My Crossdresser Husband Chapter 1 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

my crossdresser husband_副本

Bagi Hyun Jo, hal tergila di hidupnya adalah menikahi manusia jadi-jadian seperti Lu Han.

Dan hal lain yang membuatnya gila adalah suaminya yang terlihat jauh lebih cantik dari dirinya sendiri.

Hyun Jo merasa terhina.

Tapi apa yang bisa Hyun Jo lakukan saat dirinya harus menerima kenyataan bahwa ia telah menikahi seorang cosplayer sinting?

**

PRAKATA

**

PAGE 1

-KU PIKIR INI PERTANDA MIMPI BURUK-

Dilihat dari segi manapun, Park Hyun Jo sama sekali tidak menarik. Terlebih lagi, dia tidak punya daya tarik sebagai seorang wanita. Kehidupannya juga benar-benar payah dan membosankan.

Untuk beberapa alasan yang tidak bisa Hyun Jo jelaskan, wanita itu berdalih kalau memikat pria bukanlah keahliannya.

“Baiklah, sepertinya kita hanya punya ramyun,” Hyun Jo mengangkat dua cup ramyun instan itu dengan kedua tangannya, wajahnya benar-benar terlihat hambar dan sama sekali tidak menggairahkan.

Lu Han yang baru saja duduk di ruang makan menatap Hyun Jo dengan benci. Dahinya berlipat-lipat dan membuat wajahnya tampak kusut.

“Nah, sekarang kau benar-benar terlihat tidak berguna,” hardiknya kesal. Lu Han pergi menuju wastafel dan mencuci wajahnya.

Hyun Jo melotot. Apa tadi katanya? Tidak berguna?

“Oke, begini saja. Aku memang tidak berguna dan kau sama sekali tidak bisa memberiku keuntungan. Jadi, bagaimana kalau kau mulai menandatangani surat perceraian itu?”

Lu Han menatap Hyun Jo dengan alis terangkat sebelah, kemudian laki-laki itu mendengus, “Tidak, terimakasih. Terus terang saja, aku bukan tipikal orang berpikiran pendek sepertimu yang hanya menginginkan tanda tangan di atas surat perceraian untuk mengakhiri pernikahan konyol ini.”

Tentu saja Lu Han yang sudah berusia hampir 30 tahun ini bisa berpikir dan bertindak jauh lebih bijak sana dibandingkan Hyun Jo yang hanya seorang remaja serampangan berusia 17 tahun. Biarpun mereka adalah pasangan suami istri yang sedang melewati masa-masa manisnya pernikahan, hal itu justru terdengar kurang nyaman didengar karena pernikahan ini terjadi akibat keputusan sepihak keluarga mereka. Hyun Jo merasa haknya sebagai seorang remaja tiba-tiba saja dirampas. Apapun hal mengerikan yang terjadi saat itu, menerima kenyataan bahwa dirinya akan menikahi seorang pria tua yang kurang normal (meski dia tahu Lu Han terbilang tampan dan awet muda untuk pria seusianya) tetap saja itu bukan hal yang menyenangkan.

Dan akan sangat memalukan jika teman-teman kuliahnya mengetahui pernikahan ini. Meski Hyun Jo tahu bangku perkuliahan melegalkan mahasiswa maupun mahasiswinya untuk menikah, tetapi hal itu hanya akan menimbulkan spekulasi miring mengenai dirinya.

“Kau memang tidak mengerti, Lu Han,”

“Tentu saja aku mengerti,” Lu Han menuangkan air mineral itu ke dalam gelasnya. Kemudian laki-laki itu mengangkat kepalanya, “ Kau malu kan atas pernikahan ini? Menikahi seorang pria tua yang lucunya jauh lebih cantik dari dirimu sendiri?” Pria yang baru saja melewatkan ulang tahunnya yang ke 30 pada April mendatang itu tersenyum mengejek pada Hyun Jo. Seakan-akan mengetahui apa yang akan Hyun Jo katakan setelah ini.

