Disappear – JiYoo19

disappear

 

 

Saat manusia jatuh cinta, mereka akan menyadari betapa rapuhnya hati mereka.

***

note:

 

Dibalik sebuah fiksi ada luka-luka yang perlu orang lain ketahui.

Ada kenangan dan masa lalu yang ingin dibuang. Sisi terkelam yang tidak pernah diketahui siapapun.

Cinta dan air mata pengiring perpisahan dalam sebuah fiksi.

***

 

Aku terlahir dalam keluarga yang kacau 17 tahun yang lalu. Aku memiliki hidup yang ku pikir masih tidak lebih baik dari orang lain. Dan untuk beberapa alasan, aku membencinya.

Aku mengalami hari-hari yang buruk di sekolah, semua orang membenciku. Menghakimiku atas kesalahan yang bahkan tidak ku ketahui.

Orang tuaku selalu bertengkar setiap hari, melempar makian satu sama lain tanpa mencoba peduli padaku. Aku diabaikan—tidak, aku bahkan merasa mereka tidak pernah menganggapku ada.

Di usia yang masih begitu muda, aku telah ditinggalkan oleh orang-orang yang ku cintai. Aku kehilangan mereka bahkan dengan cara yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya.

Benar, aku telah menjalani kehidupan yang menyakitkan. Dilihat dari sisi manapun, tidak pernah ada sisi menyenangkan yang bisa ku lalui. Aku terlahir sebagai orang yang dibenci dan selalu ditinggalkan. Aku bahkan membenci diriku sendiri. Aku berhenti percaya pada kata-kata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Itu omong kosong.

Aku mulai menjadi gadis apatis yang kasar. Aku tidak hanya mulai menyakiti diriku sendiri, tapi juga orang-orang disekitarku. Tapi apa lagi yang bisa ku lakukan untuk bertahan dalam keadaan ini? Orang-orang itu bahkan tidak memberiku kesempatan untuk membela diri, mereka hanya berteriak dan memintaku untuk mati.

“Aku muak melihatmu!”

“Mati saja sana!”

“Melihat manusia menyedihkan sepertimu membuatku mual!”

Tapi yang ku lakukan untuk membalas perkataan mereka hanya diam dan membiarkan orang-orang itu mengoceh. Aku berpura-pura tuli. Aku menebalkan topeng di wajahku, berusaha untuk tidak menangis bagaimanapun caranya. Aku hanya tidak ingin terlihat lemah di depan orang-orang yang membenciku.

Tidak ada cara untuk menyelamatkan diriku sendiri—tidak ada yang bisa ku lakukan selain membiarkan orang lain menyakitiku.

“Kau tahu? Membiarkan orang lain menyakitimu adalah tindakan idiot. Tapi berpura-pura tuli dan masih berkeinginan mempertahankan dirimu disaat semua orang membencimu bukanlah hal yang mudah.”

Aku ingat kata-kata itu. Yuu pernah mengatakannya padaku pada perayaan puncak hanami* tiga tahun yang lalu.

Daripada disebut sebagai seseorang yang memiliki kedekatan khusus denganku, Yuu lebih cenderung berperan sebagai orang sarkastis yang hanya bisa mengomentari orang lain dengan nada culasnya.

Kami biasa menghabiskan waktu pulang sekolah untuk berkeliling di sekitar taman dan menyaksikan matahari sore di atas papan jungkat jungkit. Terkadang kami juga membeli makanan ringan di stand  pinggir jalan.

“Jangan mengomeliku, oke? Kita sedang kencan!” aku memukul bahunya dan melotot. Aku tidak suka Yuu yang hobi mengomel, bahkan ibuku tidak pernah berbicara seperti itu. Tapi dilihat dari sisi manapun, Yuu jauh lebih peduli padaku dibandingkan siapapun.

Itu adalah saat-saat yang indah. Tanpa ku sadari, aku selalu menunggu saat-saat pulang sekolah bersama Yuu. Dia akan tersenyum kecil dan merangkul bahuku keluar dari gerbang sekolah.

