Midnight Romeo Chapter 5 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

midnight romeo 2

Air mataku menetes.

Saat seseorang jatuh cinta, mereka  tidak akan sanggup untuk berkata tidak kecuali membiarkan perasaan itu menguasainya.

Aku mungkin terlalu tidak berdaya dengan semua tekanan emosional ini. Aku mungkin telah membiarkan Kim Jong In menghancurkan perasaanku di pertemuan pertama kami saat itu.

Dan saat manusia jatuh cinta, mereka akan menyadari betapa rapuhnya hati mereka.

***

PROLOGUE  CHAPTER 1 CHAPTER 2 CHAPTER3 CHAPTER4

***

Jauh di dalam diriku, membenci Kim Jong In samasekali tidak pernah terlintas di kepalaku. Oh, mungkin aku pernah melakukannya saat ku ketahui ia mempermainkan Sun Hye, teman dekatku semasa SMA. Tapi terlepas dari alasan-alasan itu, aku belum pernah memikirkannya secara serius.

Julukan Pria Brengsek sudah ku berikan pada Kim Jong In tepat saat ia berusaha menggodaku di sudut perpustakaan.

Dan, ya. Dia membuatku berdebar-debar.

—Mungkin aku menyukainya, tapi dia tidak perlu setolol itu untuk menggodaku. Aku bukanlah gadis sentimentil yang bisa dengan mudah ia raih simpatinya sama seperti siswi-siswi di sekolahku.

Aku tidak memiliki perasaan yang cukup untuk menelan semua omong kosongnya, termasuk rayuan murahannya yang penuh cinta.

Tapi aku tetap saja tidak bisa menepis fakta bahwa aku memang menyukainya. Bahkan aku menyukai sifat brengseknya. Sejujurnya, itu membuatku terhina.

Aku menghabiskan masa-masa SMAku  dengan hal yang tidak berguna. Aku menghabiskan waktuku hanya untuk bersembunyi dibalik tembok, diam-diam menikmati punggungnya yang semakin menjauh.

Rasanya benar-benar bodoh. Tanpa ku sadari, mungkin aku sudah termakan rayuan si brengsek.

Aku berusaha menepisnya, aku menyangkal hal itu setengah mati. Bahkan aku menuliskan “Aku Benci Kim Jong In” di selembar kertas dan menempelnya di tembok rumahku.

Menggelikan.

Dan aku masih tidak percaya kalau pria yang duduk berseberangan denganku ini adalah Kim Jong In, pria brengsek yang sudah mempermainkan perasaan banyak wanita dan berkencan dengan ibuku.

Aku mungkin berpikir, sudah sesinting apa diriku saat ini. Menyetujui ajakannya untuk mengobrol di kafetaria yang penuh sesak dengan mahasiswa lain dari berbagai jurusan?

“Biar ku tebak…” Kim Jong In sedikit memiringkan kepalanya, ia menatapku hati-hati melalui matanya yang hitam, “kau tidak punya agenda liburan musim panas?”

Ku pikir dia sudah tahu hal itu hanya dengan melihat wajahku yang mengerikan—aku berkutat dengan bermacam-macam tugas dan tidak jarang harus berseliweran di perpustakaan kota yang luasnya 40 kali rumah kontrakanku. Itu belum termasuk harus datang ke Universitas pagi-pagi buta hanya untuk membuat janji dengan para profesor. Ya, semua kejenuhan ini mungkin membuat otakku sinting. Jadi aku terima-terima saja saat Kim Jong In menawarkan diri untuk membayariku minum.

“Aku sibuk,” aku berdalih, kedengarannya sangat menyedihkan sampai aku bisa merasakan harga diriku melarikan diri.

Pria itu tertawa kecil, di telingaku tawa itu kedengaran menjengkelkan.

“Ah, kau benar. Kau harus segera menyelesaikan misimu untuk angkat kaki dari Universitas ini,”

Aku bertaruh kalau Kim Jong In sedang menyindirku, tapi kemudian aku berpikir untuk apa ia melakukannya. Tidak, tidak, mungkin itu hanya leluconnya.