Hyun Jo menahan napasnya, gadis itu merasa kesal sekaligus malu. Ini bukan pertama kalinya Lu Han mengejeknya, dan seakan-akan berusaha mempertegas kenyataan itu, Lu Han selalu mengatakan bahwa Hyun Jo benar-benar telah menjadi wanita yang gagal.

Melihat ekspresi di wajah Hyun Jo membuat Lu Han semakin memperlebar seringaiannya.

“Kenapa? Aku benar, bukan?” laki-laki itu tertawa. Lu Han menikmatinya, melihat wajah Hyun Jo yang merah padam karena menahan amarah adalah sesuatu yang telah ia perkirakan—dan beruntungnya ia bisa mendapatkan respon yang ia harapkan. Benar-benar khas remaja.

Well, begini. Aku—dilihat dari sisi manapun memang tidak memiliki daya tarik. Dan aku juga mengerti kalau diriku bukanlah sesuatu yang bisa dibandingkan dengan dirimu.” Gadis itu mendengus dan mengalihkan tatapannya ke arah lain. “Semua orang selalu mengatakan hal yang sama—aku jelek, tidak menarik dan yang lebih menyedihkan aku harus menjalani kehidupan yang sangat tidak adil ini.” Hyun Jo menghembuskan napasnya dengan gusar. Ia duduk di depan Lu Han dan menopang wajahnya.

“Tapi kau tahu, aku tidak pernah menyesali apapun yang telah terjadi di hidupku.”

Lu Han tersenyum.

“Termasuk pernikahan ini?”

Hyun Jo menelungkupkan wajahnya di atas meja, “Sayangnya iya.”

Kali ini Lu Han tidak bisa menahan tawanya—keluguan Hyun Jo benar-benar membuatnya geli. Tidak bisa dibayangkan jika pria tua sepertinya telah menikahi gadis dibawah umur yang bahkan masih mensyukuri hal yang selalu ia keluhkan.

“Oh, Ya Tuhan… ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang sepertimu.”

Hyun Jo mengangkat kepalanya.

“Begini—kau terlihat senang, kau menertawaiku dan aku tidak tahu ada maksud apa dibalik tertawaanmu itu.”

Lu Han menatap Hyun Jo, masih dengan senyumannya yang menenangkan. Tangannya secara spontan menjulur ke arah gadis itu, dalam hitungan detik telah mengusap rambutnya dengan lembut. Hal itu membuat Hyun Jo terperangah, dia menatap Lu Han dengan mulut yang setengah menganga.

“Kalau kau mau tahu, tentu saja aku punya maksud baik dibalik tertawaanku itu.”

“Oh ya? Masa?”

“Kau tidak percaya ya?”

Hyun Jo menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap Lu Han sengit, “Mana bisa aku mempercayai pria tua yang sudah mengataiku tidak berguna.” Ujarnya.

Kali ini tawa Lu Han hampir meledak, tapi ia bisa dengan cepat mengontrolnya. Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan menuju pantry, melihat sesuatu yang masih tersisa di sana. Hyun Jo hanya memandangi punggung Lu Han dengan bosan.

“Baiklah, sepertinya aku harus mulai memasak atau kau bisa terlambat ke kampus.” Lu Han melirik jam dinding yang berada di sebelah kulkas.

“Tapi kau akan masak apa? Bukannya kita hanya punya ramyun?” tanya gadis itu.

Lu Han masih sibuk mencari sesuatu di pantry, mengabaikan Hyun Jo dan ramyunnya di atas meja. Selama beberapa saat, akhirnya Lu Han bisa menemukan sebutir telur yang tersembunyi dibalik bungkus keripik kentang.

“Sepertinya aku akan sarapan diluar,” ujarnya.

Hyun Jo menoleh.

“Eh?”

Lu Han berbalik dan memengang sebutir telur yang baru saja ia temukan.

“Ini tidak akan cukup untuk kita berdua.”

Hyun Jo menatap telur itu putus asa, dan sedikit banyak ia juga merasa tak enak hati pada Lu Han.

“Kalau kau mau kita bisa membaginya, kok.”

Lu Han menggeleng.

“Tidak, tidak, aku akan makan di luar saja.”