Dia akan mulai berceloteh mengenai game  baru kesayangannya, mengeluh mengenai ulangan Matematika pak Yoshida dan menertawai ketololanku yang selalu terlambat membalas kata-katanya.

Tapi lebih daripada itu, aku selalu menyukai Yuu lebih dari yang orang lain tahu.

Dia tidak hanya membuatku belajar untuk menghadapi semua rasa sakit itu. Dia tidak hanya membuatku menyadari ada banyak sisi indah kehidupan yang belum ku ketahui. Dia tidak hanya berusaha menghilangkan luka-luka itu dari hatiku…

Aku tahu dia selalu melindungiku apapun yang terjadi.

“Hm… jadi kau mulai membuat novel?”

“Bagaimana menurutmu?”

Yuu membaca ringkasan novel itu dengan alis yang setengah terangkat. Aku tidak tahu apakah itu berarti baik atau buruk, tapi…

Yuu tersenyum dan mengacak-acak rambutku.

“Untuk ukuran novel, bisa dibilang ini yang terburuk. Tapi karena ini adalah karya pertamamu, kupikir itu lebih dari cukup.”

Yuu selalu tahu cara untuk membuatku mengerti bahwa segalanya tidaklah seburuk yang ku kira, dia menyadarkanku bahwa masih banyak hal lain yang bisa ku lakukan untuk diriku sendiri, bahkan meski aku merasa tidak puas pada hidup ini, Yuu berusaha keras untuk menutup luka-luka di hatiku.

Ketika aku menangis, terjatuh, hingga berlari di sudut-sudut gelap hatiku, Yuu selalu menjadi orang pertama yang akan mengulurkan tangannya untukku.

“Hei, bagaimana kalau kita berkolaborasi untuk membuat cerita fiksi?”

“Cerita fiksi? Tapi aku kan belum terlalu mahir untuk menulis, bagaimanamungkin kau bisa—“

“Idiot, tentu saja aku akan mengajarimu menulis dengan benar!” Yuu memukul kepalaku keras sekali. Tapi ia tetap tersenyum dan kemudian kembali merangkulku.

“Kau harus tertarik untuk mencobanya,”

“Menurutmu begitu?”

“Tentu saja. Memangnya kau tidak merasa keren bisa menciptakan duniamu sendiri?”

Yuu merasa bangga akan hal yang disukainya. Dia tidak peduli apakah itu akan membuatnya terlihat aneh di mata orang lain, dia hanya jujur mengenai perasaannya. Meski sering bertindak sarkastis, aku tahu inilah sisi lain Yuu. Dia berubah menjadi seseorang yang berbeda—lebih manusiawi dengan semua senyum bodoh di wajahnya. Dia akan mengoceh tentang ide ceritanya, plot yang akan ia susun dan tokoh utama kebanggaannya.

Yuu terlihat seperti tidak pernah memiliki luka dan kepedihan. Dia bangga menjadi dirinya dan merasa cukup bersyukur untuk hidupnya. Tapi aku justru hanya bisa mengeluh dan menangis. Berlari padanya untuk meminta perlindungan.

Aku merasa kecil dan lemah.

Aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Yuu.

“Memangnya apa kerennya bisa menciptakan dunia khayalan?”

Aku tidak pernah mengerti hal apa yang ada di dalam kepala Yuu. Dia membuatku bingung dengan seluruh kejutannya.

Yuu masih tetap menulis sampai akhirnya aku bertanya. Dia menoleh dan menatapku keheranan, matanya yang besar itu mengecil—alisnya kembali terangkat, kali ini lebih tinggi dan tajam.

“Jadi kau benar-benar tidak tahu ya?”

Yuu berdiri dan kemudian duduk di sebelahku, masih membawa buku catatan dan pensilnya.

“Sebenarnya… daripada disebut keren, aku lebih suka mengatakan bahwa menulis benar-benar membuat seseorang menjadi melankolis.” Tatapanku tertuju pada buku catatan Yuu.

Pemuda itu menatapku sengit. Mungkinkah ia merasa tersinggung dengan kata-kataku?

“Biar ku tebak, kau benar-benar tidak tahu esensi dari menulis itu sendiri.”

