Midnight Romeo Chapter 3 – JiYoo19

mr

Hanya ada satu hal yang dapat ku gambarkan tentang Kim Jong In.

Romeo tengah malam. 

***

Cinta ada, hanya dengan adanya keabadian.

Saat pertama adalah pertemuan. Lalu ada sebuah penegasan yang muncul.

Secara psikologis gila, kekosongan, panik, khayalan bahwa saat ini akan berlangsung selamanya.

Aku disita oleh keinginan.

Aku bersembunyi di balik punggung dan menunda semua jawabanku.

Mungkin seperti itu; cinta hal yang jujur—tapi ada masanya dipenuhi kebohongan yang kejam. Terlalu naïf juga egois.

 ***

Ada alasan yang tidak mungkin orang lain mengerti.

Terkadang mereka terlalu cepat menilai sebelum tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Bukankah ini kejutan?

Dari semua hal yang kau anggap sebuah masa lalu.

Tidak pernah ada yang menjamin apakah hal itu sudah terkubur di dasar hatimu.

Sesuatu yang terkadang tidak pernah kau pikirkan, akan terjadi.

JiYoo19

***

PROLOGUE  CHAPTER 1 CHAPTER 2

 

Aku merasa Tuhan mencoba mengujiku. Dia memperlihatkan dosaku yang nyata.

Ketika pemuda itu berbalik, ia berjalan tepat  di sebelah deret bangku panjang yang ku duduki. Satu-satunya hal yang tidak ku harapkan hanyalah ia yang mengacuhkanku. Berpura-pura tidak saling kenal sama seperti saat kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku yakin ia pasti tak akan jauh berbeda dari yang dulu, tapi kegelisahan di dalam hatiku membuat dadaku sesak. Tiap derap langkahnya yang mendekat, aku merasa malaikat sedang berusaha menarik nyawaku keluar.

Aku tidak pernah tahu sejak kapan jantungku berdetak lebih cepat.

“Kau?”

Dia memakai jas hitam. Rambut itu tidak berbeda dari yang dulu. Masih acak-acakan, masih berkulit kecoklatan dan tatapan mata yang mengancam.

Secara spesifik tak ada yang berubah dari Kim Jong In kecuali kedewasaan yang mempertegas raut wajahnya.

Dia Cassanova itu.

Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk tersadar. Kemudian aku tersenyum canggung dan berdiri. Rasanya dadaku ingin meledak karena sangat takut.

Aku membungkuk singkat, sekedar memberi tanda formalitas untuk menghindari berjabat tangan dengannya.

“Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di tempat ini Jong In-ssi.”

Jong In… Kim Jong In…

Lidahku terasa getir menyebut namanya.

Wajahnya datar seperti biasa, kemudian ia tersenyum tipis dan balas membungkukkan badan.

“Aku juga begitu Cheonsa-ssi. Lama tidak bertemu denganmu setelah reuni terakhir yang diadakan sekolah.”

Aku tersenyum kecut.

Oh, reuni itu?

Ternyata dia masih mengingatnya. Kenangan yang berusaha ku buang jauh-jauh dan sekarang orang di depanku kembali mengungkitnya.

Itu adalah reuni yang diadakan oleh sekolah kami dua tahun yang lalu. Awalnya aku tak terlalu mengingat saat itu. Tapi seperti inilah Kim Jong In yang sesungguhnya, dia selalu membuat kejutan.

Tidak ada hal lain yang ku pikirkan selain rasa takut yang menusuk dadaku berulang kali. Aku juga tidak berpikir untuk memperpanjang obrolan dengannya, tapi ketahuilah ini bukan kehendakku.

Dan tampaknya Tuhan tak mengizinkan ini berakhir semudah kelihatannya.

“Kelihatannya kau bekerja di salah satu perusahaan swasta,” aku menatapnya dari atas hingga bawah. Berniat mengalihkan pembicaraan ke hal yang tidak terlalu penting.

Atau malah… aku memancing obrolan lain yang akan merepotkanku sendiri?