Pria itu mulai menurunkan penggorengan dan mengoleskan margarin di atasnya sebelum menyalakan kompor. Hyun Jo hanya dapat menghela napas berat. Tapi melihat betapa cekatannya Lu Han memasak, hal itu membuat perasaan Hyun Jo tenang sekaligus berdebar-debar. Ini pertama kalinya Lu Han memasak untuknya—dan itu membuatnya tersentuh.

Hyun Jo ingat selama menjalani pernikahan ini, mereka hampir selalu bertengkar. Mereka bahkan tidak pernah ngobrol sepanjang ini kecuali saat adu mulut satu sama lain. Tapi di sisi lain, Hyun Jo tahu jika Lu Han adalah pria yang baik, terlepas betapa anehnya orang itu di kehidupan sehari-hari. Dia juga tipe pria yang gampang mengkhawatirkan hal-hal kecil, terutama jika Hyun Jo pulang terlambat sehabis kuliah—dia akan mulai berceramah soal etika seorang gadis yang tidak baik pulang larut malam, padahal saat itu jam baru menunjukkan pukul sembilan malam. Hyun Jo tahu itu bahkan lebih dari apa yang pernah dilakukan ibunya, dia tidak pernah diceramahi mengenai pola makan atau penampilan sebelumnya. Setidaknya, ibunya tidak pernah memperhatikan hal-hal remeh seperti apa yang Lu Han lakukan padanya.

“Pastikan kau mencuci piringmu setelah makan,” Lu Han meletakkan telur mata sapi itu di atas meja. Kemudian menyodorkan semangkuk kecil nasi yang baru saja diambilnya pada Hyun Jo.

“Aku akan mencucinya,”

“Itu bagus.” Lu Han tersenyum. Pria itu mulai membereskan sampah-sampah yang berserakan di atas pantry, meninggalkan Hyun Jo di ruang makan bersama sarapan paginya.

Hyun Jo menatap telur mata sapi itu kagum.

Meski Lu Han adalah orang yang menyebalkan dan seenaknya sendiri, dia tetap saja merasa perlu untuk mengucapkan terimakasih dengan layak, paling tidak sebagai rekan tinggal serumah.

 

 

–Cross(x)Dresser—

 

“Hari Minggu ini, pastikan kau datang ke flat Kyung Soo, oke? Kita harus menyerahkan rancangan ini pada Profesor Jang secepatnya.”

“Hm…”

“Jangan hanya ‘hm…’ kau mengerti atau tidak?” Zi Tao sedikit menggebrak meja kafetaria, membuat Hyun Jo yang mengerjakan sketsa untuk majalah bulanan komik mengangkat alisnya.

“Aku mengerti. Sangat.”

“Dan pastikan kau tidak datang terlambat,”

“Tidak akan.”

“Aku tidak akan menerima alasan apapun—termasuk soal suamimu itu.”

Hyun Jo meletakkan pensilnya di atas meja, tatapannya tajam dan lurus. Memang bukan hal yang menyenangkan saat sahabatmu tiba-tiba marah dan membahas suamimu yang menyebalkan—terutama jika kau masih dalam mode bekerja. Terlebih lagi deadline yang tidak bisa menunggu sementara editor di tempatmu bekerja adalah tipe manusia yang sudah melupakan prikemanusiaannya.

“Oke, oke, aku mengerti.”

Tapi tentu saja Hyun Jo  tidak meledakkan emosinya begitu saja. Dia tidak sebodoh itu.

Dan membuat keributan di kafetaria serta membocorkan rahasia memilukannya adalah hal terakhir yang akan ia lakukan di sisa hidupnya.

“Oh ya, setelah ini kita ada kelas dengan Profesor Jeon,” Zi Tao menyandang tas dan mendekap beberapa bukunya. Dia sudah bersiap-siap untuk pergi ke perpustakaan karena harus mengembalikan buku.

“Oh ya? Di ruang apa?”

“Matematika, pukul dua siang dan kau tidak boleh telat. Kalau kau terlambat dia bersumpah akan memotong poinmu.”