Aku diam, berpikir untuk beberapa saat. Yuu terlihat tak sabar melihat ketololanku, karena itu aku bisa mendengar suara geramannya yang tertahan.

“Memangnya yang seperti itu ada?” lalu aku bertanya lagi. Kali ini Yuu benar-benar marah. Wajahnya merah padam dan napasnya memburu.

“Tentu saja, idiot! Bahkan untuk menangis pun kau harus memiliki alasan kan?” Yuu memukul kepalaku dengan pensilnya. Aku meringis dan menatapnya kesal.

“Jangan memukul kepalaku seenaknya! Sakit!”

Aku tidak bisa menghitung sudah berapa kali Yuu memukul kepalaku karena dia selalu melakukannya setiap hari. Tapi kali ini, dia memukulku jauh lebih keras dari biasanya—bahkan meski itu hanya sebuah pensil, tetap saja terasa menyakitkan jika pukulan itu tertuju untuk dahimu.

Aku bisa merasakan dahiku merah dan panas.

Yuu mendengus.

“Kalau kau tidak tahu, maka kau harus mencari tahunya sendiri.”

Mataku melotot, “Bagaimanamungkin kau melakukan itu padaku, aku ini kan—“

Yuu kembali memukul dahiku dengan pensilnya.

“Dengar, meskipun kau ini pacarku, kau tetap saja masih seorang amatiran yang bahkan tidak tahu tujuan menulis. Aku tidak bisa memberitahu sesuatu yang sangat penting pada orang yang masih setengah hati dalam pekerjaannya.”

Aku tahu itu pertama kalinya aku melihat kesungguhan di mata Yuu. Bahkan meski ia tersenyum dan kembali merangkulku untuk pergi ke taman menjelang sore, aku bisa merasakannya. Sisa sore itu hanya kami habiskan untuk duduk di atas papan jungkat-jungkit.

Menulis bagi Yuu lebih berharga dari sebuah hartakarun. Meski hanya penulis lepas di sebuah situs untuk para amatiran, dia tetap saja merasa senang. Setiap komentar dalam fiksinya selalu membuat Yuu bersemangat, dia selalu berpikir mengenai ide cerita selanjutnya. Berusaha keras untuk membuat sebuah gebrakan baru yang tidak pernah orang lain pikirkan.

Sementara itu, aku tetap berdiri sebagai seseorang yang masih setengah hati dalam pekerjaannya. Tidak bisa menatap lebih jauh pada ambisi Yuu.

Yuu bersungguh-sungguh mengatakan hal itu padaku. Dia tetap tidak memberitahuku bahkan hingga hari kematiannya. Dia pergi dengan membawa semua rahasia itu.

Aku sadar bahwa apa yang telah menjadi tujuan hidupku telah hilang.

Yuu menghilang—bukan hanya untuk waktu yang singkat, mungkin untuk ribuan tahun yang panjang.

Aku tidak tahu apa yang ku pikirkan saat mendengar berita kematian Yuu di Rumah Sakit Nagoya 3 tahun lalu. Hari itu, aku mengetahui Yuu sakit karena ia mengirimiku sebuah pesan singkat. Dia berkata dia mungkin terkena flu ringan dan absen untuk sekolah. Aku tidak merasa curiga sedikitpun saat menerima pesan itu.

Aku juga tahu jika belakangan Yuu sering flu, tapi aku tidak menyangka jika pemuda itu akan pergi dengan cara yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.

Aku hanya berpikir itu sebuah lelucon—Yuu mungkin sedang mencoba membuat kekonyolan dengan membuat berita palsu, tapi saat aku melihat sebuah peti jenazah di kediaman Ueda sore itu dan melihat Yuu terbaring di dalamnya. Aku tidak bisa menahan air mataku.

Seluruh luka yang hampir menutup itu kembali terbuka, luka-luka itu terus bertambah seiring kepergian Yuu.

Aku benar-benar merasa kesakitan—tidak hanya tubuh dan hatiku. Aku merasakan semua itu hingga sampai pada taraf pesakitan yang semakin mengkhawatirkan.