“Lebih baik kita berbincang di luar saja,”

Laki-laki itu hanya memasang senyum, kemudian seenaknya membawaku keluar dari gereja. Aku menahan napasku ketika kulitnya yang hangat menyentuh tanganku yang dingin. Kami berdiri di depan gereja, tidak banyak orang yang berlalu lalang di sini. Tapi justru ini lah yang ku takutkan. Terlibat obrolan yang menyulitkanku. Dan kau benar-benar tidak beruntung Cheonsa.

Kim Jong In masih tersenyum, tatapannya tidak berpaling dariku. Matanya meneliti keadaanku yang sangat memalukan.

Aku tahu itu bukan senyum yang tulus. Tidak seperti beberapa tahun lalu dimana itu adalah pertama kalinya aku melihat Jong In tersenyum tulus.

Dia tidak begitu.

“Lalu apa yang kau lakukan Cheonsa-ssi?” tatapan matanya tertuju pada kantung pelastik putih di tanganku yang berisi obat-obat. Aku hanya tersenyum tipis. Menyembunyikan rasa gugupku.

“Bukan apa-apa, hanya sekedar membeli perlengkapan wanita.”

Aku menunduk, menghindari tatapannya.  Cuaca semakin terik, panasnya menyengat kulitku. Aku melihat jam yang tertera di menara gereja.

Pukul 11 tepat.

Ku lirik Jong In, dan ia masih memperhatikanku. Aku tak punya banyak waktu untuk tinggal, tangan dan kakiku mulai kebas. Dadaku mulai sesak, harusnya ku ketahui ini lebih awal. Aku harus kembali ke rumahku.

Aku harus segera istirahat untuk memulihkan keadaanku atau ini akan semakin buruk.

“Mungkin kita bisa membicarakan beberapa masalah belakangan ini dengan secangkir kopi?”

Mata itu mengerling jenaka. Dari sudut ini, matahari bagai menembus tubuhnya. Sangat silau, tapi bukan itu maksudku. Entah sihir apa yang membuat rasa takut ini memudar, aku tidak tahu mengapa jantugku berdetak kencang ketika mata itu menatapku. Rasanya sangat gugup. Aku grogi.

Itu terdengar seperti tawaran yang bagus.

Kopi.

Di siang hari yang panas.

Atau aku salah mengira kalau Kim Jong In memang orang idiot?

“Aku…”

Tuhan pasti hendak memberiku ganjaran. Malaikat di atas sana juga pasti tertawa puas melihatku. Di atas segala derita, di ujung rasa sakit yang hampir membuang jiwaku ke alam yang jauh.

Kenapa Kim Jong In?

“Ayo,”

 

—(midnight romeo)—

“Aku pesan kroisan dan kopi.”

“Moccacino.”

Pelayan itu mencatat pesanan kami, kemudian dia pergi. Sekarang aku berada di salah satu café yang terletak di seberang jalan. Jong In yang membawaku ke sini, café yang tak pernah ku datangi. Dan di deret paling belakang Jong In menyuruhku duduk di sana.

Di tepi jendela, sinar matahari menyinari tubuhnya. Ia tersenyum.

Lagi-lagi dadaku berdesir. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku sudah mencoba untuk memperparah keadaan, tapi seperti yang kita semua tahu.

Rencana-Nya memang selalu tersembunyi. Tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Bahkan untuk satu detik kemudian dan keesokan harinya.

Mata Jong In melirikku, ia menumpukan tangannya di atas meja.

“Aku belum bekerja. Masih ada waktu sekitar seminggu lagi sebelum aku menyudahi cuti kuliah.”

Aku menatapnya tepat di mata. Itu tetap terlihat sama meskipun kami sudah lama tak bertemu. Sesuatu yang aneh menyergap dadaku. Membuatnya sesak tapi tidak sakit, mungkin ini yang dinamakan rindu.

Tidak ada yang berubah baik dari caranya bicara maupun bersikap. Rambutnya, wajahnya, dan mata yang menatapku tidak serius…

…harusnya aku bisa menebak siapa orang yang selalu seperti itu.