“Benar-benar misi yang berbahaya,” aku menimpali. Mencoba membumbui kata-katanya dengan kesan sok mendramatisir.

Dia menganggap itu lucu—dia mungkin berpikir kalau orang sekacau diriku bisa melucu. Tapi aku tidak setuju dengan hal itu.

“Mungkin kau bisa mencobanya sesekali,”

Jong In tertawa lagi, kali ini lebih keras. Tapi tawanya tetap saja tidak sebanding dengan keriuhan kafetaria di siang hari yang terik. Pria itu hanya mengibaskan tangannya tanda tidak setuju.

“Aku bahkan belum memikirkan rencana mengenai misi itu,”

“Mendengar caramu bicara, aku ragu kau akan memulainya dalam waktu dekat,”

Jong In mengangkat gelas latte dinginnya, dia menyesapnya sebentar dan kemudian tampak berpikir.

“Sepertinya begitu. Kau tahu? Aku tidak pernah merasa nyaman membahas masalah tugas,”

Sejak SMA Kim Jong In memang bukan siswa cemerlang yang memiliki sederet prestasi bidang akademik, dan aku bersumpah pernah melihatnya berlari di sepanjang koridor karena terlambat masuk. Aku bisa memperkirakan hal itu dari Kim Jong In kurang dari tiga detik saat aku bertemu dengannya pertama kali.

Faktanya, kemampuan analisaku benar-benar luar biasa.

Dan saat kata-kata itu spontan diucapkan Kim Jong In, aku tahu kalau obrolan ini adalah obrolan yang paling ku hindari.

“Oh, ngomong-ngomong aku tidak ingat pernah bertemu dengan orang tuamu saat kita SMA,”

Aku tidak bisa mengelak—aku benci topik pembicaraan kami. Dan aku tidak bisa menepis rasa tersinggungku.

Aku tersenyum seadanya, tidak kelihatan benar-benar menikmati obrolan ini.

“Kau mungkin tidak akan terlalu senang dengan ceritaku,” aku menatap latteku agak lama, aku mencari-cari keseruan dari titik-titik air yang merembes dari gelas plastik yang ku pegang.

Diluar dugaanku, Jong In kelihatan penasaran. Aku bisa merasakannya dari tatapan laki-laki itu.

“Cerita mengenai kehidupanmu selalu mengundang simpatiku, kau tahu?”

Aku mulai menebak apa yang dimaksud si brengsek ini dengan simpati. Dan aku tidak mau buru-buru mengambil kesimpulan kalau dia sedang merendahkanku. Dia masih kelihatan bersemangat dan tersenyum lebar seakan-akan pipinya bisa terkoyak.

“Terimakasih,”

Aku masih berusaha mempertahankan senyumanku yang tidak menarik—aku mempertaruhkan segalanya di depan laki-laki ini. Aku tidak ingin raut wajahku yang menyedihkan mengundang simpati merendahkannya.

“Jadi… bagaimana orang tuamu?”

“Ibuku adalah orang tua tunggal, ayahku meninggal sebelum aku dilahirkan,”

Jong In meringis, “Ah, maaf,”

“Tidak apa-apa Jong In-ssi. Itu hanya masa lalu,”

Aku berusaha keras untuk keluar dari pembicaraan ini, dan aku berusaha untuk tidak menangis sekarang. Aku berdo’a agar Jong In tidak membahas apapun tentang kehidupan pribadiku.

“Apa ibumu bekerja?”

“Ya, sebagai seorang model senior,”

Jong In kembali tertarik, tangannya menumpu wajahnya.

“Model?”

“Aku yakin kau mungkin sudah pernah bertemu dengannya,” aku dengan sengaja memberi penekanan khusus di akhir kalimat. Hasilnya benar-benar sesuai dengan harapanku, Kim Jong In tampak bingung. Dia terdiam agak lama, memandangi wajahku dalam-dalam seperti hendak mengutarakan sesuatu.