Setelah memperingatkan Hyun Jo, Zi Tao pun pergi. Gadis itu menghela napas berat—kedengaran mengkhawatirkan seperti baru saja mendengar kalau rumahnya hanyut diterjang ombak besar.

Hyun Jo menatap sketsa gambarnya. Dia mendengus.

“Benar-benar seburuk rupamu,”

Itu suara Lu Han.

“Oh ya?”

Hyun Jo merasa tersinggung.

Wanita itu menoleh dan mendapati Lu Han dengan penampilan wanitanya.

“Ada perlu apa?”

Lu Han memakai blus putih dengan rok hitam yang membentuk pinggulnya. Untuk beberapa saat Hyun Jo  terdiam, meragukan orientasi seksualnya.

Benar-benar terlihat sangat wanita.

Pria itu duduk di hadapan Hyun Jo, beberapa tatapan lapar dari mahasiswa di kafetaria menusuk punggung Lu Han. Gadis itu menyadarinya sejak awal, dan tentu saja itu sangat mengganggu.

Bagaimanapun juga, tidak ada sisi menyenangkan yang bisa kau dapat saat kau melihat suamimu yang cantik ditatap oleh pria lain seakan-akan dia adalah bidadari yang tiba-tiba tersesat di dunia.

“Aku menjemputmu.”

Alis Hyun Jo mengerut. Matanya berkilat emosi.

“Aku bisa pulang sendiri. Dan aku selalu pulang sendiri.”

“Tapi sekarang tidak.”

Hyun Jo benci berdebat, dan Lu Han selalu tahu bagaimana membuat Hyun Jo semakin membencinya.

“Aku benci kau, Lu Han,”

“Terimakasih dan tidak usah repot-repot untuk mencintaiku,”

“Tolong jangan salah paham,” nada bicara Hyun Jo naik satu oktaf. Kalau dia berteriak sedikit saja lebih keras, dia bisa mengundang perhatian pengunjung kafetaria dan kembali berakhir menyedihkan. Dia tak mau itu. Tidak, tidak mau.

Tapi Lu Han adalah pengecualian yang lain. Pria ini mengganggu. Dia berbahaya. Dia seperti iblis yang muncul tiba-tiba.

Hyun Jo tidak ingin orang lain salah paham dan mengira bahwa mereka adalah pasangan lesbian—ini adalah bagian paling buruk dari seluruh kejadian buruk yang menimpanya.

“Tentu saja tidak. Tidak, sampai kau menyadari betapa mengagumkannya aku untuk gadis menyedihkan sepertimu.” Ujar Lu Han. Nada bicaranya menyebalkan.

Hyun Jo menyimpan buku sketsa dan alat tulisnya ke dalam tas. Moodnya bahkan menjadi semakin buruk saat Lu Han muncul. Sebaiknya dia segera menelepon Tiffany setelah sampai di apartemen, dia butuh beberapa hari tambahan untuk sketsa-sketsanya. Dengan konsentrasi yang terpecah, mustahil baginya untuk menyelesaikan sketsa tepat pada waktunya—dan membayangkan betapa kejamnya kata-kata Tiffany di telepon nanti membuat Hyun Jo sedih.

“Ibuku mengundang kita untuk makan siang bersamanya,”

Alis Hyun Jo terangkat, “Makan siang? Kenapa?”

Ya, sebenarnya itu sangat mengagetkan—ibu Lu Han adalah wanita karir yang sibuk dan bahkan hampir tidak punya waktu untuk minum teh herbal dengan benar. Dan mendengar bahwa mertuanya ingin mereka makan siang bersama, tiba-tiba itu membuat perut Hyun Jo mulas.

Lu Han berdiri, “Tidak selalu ada alasan untuk makan siang bersama anak dan menantunya. Itu kalau kau tahu maksudku,”

Hyun Jo memijit pelipisnya. Tidak, seharusnya tidak boleh begini.

“Kau masih ada jam?” Lu Han kembali bertanya.

Hyun Jo mengangguk, “Jam dua nanti, di kelas Matematika,”

Lu Han tampak berpikir. Sekarang sudah jam satu, dan jam dua masih satu jam lagi. Sementara itu, perjalanan mereka membutuhkan waktu sekitar setengah jam kalau tidak dipotong jam macet dan harus memerlukan waktu tambahan untuk merubah penampilan Lu Han.