“Itu terlihat seperti dirimu Kim Jong In.”

Dia tertawa kecil. Mungkin menurutnya ini lucu, tapi bagiku ini sangat menyesakkan.

“Oh maaf. Dan… bagaimana denganmu? Kurasa kau cukup sukses di bidang akademis.”

Aku mengangkat sedikit sudut bibirku. Mencoba tersenyum walau kuyakin itu akan sangat hambar.

“Tidak berubah secara spesifik. Tapi aku sangat berusaha untuk itu.”

“Kau kuliah di mana?”

“Universitas Nasional Seoul.”

Aku mendengarnya berdecak kagum.

“Pasti sangat sulit masuk ke sana.”

“Mereka membuatnya seperti kami para peserta ujian harus mendaki tembok berlin dan berlari sepanjang great wall sebelum mendapatkan kertas soal.”

Jong In tertawa. Matanya terpejam dan itu sangat lucu. Sudah lama aku tak melihatnya seperti itu. Dari dasar hatiku terselip perasaan hangat yang familiar, hanya saja terasa menyakitkan.

“Tapi kau melaluinya dengan baik. Aku yakin orang tuamu pasti sangat senang.”

Kemudian air mukaku mengeruh. Rasa sakit itu terasa semakin menyakitkan. Mencoba untuk menembus dadaku.

“Sejujurnya mereka berusaha untuk tidak perduli. Tapi itu mungkin saja.”

Pemuda itu tersenyum. Entah apa lagi yang ia rencanakan.

“Kau tidak berubah.”

Aku tertawa. Oh itu bagus. Aku memang sangat menyadari bahwa tidak ada perubahan yang cukup andil besar di hidupku selama tiga tahun belakangan. Aku hanya hidup dengan garis besar rencana dan kecacatan takdir. Memangnya apa?

“Terima kasih.”

Jong In menyesap kopinya. Ini musim panas yang penuh dengan kejutan. Keesokan harinya aku tak tahu, barang kali akan ada kejadian yang benar-benar tak terlupakan. Tapi seperti apa?

Ada rasa sakit saat aku melihatnya tersenyum. Aku melihat bayangan Eun Soo, kilasan hitam-putih itu berada di depan mataku, dadaku sangat sesak sampai aku susah untuk bernapas. Ditinju berulang kali hingga remuk.

Itu belum pasti benar, tapi hipotesa apa yang dapat mendukung argumen itu?

Kim Jong In selalu seperti itu.

Dia Cassanova. Berpetualang dari wanita satu ke wanita lainnya. Dia tidak menganggapku apa-apa, bahkan mungkin tidak lebih dari orang yang menyandang suffix – sshi.

Kami tidak akrab sejak SMA, dan sejatinya memang begitu. Jong In adalah siswa terkenal, sementara aku tidak lebih dari penguntitnya yang kurang kerjaan. Menulis surat cinta untuknya dan berharap bahwa suatu hari nanti Cassanova itu akan melihat kepadaku.

Dulu, ku katakan bahwa aku mencintaimu. Dan har ini kita bertemu setelah selang waktu yang panjang.

Di gereja dan di hadapan Tuhan serta malaikat. Kemudian berbincang di kedai kopi seperti halnya teman lama.

Kau Kim Jong In. Pemuda berusia 21 tahun dan aku memanggilmu Romeo.

“Kau berniat melanjutkan kuliah ke luar negeri?”

Dan pertanyaan itu begitu telak. Dia tahu.

“Kau tahu?”

Jong In hanya mengangkat bahu. “Tebakan yang beruntung.”

…mungkin tidak. Tapi sekarang aku tahu kenyataannya.  Dia ahli menebak.

“Oh.” Aku kehilangan respon yang cukup kondusif karena hal itu. Bahkan sejak awal aku tak tahu apa maksud Jong In mengajakku ke tempat ini dengan dalih ingin ngobrol berdua. Dia tidak bercanda kan?