Aku hampir kehilangan diriku lagi, kali ini tanpa Yuu yang mengulurkan tangannya. Aku berjalan tertatih-tatih hingga akhirnya tersungkur. Berguling-guling di atas duri.

Aku menangis, menyesali semua tindakanku di masa lalu.

Andai saja saat itu aku lebih serius untuk mengerjakan fiksi kami, andai saja saat itu aku tidak menjadi seseorang yang lemah, aku mungkin tidak perlu menyesal karena kepergian Yuu.

Aku mungkin bisa mengatakan bahwa aku mencintainya di detik-detik terakhir.

Tapi semuanya tetap saja sebuah masa lalu. Tidak ada hal yang harus ku sesali saat ini.

Aku mempublikasikan fiksi yang ku buat bersama Yuu di blog pribadiku, awalnya aku hanya berpikir untuk membagi sedikit kenangan yang ku punya bersama pemuda itu pada orang lain. Tapi diluar ekspektasiku, orang-orang benar-benar menyukainya.

Saat itu, hal pertama yang ku pikirkan adalah Yuu.

Apakah ia senang?

Apakah ia melihatnya dari atas sana?

Tapi aku tak bisa memungkiri perasaan terluka setiap kali harus melanjutkan fiksi itu. Aku menangis dan tertutupi rasa sedihku. Aku dihantui perasaan menyesal.

Di satu titik, para pembaca mulai menuntut. Mereka tidak hanya menuntut dengan keras, tapi juga memaki.

Sekali lagi, ini adalah fase yang sulit.

Aku tidak bisa lagi mengikuti kemauan pembacaku hanya demi kepuasan pribadi mereka. Aku harus memikirkan diriku sendiri. Aku harus mulai belajar menerima kepergian Yuu dengan tangan terbuka.

Aku tidak ingin terjebak di dalam kegelapan hatiku.

Aku tahu aku mungkin akan dibenci oleh pembacaku, bahkan aku akan ditinggalkan. Tapi aku tak bisa selamanya bertahan dalam keadaan sulit yang hanya membuatku menderita.

Aku tak bisa lagi berdamai dengan hal-hal remeh seperti itu. Aku harus mempertahankan diriku dengan baik, sama seperti pesan terakhir yang ku terima dari Yuu.

Apapun yang terjadi, aku harus tetap kuat untuk hidup.

Bukan maksudku untuk membuang kenangan-kenangan itu. Bukan maksudku untuk membenci karya terakhir yang ku buat bersama Yuu empat tahun lalu. Bukan keinginanku untuk membuat diriku semakin dibenci.

Tapi aku tahu ini hal terbaik yang bisa ku lakukan.

Bahkan jika akhirnya itu semakin membuatku terluka, aku akan merasa baik-baik saja.

Setidaknya, aku tidak perlu membuatku ditelan penyesalan seperti tiga tahun lalu.

Aku mungkin akan kembali menulis, di suatu hari dimana aku bisa mencari tujuanku. Melepaskan semua pencapaianku pada Yuu. Mencari hal yang ku inginkan—bukan semata-mata demi seseorang. Tapi untuk diriku.

Alasanku untuk tetap hidup dan menulis.

Alasanku untuk tetap berjalan dalam hal yang ku inginkan.

 

– FIN-

extra quotes:

Kau bisa berbohong dengan berkata bahwa segalanya akan tampak baik.

Kita bisa berpura-pura buta dan tuli.

Membenci takdir yang tidak adil.

Tapi kepergian seseorang adalah hal lain yang tak dapat dicegah.

Diluar kuasa manusia untuk menyadari detik-detik menjelang perpisahan.

Menjaga janji adalah hal lain.

Cinta yang berujung penyesalan hanya akan membuatmu menderita. Bukan hanya semata-mata kata permohonan maaf.

Bukan juga tumpukan karangan bunga.

Serperti halnya waktu yang berjalan.

Dia membekukan kenangan. Tetapi tetap membiarkannya hidup di hatimu.

Membiarkan kita ingat akan seseorang yang kita cintai.

