Digital Adventure [foreword] – JiYoo19

digital adventure

Ayahnya bilang, ponsel ini masih dalam tahap pengembangan, dan ayahnya juga tidak pernah bilang apakah benda ini bisa berfungsi atau tidak.

“Apa Yi Xing juga punya alat ini ya? Kalau begitu akan ku tanyakan besok saja,”

Lu Han meletakkan ponsel itu di meja, meninggalkannya begitu saja dan kembali berkutat dengan remotenya.

Tapi bunyi telepon itu mengganggunya. Tidak, bunyinya tidak kedengaran seperti bunyi panggilan biasanya—seharusnya bunyinya bersahutan dan tidak putus-putus seperti ini.

Lu Han menatap telepon rumahnya dengan alis terangkat sebelah.

Ada bunyi peluit di akhir dan Lu Han tampak tak yakin dengan itu.

Sementara Lu Han menatap telepon rumah yang telah berhenti itu dengan tatapan bingung, ponsel prototype itu menyala. Lalu suara gemerisik seperti suara walkie talkie terdengar.

“Tolong aku…”

Suaranya samar dan terlalu gemerisik, tapi Lu Han tetap saja bisa mengerti kalau seseorang—atau sesuatu sedang meminta tolong.

———————————

 

19 November 1997.

Angin musim dingin mendesau dibalik jendela kamar Lu Han. Sayup-sayup terdengar melalui celah jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Meski waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, anak laki-laki berusia 7 tahun itu masih belum berpikir untuk beristirahat di tempat tidur.

Seandainya saja Ibunya mengetahui hal ini, ia pasti tidak akan merasa senang dan buru-buru mendorong Lu Han ke tempat tidurnya. Tapi sayang sekali, saat ini kedua orang tuanya sedang berada di Nagano untuk mengunjungi kakek dan neneknya yang sedang sakit sejak minggu lalu.

Entah kenapa suasana rumah yang sepi menjadi berpuluh-puluh kali menjadi lebih sepi dan membosankan ketika orang tuanya pergi. Bukannya Lu Han bermaksud untuk ikut bersama kedua orang tuanya ke Nagano, ia hanya merasa apartemen kecil keluarganya terasa begitu luas untuk ia tapaki seorang diri.

Lu Han sempat terpikir untuk menelepon Yi Xing. Meski hal itu tidak akan banyak membantu, paling tidak Lu Han tidak akan merasa begitu kesepian. Namun, ia sadar kalau saat ini Yi Xing pasti sudah tidur. Hal itu disebabkan karena jam malam anak-anak dibawah usia 12 tahun adalah hingga pukul 8. Itu sudah termasuk waktu yang diperlukan untuk mengerjakan tugas dan bermain playstation.

Jika ingin jujur, Lu Han merasa kebijakan itu sedikit memberatkannya. Meski kedua orang tuanya bersi keras untuk memperlakukannya seperti anak kecil, entah mengapa Lu Han merasa jika kebijakan itu sudah tidak cocok dengannya.

Lu Han bisa memasak makanannya sendiri dengan baik meski itu hanya sebuah telur mata sapi yang setengah hangus. Dia bisa membuat serealnya sendiri. Lu Han bisa mencuci piring dengan benar meski hal itu harus berujung dengan memanjat westafel dan terpeleset di lantai. Paling tidak, dia bisa melakukan beberapa hal seorang diri tanpa perlu merengek pada orang tuanya seperti Yi Xing.

Awalnya mereka tinggal di Beijing, tapi karena alasan pekerjaan maka ayah Lu Han memutuskan agar mereka menetap di Jepang. Terlebih lagi, kakek dan nenek Lu Han tinggal tak cukup jauh dari daerah tempat tinggalnya saat ini. Hanya memakan waktu dua jam dengan menaiki kereta cepat.

Lu Han menyalakan televisi, duduk bersila sembari memeluk setoples kacang kenari pemberian dari ibu Yi Xing.

Oh, sebenarnya Lu Han dan Yi Xing tak memiliki nasib yang jauh berbeda.

Mereka sama-sama berasal dari Beijing dan tinggal di Jepang karena alasan pekerjaan ayah mereka.

Ayah Yi Xing adalah seorang ahli botani, sementara ayah Lu Han adalah seorang ahli mesin yang saat ini bekerja sebagai tenaga pengembang teknologi untuk kereta cepat keluaran terbaru. Dari yang Lu Han dengar dari percakapan orang tuanya, kereta cepat itu akan launching di awal tahun milenium.

Sebentar… Lu Han tidak tahu apa itu tahun milenium.

Tapi apa yang bisa diketahui seorang anak berusia 7 tahun yang bahkan baru memulai pelajaran hitungan dasar di sekolah?

Oh, seharusnya tidak begitu. Lu Han tidak ingin dianggap anak kecil rata-rata, dia ini luar biasa dan orang tuanya selalu menyebutnya begitu. Ayahnya bahkan berpikir bahwa Lu Han adalah anak yang sangat pintar untuk anak-anak seusianya—dia bahkan menjamin bahwa suatu hari nanti Lu Han akan meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai pengembang teknologi mesin.

Lu Han meraih remote TV dan mengganti salurannya secara acak. Dia melenguh dan mengeratkan pelukannya pada toples kacang kenari.

Tidak ada film Power Ranger di TV. Tidak juga dengan beberapa serial kartun yang biasanya tayang di jam ini. Lu Han sedang dilanda bosan, anak kecil yang bosan cenderung melampiaskan kebosanannya dengan cara yang ekstrim—dan Lu Han tahu betul ibunya pasti akan murka saat ia memutuskan untuk mengutak-atik ponsel.