Aku merasa sakit melihatnya, bahkan saat tersenyum sekalipun. Semuanya bohong, dan sejak dulu selalu seperti itu.

Mencoba kuat?

Itu bisa jadi.

“Dan bagaimana soal pacarmu Cheonsa-ssi?”

Hatiku berdenyut dan itu sangat sakit. Kim Jong In tersenyum seolah-olah sedang mencemoohku. Dia bertanya hal yang sangat tabu. Lalu bagaimana dengan jawabanku?

“Kurasa kau punya pengalaman yang lebih baik soal itu Jong In-ssi.”

“Tidak selalu.”

“Tapi semua orang di sekolah tahu siapa dirimu. Kau Cassanova.”

Aku mendengarnya tertawa. Bahkan suara tawanya masih sama. Ini benar-benar mengejutkan. Tak pernah ku dengar tawanya secara langsung, Jong In terlalu sering mengumbar senyuman hambar itu pada gadis-gadis sepanjang masa sekolah.

Tebar pesona? Kim Jong In?

Oh, itu kedengaran seperti barang pelengkap yang saling melengkapi. Prangko dan surat.

“Itu menggelikan,” suaranya terdengar samar karena tawanya.

“Sejujurnya itu terdengar sangat realistis.”

Aku tidak tahu apakah itu kata-kata yang terlampau jujur atau tidak, tapi ku harap Jong In benar-benar mengerti maksudnya.

Dia tersenyum, dan aku tahu itu adalah kerlingan mata yang terlihat tidak serius.

“Apa aku terlihat seperti penjahat wanita?”

Aku tertawa hambar.

Oh, itu retoris Kim Jong In. Semua orang di sekolah bahkan gadis-gadis cantik di klub malam mengenal siapa dirimu. Kau tampan, pemuda paling sexy di kota Seoul dan… coba beri aku satu pertanyaan bodoh tentang gadis macam apa yang bisa menolak pesonamu?

Jawabannya tidak ada.

“Bisa aku tidak perlu menjawabnya?”

Jong In tertawa. Entah itu tulus atau tidak. Tapi hati ini terasa hangat. Jauh di dalam sana, ada bisikan lirih dari dasar hatiku.

Tidak pernah aku bicara sebanyak ini. Tidak pernah aku melihatnya dari jarak sedekat ini.

Ada perasaan rindu akan hari ini, namun juga amarah yang terkunci rapat.

Lidahku sangat kelu. Rasanya sangat sesak, bahkan hanya karena mendengar suara tawanya.

Aku tidak pernah tahu jika hingga kini pun aku masih memikirkannya. Oh, memang sejak kapan?

“Park Cheonsa-ssi, kau sangat menarik.”

 

—(midnight romeo)—

 

Cinta bagi orang lain begitu sederhana dan mudah.

Tapi untukku, cinta bisa jadi hal rumit. Terlalu sulit untuk dihapus seperti tato.

Lalu bagaimana dengan Kim Jong In?

 

—(midnight romeo)—

 

Hari ini aku menuliskan namamu di selembar kertas. Tepat di tengah malam.

Kau bernama Kim Jong In, berusia 21 tahun dan aku mencintaimu.

Kita bertemu lebih dari tiga tahun lalu di sekolah. Benar, kita bersekolah di tempat yang sama. Semua gadis menyukaimu. Memangnya siapa yang bisa menolak pesona sang Cassanova?

Aku berdiri dari jauh. Menganalisa.

Tapi lama-kelamaan aku merasa bodoh.

Harusnya aku tidak perlu melakukannya. Harusnya aku juga tahu kalau kau tidak pernah tulus.

Senyum itu palsu.

Dan hari ini aku bertemu denganmu di gereja. Kau masih sama seperti terakhir kali kita bertemu. Rambutmu masih berwarna coklat tua, berkulit coklat dan memiliki senyuman paling menawan.

Orang-orang menyebutmu Romeo.