“Telepon aku saat sudah selesai, aku akan kembali ke Rumah Sakit,”

Lu Han pergi meninggalkan Hyun Jo, tapi baru sampai langkah ke empat gadis itu telah menangkap lengan Lu Han.

“Jarak Rumah Sakitmu dan Universitasku cukup jauh, lebih baik kau kembali ke apartemen. Setelah kelas selesai aku akan langsung pulang dan kau tidak perlu menjemputku.”

Lu Han tersenyum simpul.

“Aku pergi,”

“Apa aku perlu mengucapkan ‘hati-hati di jalan’ untukmu?”

Pria itu terkekeh.

“Tidak, tidak perlu.”

 

 

 

–Cross(x)Dresser—

 

 

 

Pukul 14.20, Distrik Gangnam, kafe Eun-Pyong.

 

Pertama, Hyun Jo tidak tahu apa alasan ibu Lu Han tiba-tiba mengajak mereka makan siang bersama hari ini.

Kedua, Hyun Jo tidak mengerti mengapa mereka harus makan siang di kafe ini—kafe milik keluarga Kyung Soo dan ditatap oleh si anak pemilik kafe dengan tatapan menduga.

Ini benar-benar menyesakkan dan menyiksa.

Kyung Soo adalah teman baiknya, mereka sudah beberapa kali nongkrong di sini dan kadang-kadang nyaris menghabiskan malam dengan memainkan permainan tidak penting seperti tic-tac-toe.

Tapi ditatap dengan tatapan menuntut penjelasan bukanlah hal yang Hyun Jo harapkan—apalagi berada di sini bersama ibu mertua dan suaminya.

Ini buruk. Sangat.

“Ibu sangat memaklumi kalau kalian datang terlambat,” wanita paruh baya itu tersenyum teduh, meskipun mimik wajahnya agak sendu dan alisnya merosot beberapa senti, itu tetap tidak mengurangi kecantikannya. Hyun Jo akhirnya sadar darimana Lu Han mendapatkan semua modal itu.

“Ya, sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ibu ceritakan pada kalian,”

Lu Han berhenti mengunyah fegetable mixnya dan kemudian melirik Hyun Jo melalui ekor matanya.

“Beberapa hal?” tanya Lu Han. Dia sepertinya merasa aneh dengan kata-kata itu.

“Sebenarnya ini juga sedikit mendesak,”

Lu Han penasaran dengan seberapa ‘mendesak’ hal yang ingin diceritakan ibunya ini. Tapi dia yakin jika hal itu bukanlah hal baik—apalagi jika sudah menyangkut hubungan rumah tangganya dengan Hyun Jo.

Saat Lu Han melirik Hyun Jo, gadis itu tampak tertarik dengan kata-kata ibunya. Meski tidak menunjukkan reaksi yang signifikan, tapi melihat alisnya yang bergerak beberapa derjat dan dahinya yang berkerut, Lu Han bisa menarik kesimpulan itu tanpa mempertimbangkan apa-apa.

“Kami tidak akan keberatan mendengarkan cerita ibu,” Hyun Jo tersenyum. Dia sendiri tak yakin dengan senyumannya—biasanya orang-orang akan mengeriyit aneh dan mengabaikannya—yang tidak menarik.

Di dalam hati Lu Han bersiul. Baiklah… dia sedikit terkejut jika Hyun Jo memiliki sisi manis sebagai menantu.

“Kalian ingat temanku Kim Sun Ok?”

“Ya,”

“Menantunya baru saja melahirkan pagi ini,”

Wajah ibu Lu Han yang semula tersenyum teduh kini ditutupi oleh mendung. Dia terlihat murung dan hanya memutar sedotan jusnya.

“Teman-temanku terus membicarakan hal itu, dan terus terang saja aku merasa ‘tak nyaman,” wanita itu menghela napas, “mereka tahu jika Lu Han sudah menikah setengah tahun lalu, dan aku juga menyadari jika putraku adalah yang paling terakhir menikah diantara anak-anak temanku.”