“Um… ya, kupikir seharusnya kami pernah bertemu,”

Kau memang sudah pernah bertemu dengannya, Kim Jong In. Kau bahkan melakukannya dengan sangat baik.

Aku tidak bisa menemukan ekspresi lain di wajahku selain senyum seorang pecundang yang payah. Tapi aku benar-benar melakukannya dengan baik.

“Boleh aku tahu nama ibumu?”

Jong In masih tersenyum padaku, tapi kali ini aku tidak membalas senyumannya. Aku hanya diam, mematung seakan-akan tidak percaya dengan perkataannya.

“Nama?”

“Ya, aku perlu tahu nama ibumu, kan?”

Senyuman Kim Jong In seperti sebuah pisau yang mengoyak perasanku. Dia melakukannya dengan baik hampir disetiap perjumpaan kami.

Aku tidak bisa menghitung berapa banyak luka yang dihasilkan oleh senyuman laki-laki itu. Dan melihat Kim Jong In membuatku mengingat Eun Soo. Aku masih ingat erangan mereka di kamar Eun Soo saat itu.

Semua kenyataan itu sudah cukup untuk melukaiku—mereka bahkan bisa membunuhku pelan-pelan. Tapi aku tidak ingin menangis untuk hal itu, tidak sampai aku benar-benar meninggalkan Korea. Aku tidak ingin Jong In maupun Eun Soo menyadari bahwa seseorang merasa terluka karena keberadaan mereka.

Aku memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan laki-laki itu, aku hanya diam tapi Jong In tetap menunggu jawabanku. Tatapannya terlihat menuntut. Mungkin dia tolol—atau memang sengaja karena didera penasaran? Oh, aku tidak tahu. Sejak dulu Kim Jong In sudah seperti itu.

Aku pura-pura melirik jam tanganku dan tersenyum gugup,

“Sepertinya sudah waktunya aku menemui Profesor Jang,”

Jong In tampak kecewa, aku bisa melihatnya dengan jelas.

“Ku harap kau tidak keberatan untuk menemaniku minum besok,”

Aku mencoba tersenyum setulus yang aku bisa,

“Mungkin lain kali,”

Aku menyandang tasku dan melangkah pergi dari kafetaria, meninggalkan Jong In dan pertanyaannya seputar nama ibuku.

Aku melangkah dengan tergesa-gesa, yang tadi itu adalah kebohongan. Seharusnya aku baru akan menemui Profesor Jang dua jam dari sekarang. Ini hanya akal-akalanku untuk bisa terlepas dari pertanyaan Jong In, aku tidak ingin membeberkan siapa identitas ibuku atau ini bisa semakin buruk.

Aku hanya tidak ingin dia terkejut. Dan lebih dari itu, aku tak yakin hatiku akan menerimanya.

Bagaimana jika aku semakin terluka?

“Benar. Tentu saja aku akan terluka.”

Air mataku menetes.

Saat seseorang jatuh cinta, mereka  tidak akan sanggup untuk berkata tidak kecuali membiarkan perasaan itu menguasainya.

Aku mungkin terlalu tidak berdaya dengan semua tekanan emosional ini. Aku mungkin telah membiarkan Kim Jong In menghancurkan perasaanku di pertemuan pertama kami saat itu.

Dan saat manusia jatuh cinta, mereka akan menyadari betapa rapuhnya hati mereka.

Aku terlalu bodoh untuk menyadari semua fakta itu.

Semuanya sudah terlambat bahkan jauh sebelum segalanya dimulai.

“Terlalu sulit untuk dihapus seperti tato. Begitu pula denganmu, Jong In.”

 

 

 

—(midnight romeo)—

 

 

Profesor Park menatap Cheon Sa, tatapannya teduh namun berusaha mencari tahu ekspresi yang terpeta di wajah gadis itu.

Maka setelah memberikan koreksi pada tugas-tugasnya, Profesor Park mengajak Cheon Sa untuk duduk di sebuah taman yang tidak jauh letaknya dari Universitas Seoul.

Di mata Jung Soo, gadis ini sangat mengkhawatirkan.