Kita berbincang di sebuah kedai kopi. Kau memesan kroisan dan kopi. Aku tidak mengerti apa alasanmu untuk bicara berdua saja denganku. Setelah acara reuni memilukan beberapa tahun yang lalu, aku tidak pernah berpikir akan bertemu lagi denganmu.

Kurasa ini keajaiban.

Mungkin juga iya, tapi bisa saja tidak.

Satu titik air mata lagi, dan kali ini aku menutup satu lembar yang lain tentang Kim Jong In.

Terakhir kalinya aku menulis adalah saat itu, namun ketahuilah aku merindukan ini. Berkeluh kesah, mengeluh tentang perasaan, dan memendam emosi ini jauh di dalam hati.

 

—(midnight romeo)—

 

“Eun Soo! Park Eun Soo! Berhenti dan dengarkan aku!”

Jong In berlari mengejar Eun Soo yang baru saja akan masuk ke dalam mobilnya. Wanita berusia 38 tahun itu menepis tangan Jong In, saat itu adalah tengah malam. Mereka berada di basement apartemen Eun Soo, tapi wanita itu sama sekali tak mengharapkan kehadiran Jong In.

“Harusnya ini sudah selesai Kim Jong In. Pergilah,”

Gigi Jong In bergemeletak. Dia marah. Karena itu ia menarik tangan Eun Soo dan mencengkeramnya kuat. Wanita itu memekik, tapi Jong In tidak peduli.

“Aku tidak pernah menyetujui hal itu Park Eun Soo!”

“Kita sudah selesai Jong In! Kita bukan apa-apa lagi! Sekarang lepaskan aku!”

Eun Soo berusaha melepaskan cengkraman tangan Jong In darinya. Tapi mata Jong In menatapnya marah, wajahnya kusut dan penampilannya sangat berantakan.

Tidak pernah sekali pun Jong In seperti ini.

“Berhentilah membual Eun Soo. Aku tahu itu tidak serius.”

Rahang Jong In mengeras, genggaman tangannya mengerat dan membuat Eun Soo meringis menahan sakit.

“Lepas!”

“Tidak akan.”

“Kim Jong In! Berhentilah bersikap kekanakan!”

Jong In tersenyum sinis, kemudian ia mendorong tubuh Eun soo hingga punggungnya terpojok di badan mobilnya.

“Kekanakan kau bilang? Justru aku lah yang harus bertanya tentang semua kegilaanmu Park Eun Soo! Tentang komitmen-mu, tentang kesepakatan kita, tentang pertunangan dan pernikahan itu! Kau benar-benar gila!”

“Kim Jong In!!”

“Aku meninggalkan semua wanita itu, aku mencampakkan mereka dan mencoba untuk mencari jalan lain. Aku mencintaimu! Aku serius dan setelah sejauh ini kau seenaknya mengatakan kita selesai! Apa yang kau pikirkan?!!”

“Kau tidak mengerti Jong In!”

“Park Eun Soo!”

Wanita itu menitikan air matanya. Ia berhenti bicara dan menatap Jong In dengan tatapan sedih. Jong In sendiri berada di puncak amarahnya pada wanita itu. Matanya merah, buku-buku jarinya memutih dan wajah itu hampir tidak kelihatan di dalam gelap.

Eun Soo menunduk dan membiarkan air matanya jatuh. Dia terisak. Dadanya sangat sesak seakan-akan ditinju berulang kali.

Ada sesuatu yang tidak Jong In mengerti. Sesuatu yang sangat mengganggu bahkan sejak lama, hanya saja Eun Soo tak punya keberanian untuk mengungkapkan itu.

Eun Soo mengambil tindakan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jong In hari ini. Dia tidak perduli respon Jong In terhadap tindakannya. Ia tahu Jong In yang sangat serius dan mencintainya. Tapi itu tetap bukan alasan bagi Eun Soo untuk mencoret halaman ceritanya. Dia benar-benar tidak punya pilihan lain.