Tangannya tidak bisa menggenggam penuh ponsel itu karena bentuknya yang besar. Lu Han pikir ini lebih mirip seperti walkie talkie daripada sebuah ponsel.

“Aku yakin ibu punya buku panduan untuk mengoperasikannya,” Lu Han bergumam pelan saat membolak-balik ponsel itu.

Ayahnya bilang, ponsel ini masih dalam tahap pengembangan, dan ayahnya juga tidak pernah bilang apakah benda ini bisa berfungsi atau tidak.

“Apa Yi Xing juga punya alat ini ya? Kalau begitu akan ku tanyakan besok saja,”

Lu Han meletakkan ponsel itu di meja, meninggalkannya begitu saja dan kembali berkutat dengan remotenya.

Ternyata anime Voltes V sudah tayang. Ah, benar-benar sesuai harapannya.

Lu Han meloncat ran menerjang bantal sofa, saat anime itu memutarkan intro musik, Lu Han ikut menyanyi dan melonjakkan tubuhnya antusias.

Tapi bunyi telepon itu mengganggunya. Tidak, bunyinya tidak kedengaran seperti bunyi panggilan biasanya—seharusnya bunyinya bersahutan dan tidak putus-putus seperti ini.

Lu Han menatap telepon rumahnya dengan alis terangkat sebelah.

Ada bunyi peluit di akhir dan Lu Han tampak tak yakin dengan itu.

Tunggu dulu, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan telepon rumahnya?

Sementara Lu Han menatap telepon rumah yang telah berhenti itu dengan tatapan bingung, ponsel prototype itu menyala. Lalu suara gemerisik seperti suara walkie talkie terdengar.

Lu Han mulai ketakutan.

Dia masih anak-anak dan semua kejadian telepon berdering dan ponsel prototype yang tiba-tiba menyala membuatnya ketakutan—dan juga kebingungan tentunya.

Lu Han mengangkat ponsel itu dan mendekatkannya ke telinga.

Lalu, suara itu muncul.

Bukan suara yang sering Lu Han dengar—atau suara seperti anak-anak lain.

“Tolong aku…”

Suaranya samar dan terlalu gemerisik, tapi Lu Han tetap saja bisa mengerti kalau seseorang—atau sesuatu sedang meminta tolong.

Tapi… apa itu?

Lu Han mulai berkeringat dan tiba-tiba saja melemparkan ponsel itu ke meja.

“A-apa itu a-alien?!”

 

TBC

a/n:

Ini fanfiction pertama saya dengan genre adventure dan saya sangat nggak yakin sama cerita ini :”D

Sebenernya fiksi ini sudah saya kerjakan dari tahun lalu dan karena banyak alasan (bimbel, test dll) saya jadi lupa melanjutkannya.

Bertepatan beberapa hari yang lalu saya nonton trailernya Digimon Adventure tri saya jadi kepikiran lagi sama fiksi ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk membumbuhi konsep fiksi ini seperti di Digimon–tapi tetap dengan alur dan beberapa rombakan di sana-sini.

Tapi intinya, semoga fiksi ini bisa bermanfaat buat kita dan bisa membangkitkan fiksi dengan genre adventure lagi ^O^/

regards

JY19

 

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Digital Adventure [foreword] – JiYoo19

  1. Genre baru dan ga mainstream👍👍 tp jadinya ga keliatan kayak fiksi jd cuma minjem nama tokoh aja, ak ngerasanya gitu sih but overall i always love your storyline.

    Like

  2. Sorry vi, gw baru baca,,

    Hmm, pas gw baca nii ff, ko gw jd ngerasa kaya nnton film sbangsa harry potter am narnia,,ahahaha..mungkin gegara liat poster ny kali ya.. ckckckck..
    Jd penasaran am kelanjutan ny,
    Kebayang banget Luhan ny masih imut2,, ahahaha..
    Kelanjutanny jangan lama2 yaa.. hhehe
    Thk Novi…

    Like

  3. hiyuhh akhir nya unni kambek dengan genre yang tentu nya baru 😀 sedikit susah sih buat membayangkan ff ini xd tapi its okey lah ff unni selalu keren kok di tunggu ya chapter 1 nya hwaiting !!!

    Like

  4. Seru ya … jadi berasa balik ke jaman dulu !
    Sekarang TV udah jarang ada kartunnya … paling talk show atau semacamnya
    Lanjut ya … karyamu selalu ditunggu loh …

    Love,

    Rachel or Fanny or R

    Like

  5. Hallo aku pengunjung baru di sini 😀 salam kenal yah thor . Ini pertamakalinya aku baca genre advanture um.. Penasaran juga ama luhan yang disini masih 7 tahun . Oke di tunggu nextnya

    Like

  6. Seru yah, jadi pengen buat film bertema beginian. Sukses ya kak lanjutin ffnya. Aku suka racikan kalimat kakak yang ngebawa reader kayk aku gini ke suasana ff kak JiYoo, kakak juga jago ngerubah watak pemain yang kadang bisa manly di ‘ff A’ atau malah kekakan-kanakan di ‘ff B’
    Kerennn tauuu.

    Like

  7. keren thor ffnya…
    genrenya jg g biasa…
    ikutan takut jg ps bcanya…
    js pnsaran sm.lnjutannya…
    dtnggu next chapternya thor…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s