bgini mulu hiduo cheonsa mending dia hidup tenang dan damai ajah lah/? Kesian jg udh disakitin luar dalem.
    jongiin ngeselin jg ya lu baru dtg gak tau apa apa pen nampar aja, jongin lu nikahin emak emak ampuuun, itu anak yg dikandung eunsoo anak jongin ato????? Molla saya baru baca ini btw IZIN BACA YA AUTHOR
    ijin liat fanfict laen yaaa
    Fightingg thor

    Like

  22. Huuweeeeeeeeeeh 😭😱 nyesek thoooor 😩😭 kasian bgt cheonsa…..Udh sakit paru”, orng yg di cintainya mau nikah sama IBU.nya lagi sekali lagi IBU.nya….Weeeeeh coba.an apa ini than…??? kai tega bgt sih demi eun soo dia nmpar cheonsa dan knpa eun soo minta maaf ke cheonsa dia pxa niat jhat atau emng bneran tulus….??? haduuuuuh pnsaran tngkat akut….Cepet di next ya…..aq akan setia nungguin Ff ini update lagi….😊 Cepet di next yakk….😁😍😘

    Like

  23. Sumpah aku terbawa emosi bacanya entah siapa yg lebih menyedihkan yg jelas mereka berdua tersakiti..
    Apakah eun soo hamil anak jongin ??
    OMG apakah jongin benar” suka sma eun soo ??

    Jadi nanti cheon sa sama siapa dong ?

    Like

  24. Bacanya sampai emosi banget. marah, sedih, semuanya campur aduk. hebat banget sih kakak bisa nulis kayak gini. berbakat jadi penulis buku, kalau kakak nulis buku pasti bakalan laku banget.
    FFnya pasti akan selalu kutunggu, jadi kakak cepat post episode selanjudnya yah! Jangan sampai aku sampai mati penasaran(lebay).

    Like

  25. Maaf kak baru coment
    Ya ampun nyesek bget bacanya sumpah sedih banget,cheonsa sabar ya aku tau itu menyakitkan
    Tetap semangat thor nulis nya next ya thor aku tunggu

    Like

  26. Udah agak lupa sama cerita ini tapi untungnya masih inget dikit. Selalu memukau dan bikin nangis walau nggak sepanjang fanfic lain. Selalu keren. Tulisannya aku beber-bener suka. Tolong tetep lanjutin fanfic ini please.
    Thanks 🙂
    Mangat yaaa!

    Like

  27. Ff ini tuh bikin para readersnya jadi ngerasain gimana rasanya jadi cheonsa. Kek, feelnya dapet, seakan akan kita yng ada di posisi cheonsa. And……
    Si jongin emang fxxk boy banget lah. Sumpahhh, kesel banget. Kek…. Kenapa dia sukanya sama perempuan yg punya anak satu dan si anak itu udah mau lulus dari sekolahnya. Kek… Gak habis pikir gitu. Dan aku sedih liat cheonsa, dia salah apa sih? Hidupnya kok gitu amat. Sakit, dikhianati ibunya, dikhianati orang yg dia sukai, berjuang hidup sendiri, dan orang orang tu kek nobody cares mau dia hidup atau enggak. Thanks to luhan dan profesor park udah mau care sama si cheonsa. /baper alert/

    maaf maaf nih kalo komennya panjang banget, soalnya gondok banget sama si jongeen, dan cara melampiaskannya ya di komen. Daebak banget lah ni ff, well sebenernya semua ff kakak keren dan bagus semua, gak heran sih. next chapter sangat sangat ditunggu

    Like

  28. Ceritanya keren. Sekalih , feel nya dapet di setiap part . bahasa ,tulisan juga rapi bangt berasa baca novel . Fighting unn untuk part selanjutnya

    Like

  29. Aku reader baru nih, lagi buka2 page ini ehh nemu ff ini belum baca part sebelumnya tapi ak udah suka banget. Gaya bahasanya keren. Ceritanya juga bikin bener2 baper. Author jjang!!

    Like

  30. Aku reader baru di page ini pas buka page ini ehh ketemu ff ini langsung aku baca deh langsung part ini bukan part 1 hehe, walopun pertamanya aku bingung kan belom baca dari awal tapi seriusan ffnya keren bikin baper

    Like

  31. saya rasa saya jadi masokism, saya sakit hati tiap karakternya disiksa kaya gitu, tapi tetep saya baca sampe akhir chap. bagaimana ini author, saya malah semakin penasaran sama ceritanya kamu..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s