“Kalian mungkin berpikir jika aku adalah wanita tua yang egois—aku terlalu terpengaruh dengan kata-kata temanku dan terlalu mudah untuk tertekan. Sejujurnya ini juga menyulitkanku, di satu sisi aku juga merasa sungkan. Tapi kalian tahu, berdiri di usia senja menatap putramu yang sudah berusia 30 tahun dan belum memiliki satu pun anak akan membuatmu terguncang. Dan seperti yang semua orang tahu, Lu Han adalah putraku satu-satunya, aku tentu berharap banyak darinya, terutama tentang anak dan prestasi pekerjaannya.”

“Aku sudah berbicara dengan suamiku tentang hal ini, dia sependapat denganku. Tapi dia berpikir memiliki anak sementara Hyun Jo masih berusia 18 tahun bukanlah hal baik, dia masih kuliah dan kami khawatir akan hal itu.”

Ibu Lu Han menatap pemuda itu dan Hyun Jo bergantian. Hyun Jo ‘tak tahu harus membentuk raut wajahnya seperti apa, ini terlalu tiba-tiba. Ini membuatnya terguncang.

“Eum, bu, sebenarnya…”

“Aku hanya ingin kalian mempertimbangkan masalah ini, paling tidak berikan tanggapan kalian beberapa hari lagi dan biarkan aku memikirkan solusinya,”

Hal lainnya yang Hyun Jo ketahui: ibu Lu Han adalah wanita tua penuntut. Hyun Jo tentu saja tidak bisa berharap banyak akan hal itu.

Mendengar kata ‘anak’ dan ‘usia’Hyun Jo berpikir bahwa mengunyah grendel pintu adalah hal yang patut dicoba.

Dia terdiam, menatap langit-langit kafe dan menerawang. Dia lupa pada mini pizza dan orange floatnya.

Lu Han memijit pelipisnya, sepertinya pembicaraan ibunya sudah melebihi ambang batasnya. Mau tidak mau mereka harus menyudahi ini atau semuanya bisa menjadi semakin buruk.

“Aku harus memikirkannya bu,” kata-kata Lu Han terdengar tak meyakinkan di telinga Hyun Jo. Semua orang tentu saja akan setuju. Dibandingkan dengan berkata-kata, Lu Han justru lebih cocok dikatakan separuh mengeluh. Wajahnya tampak keruh dan tidak bersemangat.

“Kalian tentu saja harus membicarakannya. Ini hal genting, ingat?”

Hyun Jo pikir ini menyebalkan, ini gila dan ini benar-benar tidak manusiawi.

Apakah menurut ibu Lu Han membuat anak adalah hal yang mudah, semudah merakit roket sederhana dari botol minuman? Tidak, tentu saja tidak begitu.

Hyun Jo mulai menanyai dirinya. Dia berbicara pada dirinya sendiri.

Aku tak yakin rahimku siap. Maksudku—aku bahkan belum bisa memenuhi seluruh masterlistku dan lulus dengan nilai terbaik. Aku masih memiliki banyak hal yang ku lakukan dibandingkan harus  memikirkan soal anak.

“Ibu ingin jawaban kalian empat hari lagi,”

 

–Cross(x)Dresser—

 

 

Hyun Jo duduk di lantai yang bersisihan dengan pantry, memeluk sebungkus kripik kentang ukuran besar dengan kantung mata yang menjuntai liar.

Lu Han keluar dari kamar tidur mengenakan piyama tidurnya dan duduk di meja makan. Mereka berdua hanya diam dan tampak berpikir.

Perjamuan makan siang di kafe keluarga Kyung Soo masih berputar di kepala mereka. Tidak hanya tiba-tiba dan mengguncang, tapi ibu Lu Han benar-benar menuntut.

“Hei, Lu Han,”

“Apa?”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Membuat anak,”

Hyun Jo bangkit dan tiba-tiba saja melempar bungkus kripik kentang yang sudah kosong itu pada Lu Han.

