Midnight Romeo Chapter 1 – JiYoo19

midnight romeo

Hanya ada satu hal yang dapat ku gambarkan tentang Kim Jong In.

Romeo tengah malam

***

Cinta ada, hanya dengan adanya keabadian.

Saat pertama adalah pertemuan. Lalu ada sebuah penegasan yang muncul.

Secara psikologis gila, kekosongan, panik, khayalan bahwa saat ini akan berlangsung selamanya.

Aku disita oleh keinginan.

Aku bersembunyi di balik punggung dan menunda semua jawabanku.

Mungkin seperti itu; cinta hal yang jujur—tapi ada masanya dipenuhi kebohongan yang kejam. Terlalu naïf juga egois.

 

***

Bukan hidup yang tak diinginkan, juga bukan salah Tuhan atas kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan.
Hanya saja takdir punya cara yang lain menentukan sebuah jalan.
Untuk jatuh cinta dan mengemukakan penyesalan.

JiYoo19

PROLOGUE

***

Seoul National University, Gwanak- gu,  Seoul, 12th July, 2014.

INI adalah festifal musim panas yang diadakan Universitas Nasional Seoul. Sebelumnya aku juga tidak pernah tahu tentang festifal ini, padahal aku sudah menduduki semester ke empat dan sebentar lagi akan memasuki persiapan untuk menyusun skripsi.

Satu-satunya sebab paling mungkin mengapa hal itu bisa terjadi adalah aku yang tidak pernah meninggalkan kelas dan terlalu sibuk dengan jadwal kuliah tambahan untuk mengikuti program kuliah di Los Angels.

Oh, mungkin ini terlalu terburu-buru. Apa yang dikatakan Hyunjo memang benar, aku bahkan sudah membuang masa mudaku jauh-jauh demi program kuliah ke luar negeri itu.

Ku rasa tidak perlu ada hal yang disesali karena ini memang keinginanku. Secara spesifik, aku memang sudah merencanakan ini jauh-jauh hari—bahkan saat pertama kali masuk ke Universitas ini. Aku banyak menyusun rencana tentang apa-apa saja yang harus ku lakukan kedepannya. Hidupku dipenuhi dengan target dan ambisi. Sebuah rencana hanya satu dari sejuta hal yang selalu ku perhitungkan setiap harinya.

Keseluruhannya sejak dulu, dan aku selalu seperti ini. Tidak ada yang berubah dari Park Cheonsa.

Hanya saja, aku bukan lagi murid sekolah menengah atas yang selalu menghabiskan waktu di belakang kelas untuk membaca dan memata-matai Kim Jong In si Cassanova. Ya, itu sudah lama sekali.

Aku bukan lagi gadis remaja berusia belasan tahun yang masih suka tergila-gila pada hal tidak masuk akal seperti melakukan percobaan illegal di dalam kamar, atau menulis surat cinta untuk Kim Jong In yang kemudian ku simpan di bawah bantal dan berharap suatu hari nanti aku dapat memberikannya pada orang itu.

Semua itu sudah lama sekali. Aku bahkan hampir melupakan detil persisnya.

Matahari bersinar sangat terik. Aku berdiri di tengah-tengah keramaian festifal, banyak orang yang berlalu-lalang melewatiku dan mampir ke kedai-kedai kecil yang sudah disediakan oleh panitia. Aku tidak tahu hal apa yang bisa membawaku datang ke tempat seperti ini. Berdalih kepada Jang-seosangnim untuk istirahat dan melewatkan kuliah tambahan hari ini.

Oh, aku tiba-tiba saja merasa bodoh dan menyesal.

Dan soal Kim Jong In, aku sudah tidak melihatnya lagi sejak dua tahun lalu. Tepat di upacara kelulusan sekolah kami. Mungkin saja dia melanjutkan kuliah di luar kota. Itu bisa jadi, yang jelas aku tidak pernah mendengar berita apa-apa soal dirinya. Salah satu faktor paling besarnya adalah aku yang enggan mengungkit-ungkit soal pemuda itu. Menurutku, Kim Jong In hanya segelintir masa lalu di kehidupan remajaku yang sudah terlewati. Dia cuma sebuah fase yang menempati urutan terendah yang bisa saja tertumpuk dengan hal-hal lain yang lebih kuinginkan.

Tidak penting.

Ku akui aku pernah menyukainya. Dari dalam lubuh hatiku pernah tersimpan nama Kim Jong In meskipun aku berusaha menepis kemungkinan paling buruk yang pernah ada. Maksudku—aku tidak ingin jadi gadis bodoh yang bisa dengan gampangnya terpesona pada orang seperti Kim Jong In.

Berambut coklat tua, berkulit gelap dan memiliki senyuman menawan. Orang-orang memanggilnya Romeo.

Tapi tidak. Dia tetap saja si brengsek Cassanova. Perayu ulung yang sanggup membunuh wanita manapun dengan kerlingan matanya yang tidak serius.

Itu sangat konyol.

Aku bukan tipe orang yang bisa mengingat hal-hal yang tidak berarti untukku. Kim Jong In salah satunya. Aku punya banyak sekali rencana kedepannya. Seperti mengikuti berbagai seminar, jam kuliah musim panas, dan mengikuti kursus-kursus belajar—yang ku tahu rasa lelahnya melebihi bolak-balik berjalan kaki dari Gwanak-ju ke provinsi Gyeonggi.