Cheon Sa terlihat lelah dan depresi. Tidak hanya itu, kulitnya juga terlihat pucat hingga nyaris memantulkan sinar matahari. Pria 38 tahun ini bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada Cheon Sa, apakah ada masalah dengan keluarganya? Apa ia bertengkar dengan temannya?

Tidak, Jung Soo tidak tahu. Selama ini Cheon Sa dikenal sebagai mahasiswi cerdas yang membanggakan. Jung Soo bahkan terkejut usia Cheon Sa baru saja menginjak 20 tahun. Cheon Sa sangat sopan, dia juga dewasa dan selalu menyikapi segala hal dengan kepala dingin.

Tapi akhir-akhir ini, Jung Soo melihat perubahan drastis pada diri Cheon Sa.

Sinar mata gadis itu menggelap seakan-akan ditelan kegelapan.

Park Jung Soo tidak tahu, tapi entah mengapa ia merindukan putrinya yang entah berada dimana. Tidak ada petunjuk mengenai keberadaannya, bahkan Eun Soo tidak mengatakan apapun.

“Saat pertama kali aku melihatmu, kau membuatku terkesan, Cheon Sa-ssi,” pria itu tersenyum pada Cheon Sa hingga matanya menyipit. Namun Cheon Sa hanya menatapnya dengan pandangan kosong, tidak benar-benar menanggapi perkataan Jung Soo.

Pria itu tertawa dan menatap langit kota Seoul yang biru dengan kumpulan awan berwarna putih.

“Kau mengingatkanku pada putriku.”

Cheon Sa menoleh.

“Putri anda?”

Jung Soo mengangguk kali ini. Dia menerawang, mencoba membayangkan bagaimana rupa putrinya saat ini. Dia berulang kali memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi—tapi semuanya tidak berguna, dia tidak bisa membayangkan apa-apa.

“Saat ini mungkin ia seusiamu. Aku tidak pernah bertemu dengannya sejak ia dilahirkan dan aku telah menghabiskan hampir seumur hidupku hanya untuk mencarinya.”

Cheon Sa menatap kakinya.

“Apa anda meninggalkannya?”

Cheon Sa tahu pertanyaan ini mungkin akan semakin melukai Profesor Park, tapi dia hanya ingin memastikan sesuatu.

“Ya. Keadaanku membuat aku harus meninggalkannya dan kekasihku.”

Cheon Sa bisa melihat perasaan terluka dari kedua mata Jung Soo. Semua ini diluar ekspektasinya.

Cheon Sa tahu bagaimana rasanya ditinggalkan, dia mengerti betapa menyedihkannya hidup demi dirinya sendiri yang tidak berguna. Cheon Sa bisa merasakan semua rasa sakit yang merobek-robek perasaannya.

“Tapi anda mencarinya, anda menginginkannya. Anda berjuang menemukannya bahkan merelakan waktu yang terbuang dengan sia-sia.” Cheon Sa tahu itu tidak akan membantu, tapi dia hanya ingin memberikan sedikit saja dorongan semangat pada Jung Soo.

Jujur saja, ia iri. Siapapun putri Jung Soo, ia yakin bahwa gadis itu benar-benar beruntung memiliki seseorang yang menginginkannya.

Harusnya ia mengetahui ini dan bersyukur karena tidak terlahir seperti Cheon Sa. Terlahir dari sebuah keluarga menyedihkan tanpa seorang ayah, bertahun-tahun menyandang gelar sebagai putri pelacur dan menderita sendirian.

Gadis itu tersenyum. Lagi-lagi kembali menahan rasa sakitnya seorang diri.

“Aku tumbuh dalam keluarga yang kacau.”

Cheon Sa memulai ceritanya, mati-matian menahan desakan air matanya. Park Jung Soo menatap gadis itu.

“Aku lahir tanpa seorang ayah. Bertahun-tahun hidup dengan label ‘putri si pelacur’. Perekonomian kami kacau, sementara ibuku hanya seorang model amatiran yang lebih mementingkan kekasih-kekasihnya dibanding putrinya sendiri.”

Cheon Sa menghembuskan napasnya berat, matanya terasa panas.