Menyadarkan kita untuk melepaskan seseorang yang telah pergi, menyadarkan kita untuk tetap menghadapi kenangan-kenangan itu.

Betapapun menyakitkannya.

Betapapun itu membuatmu tersakiti.

Setidaknya kau tetap berjuang untuk hidup dan mempertahankan dirimu.

Dan hingga saatnya tiba, kau bisa melambaikan tanganmu dan mengucapkan salam perpisahan.

JY19

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

33 thoughts on “Disappear – JiYoo19

  1. Aku yg pertama,yey!!
    Seperti biasa Ffnya kak Jiyoo memang selalu bagus… Mudah2an dengan ff ini para reader yg lain jangan pernah ada yg ngotot atau bahkan maki2 author krna pengen kelanjutan dari suatu ff.
    FF yang lain di tungguu kak^^

    Like

  2. as usual ka… tulisan kaka beneran keren>< keep success ka hope other ppl will understand abt you hihi…… next ff i'll wait it patiently^^ fighting~

    Like

  3. Bentar kak……….
    Ini caption nya kok alasan mph di hapus..
    Apa.. Ini ‘alasannya’? Berarti…
    Oh my…. Aku turut berduka ya kalo kaya gitu walaupun udh bertahun silam. Tapi.. Luka nya sampe loh. Ya mungkin kalo org yg gatau alasan yg sebenernya bener. Mereka bakalan hgehujat kaka bilang autor php blablabla. Karna meanga da author yg seenaknya ninggalin veritanya tanpa bilang hiatus atau apa lah. Sebagai reader jg bakalan maklumin kalo dia lagisi buk atau ada something gitu. Tapi setidaknya kasih kabar aja sih kalo bagi aku.
    Dan aku… Speechless sama kamu kalo emang bnr alasan mph diapus karna ini….
    Aku bener2 minta maaf kalo pernah minta pw buat baca….,
    Ehehehehe
    Semangat nulisnya yaaa!!!! Inget yuu disana bakalan seneng kalo kamu udh bangkit dan lebih bangkit karna semangat km sendiri!!😊😊

    Like

  4. Sewaktu di awal udah bisa nebak. Membuat karya dengan tujuan agar orang lain mengerti. Wow! Gak nyangka kalau perasaan kak jiyoo sampai segitunya. Tapi kak Jiyoo juga beruntung karena karya kakak bener2 ditunggu banyak orang, buktinya sampai di’maki’.
    Tetep nulis ya kak! Banyak yg nunggu karya kakak lho 🙂
    Maaf kak, kalau ada salah kata

    Like

  5. kamu salah satu penulis yang aku suka, bahkan hampir setiap hari aku cek blog kamu ini. Mungkin luka itu masih dalam buat kamu yoo, tapi aku berharap kamu tetap semangat, aku berharap kamu akan kembali menulis dgn suasana hati yg lebih baik lagi^^ aku juga akan memaklumi semua keputusan kamu untuk enggak lanjut nulis dibeberapa ffmu yang udah jadi ff favorit ku. semangat ya ^^

    Like

  6. Kak ini kisah kaka sendiri? Aku gatau…. tpi trs berjuang dlm menulis. Tulisan kaka bagus. Buatlah karya yg bkin kaka terus semangat 🙂

    Like

  7. Aku selalu suka sama gaya tulisannya kamu, selalu berhasil buat bikin pembaca jadi larut dan ikut dalam cerita yang kamu buat. Bikin kita ngerasa bahwa tokoh tersebut adalah diri kita sendiri.
    Sebagai sesama author di blog pribadi-ehm, meskipun kamu jauh lebih dari aku hehe-tapi aku bisa ngerti gimana rasanya di tagih buat ngelanjutin FF, yang kadang bahasanya suka bikin sakit.
    Tapi, kayak yang Yuu bilang, kamu harus kuat!
    Jiyoo Fighting! 🙂

    Like

  8. kakak harus tetep semangat ya . jangan dengerin para pembaca yg bisa nya cuma nuntun maki dsb, turut berduka juga walaupun ini udah terjadi bbrp tahun silam. kagum banget kakak bisa ngadepin semua masalah kaya gitu. cuma bisa bilang semangat semangat dan semangat !!! dia yg ada di sana pasti bahagia koq liat kakak yg saat ini udah bisa bahagia dan bangkit krna semangat kakak sendiri.