“Ini demi putriku Jong In.  Ku harap kau bisa mengerti,”

 

 TBC

Advertisements

228 thoughts on “Midnight Romeo Chapter 3 – JiYoo19

  1. Loh kok ‘demi putriku?’ maksutnya apaan nih 😀
    apa jangn2 Eun Soo nya tau kalo Cheonsa dulu suka ama Jong In?? Ahh entahlah. Good job thor ;;)

    Like

  2. Astaga….aku enggak nyangka.Sejak kapan eun soo tahu kalo cheonsa suka sama jong in?dan dia mutusin jong in karena itu.Yah,walau kelihatannya dia gak peduli sama cheonsa tapi ternyata dia perhatian dan berkorban demi cheonsa.Biar bagaimanapun ia tetap seorang ibu yang mementingkan kebahagiaan anaknya kan??.Di lain sisi eun soo mungkin juga benar benar mencintai jong in.Aku tunggu lanjutannya…

    Like

  3. Dasar cassanova jongin iiiiih greget, cheonsa pasti bimbang itu ketemu lg jongin huhuhu.
    kenapa lagi eommanya cheonsa sama jongin? Udah putuuus ajaaaa.
    ahh kenapa bagus banget sih ffnya authornim. Keep writing yaaa ditunggu next chapter^^

    Like

  4. Eomma cheonsa mungkin tahu kalau cheonsa dr dlu suka sama jongin ..makanya sekrang jongin d putusin..udah takdir bang lebih baik suka sama yg sebaya loh

    Like

  5. nunaaaa ya ampun si jojong jd sakit gitu masa suka ama emaknya si cheonsa
    bijimana ieu teh
    oia nuna salken aku pembaca baru pengen tau ff karya nuna tp belom bisa dibaca karna proteksi
    semoga ff yg aku kepoin dr thun lalu (my pevert husband) bisa aku baca dr part 1- sekarang

    Like

  6. Pingback: Midnight Romeo Chapter 5 – JiYoo19 (D.OneDeer19) | Elfsotics19

  7. Oke paham. Pada akhirnya seoranf ibu gak mungkin mengkhianati anaknya sendiri. Haha apaan sih.
    Eun soi tau kan kalo cheonsa suka jongin . jadi yeah, jangan bilang eun soo punya perasaan mendalam ke jongin. So dramatic.
    Aku tau kamu ambakalan ngasi kejutan lainnya lagi 🙂

    Like

  8. Mgkin eunsoo tau cheonsa suka sm jongin 😐 mknya dia mutusin jongin haha 😀 jongin juga aneh bgt -_- sukanya sm tante2 anjir bias gue sering dinistain sana sini 😀 mgkin kalo bekyun gpp kl beda 3th walopun gue emang blm ngerelain 😀 udah lg sakit2nya eh malah ketemu jongin udah gt ngajak ngobrol minum kopi brg njir perasaan cheonsa sudah lelah :v

    Like

  9. TBC nya ngegantung banget :’)
    Mksdx Eunsoo itu smua demi putri nya-apa ya? Kyax si eunsoo udh tau klo Cheonsa trnyata jtuh cinta sm Jongin dri dulu..
    Seru bnget sumpah.. haaaahhh drpd bnyak ngmong, mnding lgsg lanjut ke TKP aja lagi.

    Like

  10. Jadi eunsoo tau kalo cheonsa suka ama jongin?
    Sebegitu/? cintanya jongin ama eunsoo? Doh kok gue sedih sendiri sih, sumpah ini bkin gue ngebatin bet

    Like

  11. Pingback: Midnight Romeo Chapter 6 – JiYoo19 (D.OneDeer19) | Elfsotics19

  12. hikss.. hikss… ini masalahnya kok komplikated banget… sedihh bacanya.. itu eonseo putusin jongin emang udah tau ttg cheonsa… unghh penasaran…

    Like

  13. OMG kenapa jongin suka ahjjuma sih !!
    Apalagi itu eommanya cheonsa waduh cerita ini langkah .. cinta segitiga antara ibu dan anak..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s