“Aku menghabiskan masa kecilku hanya untuk belajar dan bertahan hidup seorang diri, tanpa belas kasih siapapun. Aku bahkan kelaparan dan harus mengais makanan sisa di keranjang sampah sebuah restoran cepat saji karena ibuku tidak pernah memberiku makan. Aku membiarkannya memukulku, berteriak padaku tanpa berusaha membalasnya. Tapi semua orang tahu bahwa itu hal yang tidak adil untuk seorang anak yang baru berusia 8 tahun.”

Jung Soo terdiam. Dia hanya menatap Cheon Sa lurus-lurus, ada perasaan terluka yang terselip di hatinya setiap kali mendengarkan gadis itu bicara.

“Dia—ibuku—sangat  membenciku. Membenciku hingga ke sumsum tulangnya. Tapi aku tidak tahu mengapa. Mungkin karena keberadaanku telah menghancurkan kehidupannya.”

Cheon Sa tertawa, dia merasa penderitaannya seperti lelucon murahan. Dia tidak bisa berkata tidak kecuali pelan-pelan membawa dirinya pada masa sulit itu.

“Lalu, saat aku duduk di jenjang Sekolah Menengah Atas, aku menemukan seseorang yang menjadi tujuan hidupku. Meski aku berkata bahwa aku membencinya, aku tetap saja tidak bisa memungkiri bahwa aku juga mencintainya.”

Cheon Sa merasa setiap bagian tubuhnya menghilang. Rongga dadanya terasa sesak, begitu sulit untuk menarik napas di saat-saat seperti ini.

“Aku bahkan menghabiskan waktuku untuk menatapnya dari jauh, mencari-cari hal yang tidak mungkin. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah. Aku harus berdamai dengan diriku sendiri, aku tidak bisa menatap laki-laki itu untuk waktu yang lama atau hatiku akan semakin terluka.”

Cheon Sa tidak bisa menahan genangan air mata itu. Dia kembali tersungkur, dia jatuh dan hancur berkeping-keping.

“Kemudian, aku menemukan fakta bahwa laki-laki yang ku cintai adalah kekasih ibuku sendiri. Hubungan mereka begitu jauh hingga aku tidak bisa memperkirakan berapa lama mereka telah menghabiskan waktu bersama. Aku lagi-lagi menolak perasaan itu; perasaan terluka dan marah. Aku melarikan diri, tapi semua orang tahu bahwa seorang malaikat tidak akan sanggup meninggalkan seseorang yang dicintainya tanpa menoleh ke belakang.”

Jung Soo kehilangan kata-katanya saat melihat air mata Cheon Sa.

Dia menangis.

“Dan itu menyakitkan, setiap bagian diriku terluka. Setiap kali aku melihat laki-laki itu dan ibuku, hatiku kembali jatuh dan hancur.”

Cheon Sa berusaha menggapai napasnya, tapi dia gagal. Hanya ada perasaan sesak di dadanya.

“Ini menyedihkan dan menyakitkan.”

Jung Soo hanya berpikir bahwa gadis itu telah melalui begitu banyak masa-masa sulit. Cheon Sa bertahan di dalam rasa sakitnya sendirian selama bertahun-tahun. Tanpa seseorang di sisinya—tanpa ayah dan orang-orang terdekatnya.

“Kau melakukannya dengan baik,” Jung Soo menepuk kepala gadis itu, mencoba tersenyum meski ia tahu itu mustahil, “kau adalah gadis yang kuat dan aku merasa kagum.”

Cheon Sa tidak tersenyum, tapi ia menghargainya, “Terimakasih.”

“Siapapun ayahmu, dia pasti bangga memilikimu.”

“Ku harap juga begitu.” Cheon Sa menunduk dan menatap kakinya.

Ayahnya.

Apa pria itu mencarinya? Apa pria itu benar-benar menginginkan kehadirannya sama seperti yang Professor Park katakan?