“Selera humormu benar-benar jelek,”

“Terimakasih dan sebaiknya aku harus membeli lebih banyak kosmetik,”

“Dan kau pikir itu ide bagus?”

“Tentu saja,”

Hyun Jo mendesah pasrah.

“Sebaiknya aku tidur saja,”

“Baiklah, tidur yang nyenyak dan sediakan staminamu untuk membuat anak, oke?”

Hyun Jo melotot, kali ini lebih mengerikan.

“Dengar, ku kira kau hanya membuat lelucon,”

“Tentu saja itu hanya lelucon, memangnya kenapa?” kata-kata Lu Han datar dan menyebalkan, begitu pula dengan tatapannya.

Hyun Jo memutuskan untuk tidak menjawab dan kembali ke kamarnya. Dia menutup pintu keras-keras dan mendesah sekeras mungkin.

Yang lebih penting, dia butuh sesuatu—atau pintu kemana saja untuk menghilang dari dunia ini.

Terlalu banyak hal gila yang terjadi hari ini dan Hyun Jo ‘tak siap akan hal itu.

 

TBC_

extra quotes: 

Aku hidup di abad 21 dan ku pikir menikah dengan orang aneh adalah hal yang jauh diluar ekspektasiku.

Kedengaran sinting.

Tapi kalian tahu, hal paling mengerikan yang hampir tak pernah melintas di kepalaku adalah memiliki seorang anak dengan pria aneh itu.

Duduk di suatu siang bersama ibu mertua dan suamiku.

Aku bertanya-tanya dan berusaha menebak sesuatu.

Dan itu membuatku sakit.

Ku pikir menikah adalah cara terbaik untuk mengakhiri masa mudaku dan ibu mertuaku tentu mengetahui persisnya.

Jujur saja, ini terlalu menyakitkan.

Hal ini mengguncang keadaan emosionalku.

Advertisements

76 thoughts on “My Crossdresser Husband Chapter 1 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

  1. haha gak kebayang deh punya suami aneh kaya gitu ampun deh.
    btw kenapa sih luhan suka dandan kaya gitu?dia itu trauma sama sesuatu atau emang kelainan

    Like

  2. Hahah baca ff ini gue keinget nyokap gue yg kayanya ngebet bgt gue nikah padahal lulus smk aja belom(?) *okeabaikan

    Ya entahlah gue selalu suka cara penulisan ff lu min. Bahasanya tuh bagus dan teratur. Gue selalu nyoba buat ff dengan bahasa2 kaya gini tp selalu stuck di tgh jalan hahah.

    Okelah luhan kalo ngomong emang enak ye tanpa memikirkan perasaan hyunjoo. “Membuat anak” gue sempet ngakak baca bagian ini min hahah

    Like

  3. ka salam kenal aku new reader nih 🙂
    dpt rekomendasi ffmu dr salah satu blog, izin baca yah, tdi udh smpet komen d library tp link ff dsna not found jd cari yg ffmu per part deh 🙂
    ini blm smpet baca ffmu ka tp udh tertarik baca quotes d atas dn tampilan coverny kerenn bgt nnti aku komen lg ko 😉

    Like

  4. Hi, aku baru temu kan blog kamu dan pertama kali baca ff ni dan kesan pertama adalah keren tpi pnjg sngt 😂aku jadi sampai ngantuk but don’t worry I’m still read your ff btw I’m from Malaysia, nice to meet your, 😀

    Like

  5. Halo kak! Aku reader baru ^^
    Ceritanya menarik soalnya Luhan jadi suami yg suka pake make up dan baju cewek. Hehe semoga endingnya sejalan dengan perkiraanku

    Like

  6. Hai… Hello!!!
    Aku reader baru, nemu ni ff gara” waktu cari ffnya cho kyuhyun:-D.
    Ffnya bagus kaq, aku penasaran ma luhan koq cowok suka dandan kayaq cewek?
    Lanjut ya buat ffnya. FIGHTING:-):-):-)

    Like

  7. Aku loncat langsung ke part1.. maaf….
    Ini keren… semangat yah.. aku mau lanjut lgi tpi ntar. Hp lgi butuh makan. Semangat. Lanjut lgi..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s