    Like

  9. …. udah cukup lama aku gak buka blog kaka dan setelah baca ini, aku gak tau harus bilang apa. aku juga pernah ngerasain apa yang kaka pernah alamin, ditinggal seseorang yang berharap aku ada disamping dia disaat terakhir tapi enggak bisa. penyesalan itu masih ada sampai sekarang walaupun semua temen aku bilang aku gak salah. tetap terus berjuang ya kak, aku paham kaka cukup lama buat nge-publish cerita di blog, mungkin karena ada kesibukan atau hal pribadi lainnya. tapi, aku tetep nunggu kaka nge-publish cerita lain. mungkin dengan menulis kaka bisa mengekspreksikan apa yang kaka alami, rasakan dan pikirkan. tetap semangat sekali lagi ka Jiyoo!!

    Like

  10. Sewaktu awal baca udah nebak kalau ceritanya pasti menjurus ke ‘itu’.
    Tapi kak jiyoo harus tetep semangat! karya kakak bener-bener ditunggu sama orang-orang lho (salah satunya ya aku :D), buktinya sampai dimaki.
    Walaupun karya kak jiyoo genrenya ada yang banting stir dari genre yang biasa kak jiyoo buat, orang-orang yang bener-bener suka karya kakak- mereka bakal setia baca karya kakak kok 🙂
    Soal ada pembaca yang sampai maki kak jiyoo, posthink aja kalau karya kakak bener-bener ditunggu dan semoga orang yang maki itu ngerti. 🙂
    Semangat kak! ^o^)9

    Like

  11. Ini berdasarkan pengalaman pribadi ato gimana kak?
    Soalnya menurutku pesan cerita ini nyampe ke pembacanya 😦

    Selalu semangat ya kak…
    Janji deh bakalan jadi reader yang manis >_<

    Like

  12. Seperti biasa. Karya kak jiyoo selalu bagus. Ngena banget, bisa masuk ke dalam ceritanya dan selalu ada quetes keren yg bikin kita mikir 😀 keren 😀 ditunggu karya berikutnya. Dan, seneng deh kaakak balik lagi 😀 :v

    Like

  13. Aku selalu suka apapun tulisan eonni. Maaf ya eonn aku baru ngerti sekarang.. Tetap lanjutkan menulis ya eonn, karena karya eonni itu banyaak banget yg suka. Fighting! ^__^

    Like

  14. Thanks buat kamu nov.., ff kamu tentang ‘Manda-mu’ selalu mengingatkan mbak sama pacar mbak yg udah meninggal 3 tahun yg lalu,

    Tiap rindu dia, mbak pasti akan buka blog kamu buat search ff kamu, thanks.., kamu bisa buat aku ingat dia dengan cara lain dan tanpa air mata.

    Like

  15. always.. hiks.. kenapa ff mu selalu keren dan menyentuh unni?? aku nyaris gk pernah bosen mampir kesini untuk sekedar membaca ulang ff2mu.. ff ini gak hanya sekedar ff yang biasanya.. unni selalu ngangkat tema yang lain dan sulit ditebak.. maknanya juga dalem.. menyentuh.. uhhh.. dan punya pesan moralnya juga.. gak sekedar drama.. 🙂
    oke banget deh!!

    Like

  16. ini nyata??? soalnya cara ceritanya kayak benar2 terjadi……. emosi nya sampai ke pembaca,… ditunggu karya2 mu yang lain dan tetap. semangat

    Like

  17. haiii author nopi!!! udah lama aku ga berkunjung keblog ini, kangennnn ama karya2 author nopi ♥
    aku gatau mau komen apa (maap) ini sedihh loh, siang2 bulan puasa malah galau nih :” author nopi terus semangat yaaaaa ‘-‘)9