Ada jeda yang cukup lama diantara mereka, Cheon Sa diam dan menatap kakinya, sementara Jung Soo menatap langit Seoul yang cerah. Ini sudah memasuki pertengahan musim panas, cuacanya benar-benar sempurna. Tapi Jung Soo tidak berpikir bahwa ia akan senang dengan hal itu.

“Cheon Sa,”

“Ya,”

Ada kepingan yang hilang di hatinya dan Jung Soo tahu benar akan hal itu. Lubang itu akan tetap ada di sana.

Sama seperti lubang di hati Cheon Sa.

“Boleh aku tahu nama ibumu?”

 

 

—(midnight romeo)—

 

 

 

Setiap manusia memiliki cara yang berbeda untuk bertahan dalam rasa sakit.

Setiap manusia memiliki luka mereka sendiri.

Dan aku mengerti hal itu dengan baik. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun atas hidupku yang tidak bahagia. Bukan begitu.

Aku membuka pintu rumah kontrakanku dan menyandarkan tubuhku pada dinding. Tubuhku merosot dan aku jatuh terduduk di lantai. Hanya bisa menatap kedua tanganku yang masih begetar.

Benar-benar menyakitkan.

Benar-benar membuatku menderita.

Tapi semua orang merasakan hal yang sama, mereka juga memiliki penderitaan. Seseorang hanya tidak mengetahuinya, itu saja.

Saat manusia berhenti peduli pada rasa sakit mereka, maka luka yang sesungguhnya baru saja terbuka. Dia lubang yang tidak bisa tertutupi, berada di sudut terdalam hati manusia. Membuat mereka kehilangan semua rasa sakit itu bersama dengan perasaan mereka.

Benar. Itu adalah puncak pesakitan yang sesungguhnya.

Dan ku pikir, dua pertanyaan yang dilontarkan dua orang itu sangat menyakiti hatiku.

Nama ibuku.

Siapa?

Aku tidak merasa memiliki seorang ibu.

Hatiku tercabik-cabik. Lagi. Tidak pernah berhenti.

“Jika dia memang ibuku, bisakah dia berhenti membuat hatiku sakit?”

Ini menyakitkan.

“Boleh aku tahu nama ibumu?”

 

 

“AKU TERLUKA, PARK EUN SOO! APA KAU TAHU ITU!”

 

 

TBC

extra quotes:

Aku tidak yakin dengan hidupku sendiri. Satu kalipun tidak pernah.

Satu-satunya hal yang pernah terbayang olehku hanyalah semua kenangan burukku di masa lalu.

Semuanya terasa seperti kilasan film bisu.

Biarpun begitu, aku tetap tidak bisa merubah fakta bahwa wanita itu tetap saja ibuku.

Dia wanita yang membawaku ke dunia.

Benar. Ini menyakitkan.

Perasaan ini membunuhku.

Tapi apakah aku benar-benar membencinya? Apa aku membenci Eun Soo? Apa aku membenci ibuku?

Aku tidak tahu.

 

Aku tidak ingin menyalahkan siapapun akan hal ini.

Tidak juga takdir, begitu pula dengan Eun Soo.

Setiap orang memiliki sebuah luka, ada lubang menganga di hatiku.

Dan luka itu adalah Eun Soo.

 

 

Advertisements

103 thoughts on “Midnight Romeo Chapter 5 – JiYoo19 (D.OneDeer19)

  1. Haloo kakk lama gak mampir ke sini T.T eh tau2nya mampir midnight romeonya lanjut, duhh keren kak suka sama gaya bahasanya kakak 🙂
    Penasaran gimana kelanjutannya 😀

    Semangat kakk di tunggu karya selanjutnya

    Like

  2. Aku ndak bisa merasakan bagaimana peradaannya cheon sa,menyakitkan ketika orng yg kita cinta mencinta orang terdekat kita..satu kata yg bisa menggambarkan perasaan cheon sa Lelah..

    Like

  3. woah lama nggak mampir, tau-tau ada yang baru. duh tiap baca story dari sini, rasanya kayak ngeliat diri sendiri haha baper. keren-keren! keep writing!