    Like

  18. tetap semangat kak buat apapun itu. aku dulu pernah baca ff kakak yang cast sehun terus dia meninggal itu dan aku kaget pas tau itu cerita pribadi kakak. aku ngerti pasti gak mudah ngejalaninnya, walaupun aku emang gak pernah ngerasain langsung gimana rasanya. aku cuma berharap kakak gak terus larut sama kenangan yg gak enaknya, tapi ingat kenangan manisnya. dan buat ff keputuasan apapun itu aku selalu dukung. benar kata kakak buat ff emang gak mudah. aku nyoba buat satu aja mikir jalan ceritanya susah banget apalagi harus nulis panjang kaya kakak. dan aku juga sekali lagi berharap kakak punya alasan nulis dari hal baru yang udah kkak temuin nanti. semangat kak, maaf kalo komenannya sksd atau gak nyambung hehe

    Like

  19. ini dalem banget TT yah karena dengan menulis kau dapat menciptakan duniamu sendiri, tapi bagiku dengan membaca sekalipun aku memiliki dunia sendiri yg mungkin berbeda dengan cara pandang penulis itu sendiri

    Like

  20. mungkin komen aku bener2 telat…
    tapi kak aku baru baca FF ini…
    kakak tau? ini benar2 menakjubkan…
    pesan yg disampaikan lewat sebuah fiksi/cerita
    ketika arti itu benar2 bisa di serap oleh reader itu artinya penulis berhasil! berhasil dalam karyanya….
    tapi… aku tau gimana terbelenggunya ketika kita harus merampungkan sebuah tulisan namun hati dan pikiran kita sudah tak sejalan…
    itu lebih rumit daripada mengambil keputusan di ruang operasi saat keadaan emergency! karena hanya dua kemungkinan yaitu “hidup” atau “opsi ke dua”
    sedangkan menata hati untuk hal yg berkaitan dg dunia “menulis” misalnya… seperti terkurung dala. sebuah labirin cermin…
    jika kita hanya menggunakan mata dan pikiran… mungkin sulit untuk menemukan jalan keluar… tapi… jika percaya… berbaikn dg diri sendiri… memanfaatkan kemampuan hati dan mendengarkan petunjuk dari yg mampu memberi jalan keluar…
    percayalah… keajaiban itu memang tidak ada… tapi bukan hal mustahil jika menjadikan hal real menjadi sebuah keajaiban…
    Hwaiting! 🙂 move up… dan coba tersenyumlah untuk diri sendiri

    Like

  21. Sering-sering buat ff bertema kayak gini kak. Ya walaupun kesannya baper dan nggak mau maju kemasa depan, tapi dari kalimat yang kak JiYoo buat di ff ini jadi motivasi tersendiri buat aku. Keren banget, gara-gara kak JiYoo, aku jadi punya cita-cita jadi seorang penulis^^

    Like

  22. Jiyoo :’) Semangat! Aku gak tau apa ini bisa sedikit berguna, tapi aku juga ngerasain apa yang kamu rasain ketika kita mesti nulis dan dikejer deadline juga tagihan dari readers. Aku juga author, sama kayak kamu ya walaupun tulisanku gak sebaik tulisan kamu. Aku baru nemu blog kamu hari ini, dan aku pikir kamu punya bakat yang luar biasa. Menulis itu gak gampang, butuh waktu, butuh ruang dan juga perasaan buat semua tulisan. Di awal kamu bilang gt, aku nebak ini mungkin bakal jadi media kamu nyampein cerita hidupmu, dan bener. Jujur aku ikut nangis baca ini, walaupun aku cuma pembaca tapi aku ikut ngerasain gimana sulitnya. Yang tabah ya :’) selalu doa buat dia dan jangan berenti nulis karena dia bakal dukung kamu dari atas sana, begitu pun kami. Huft! Semangat Jiyoo 🙂

    Like

  23. Kenapa aku baru nemu blog ini coba? Setelah sekian lama knpa aku baru nyemplung dan kesasar disini? Knpa gak dari dulu2 :”( ini ff pembuka. Ff pertama yang kubaca diblog ini. Aku mau lanjutin ke ff yg lainnya ya kakak… terimakasih sebelumnya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s