    Like

  4. Aaaaa… di part ini, author nya suskes buat aku mnangis, kata2 nya bgs bnget, bkin mrinding, ditambah dgn mngetahui khidupan Cheonsa yg bner2 mnyedihkan T_T sumpah aku suka bnget FF ini.. dia ktemu sama Park Jun Soo yg ga lain adalah ayahnya sndiri, yg blm dia ktahui, bgtupun dgn Jun Soo sblumnya, ah tidak.. bhkan mgkn Jun Soo sudah mngetahuinya mulai dr skrg. Liat.. itu anak mu Jun Soo-ssi T_T yg selama ini km cari2. Dekap dia, sayangi dia.. sdh ckup bnyak pnderitaan nya slama dia hdup 20 thn ini.. sedih bnget smpah.. 😥
    Cheonsa.. aku tau km gadis yg kuat!!

    Like

  5. Hai, aku reader baru disini dan memutuskan untuk meninggalkan jejak pada chapter ini because ternyata cerita ini baru sampai chapter 5,
    First, aku mau mengucapkan congratulation to you yang sukses bikin baper sampe misuh, jerit2 gak jelas, kaya abege labil ditinggal pacar.
    Aku gak tau gimana kamu bisa bikin pembaca sukses terhanyut masuk ke dalam cerita, bener bener baper asli.
    Pertama kalinya nemuin fanfict secomplicated ini yang jalan ceritanya no menye plus gak pasaran gini.
    Berharap banget cerita ini dilanjut dan segera dipublish chapter selanjutnya^^
    Pengen banget ngeliat kamu sukses sekali lagi bikin aku pusyang sampe pengen nyekek Jongin…

    Like

  6. Pingback: Midnight Romeo Chapter 6 – JiYoo19 (D.OneDeer19) | Elfsotics19

  7. whattt.. profesor park itu ayahnya cheonsa.. tp mereka nggak tau.. terus jongin juga.. nanyain namanya ibunya cheonsa napa nggak di jawab sih sa.. aku tau kamu pasti udah sakit hati banget… yang sabar ya cheon… sedih ini…😵

    Like

  8. Dua orang laki laki yg saling terkait dengan CheonSa dan Eun Soo
    Masi penasaran sama tujuannya Jong In yg tiba tiba deket sama CheonSa

    Like

  9. It’s so complicated! Rumit kehidupan Cheonsa, plotnya gak ketebak dan yeah aku cuma bisa nikmatin alur yang kamu buat. Ini beneran narik pembaca jd penasaran dan terus2an pengen lanjutin. Aku rasa Jongin tau Cheonsa itu anaknya Eunsoo, dan aku pikir ini gak akan semulus prediksiku yang Cheonsa ngasih tau nama ibunya ke profesor oark. Ah! aku gatau mau ngmg apa lagi. ini keren!

    Like

  10. Aku benar” mengerti dengan apa yg dialami cheonsa karena apa yg dialami cheons 15% aku alami juga
    Aku juga tumbuh tnpa perhatian dari ortu, ortu aku lebih perhatian ke eonni ku
    Ya eonni ku memang cantik pintar dan berbakti tidak seperti aku yg jelek, tidak pintar dan nakal..
    sakit hati ya sakit hati tapi dia tetap ortuku tanpa dia aku tidak akan lahir di dunia ini..
    Dan mungkin aku sma sperti cheonsa, walaupun gk sepintar cheonsa tapi aku berusaha untung mencapai sebuah mimpi dan pergi dari tempat tinggalku ..

    Dab semoga jung soo cepat tau kalau ternyata cheon sa itu anaknya

    Like

  11. Jujur jd ga bsa ngomong apah?? Ini ky drama drama jd ngena bnget dr ktaktanya dr ceritny bkin ngfeel bngt..kyny nk jungsoo ajussi y chonsa..aih kkmjong badboy emany d hembat jg.. Udh chonsa kabur aja kluar korea biar mreka mrsakan bgaimna rsany ditnggalkan..

    Like

  12. Pingback: Midnight Romeo Chapter 7 – JiYoo19 (D.OneDeer19) | Elfsotics19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s