Masih sama seperti yang dulu. Bahkan sifat dan sikapku pun tidak berubah. Aku bukan seperti gadis-gadis lain yang tertarik menikmati masa muda dengan bergaul dengan sesame mereka. Berbicara tentang pemuda tampan dari Fakultas sebelah dan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan. Oh, sungguh, aku sangat tidak tertarik.

Hidup tanpa kasih sayang yang cukup dari keluarga jelas membentuk kepribadianku menjadi dingin dan kaku. Aku hanya terlahir dari keluarga biasa. Tidak memiliki seorang ayah yang jelas, dan mungkin apa yang ada di kepalamu saat kau melihat Ibumu pulang ke rumah dengan pria berbeda setiap harinya? Oh, Ibuku hanya seorang model yang gila laki-laki. Itu satu-satunya hipotesa yang bisa ku simpulkan sejauh ini.

Oh, oke. Kalian tidak sedang salah dengar atau aku yang memang ngelantur. Ibuku memang seorang model. Usianya 38 tahun dan… yah, dia tidak terlihat seperti Ibuku sebenarnya.

Orang-orang itu benar. Dia bahkan masih terlihat seperti kakakku.

Tapi tak mengapa. Tidak ada yang perduli soal Ayah dan keluarga karena selama ini aku memang sendiri. Aku tidak punya kakek dan nenek, barang kali mereka tidak ingin mengakuiku hanya karena aku adalah anak hasil hubungan gelap Ibuku dengan pria-pria itu.

Di hadapanku, sebuah dunia dan orang-orang yang pergi melewatiku. Aku terlalu terbiasa akan hal ini,  seolah-olah aku selalu siap untuk ditinggalkan sendiri. Aku bahkan tidak yakin orang lain menanggapi secara serius keberadaanku. Dan Ibuku adalah salah satunya.

Terlalu melankolis rasanya memikirkan hal itu. Lagi pula, aku juga tidak terlalu perduli dengan hidupku. Aku terlalu sibuk menyusun rencana esok hari dan di kemudian hari hingga melupakan rasa sakitnya.

Ku sadari ini memang hidup yang kaku. Aku cuma berusaha bersikap terlampau defensif hingga selalu di cap orang kuno oleh sebagian orang. Tidak menyenangkan, aneh, dan dingin. Oh, baiklah. Tidak apa-apa, aku selalu begitu sejak dulu.

Aku mampir ke sebuah kedai kecil di sebelah kios dduboki. Kedai itu menjual es krim, ku rasa tidak ada salahnya pergi ke sana. Cuaca sangat panas sekarang, ditambah lagi keramaian yang membuatku semakin pusing dan pengap.

Tangan kananku menjinjing laptop sementara tangan kiriku mendekap buku-buku pelajaran yang tebalnya sanggup membunuh seekor Mamoot. Rasanya kram sekali, sendi-sendiku mendadak kaku seperti engsel pintu yang berkarat. Terasa sakit sampai aku tidak bisa merasakan jari tangan dan kakiku.

Aku duduk di meja paling belakang yang bersisihan langsung dengan jendela besar. Aku langsung memesan es krim rasa coklat dengan topping buah beri. Kemudian ku hela napas dan memegangi kepalaku yang sedikit pusing.

Ada apa dengan hari ini? Ku kira harusnya ini akan jadi pertengahan musim panas yang biasa saja. Tapi aku salah, sekarang adalah puncaknya dan matahari benar-benar berniat memanggang semua orang di Seoul. Dari dalam kedai aku melihat keramaian itu, belum ada tanda-tanda untuk sepi, para mahasiswa masih saja sibuk berjalan ke sana-kemari seolah-olah mereka semua amnesia dengan kata capek. Mereka terus menjajal tempat-tempat dan kedai yang mereka nilai pantas untuk didatangi.

Aku baru saja datang ke festifal kurang dari 15 menit dan seluruh tubuhku jadi kram karena terlalu lama berdiri. Oke, aku menyerah.

Begitu es krim pesananku datang, aku langsung memakannya sembari melihat-lihat daftar rencana yang akan ku lakukan besok.

Ini seharusnya jadi Sabtu yang menyenangkan, tapi besok adalah hari Minggu. Itu berarti tidak ada yang akan ku lakukan. Tidak ada rencana.

Aku menghela napas, kemudian menutup buku itu dan meletakkannya di atas tumpukan buku lain.

Sejujurnya aku tidak suka hari Minggu. Bukannya apa-apa, hanya saja tidak ada yang bisa ku lakukan untuk membunuh bosan. Aku cuma berdiam di dalam kamar membaca buku dan meringkuk seperti orang di panti rehabilitasi yang menunggu hari esok.

Aku tinggal di sebuah rumah petak kecil distrik Geumcheon. Daerah Geumcheon memang kurang menonjol dari daerah lain karena pendapatannya sangat rendah, tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain untuk mencari tempat tinggal yang lebih layak dan menghemat waktu untuk pergi ke kampus.

Ada masanya aku merasa sangat lelah dan ingin rehat sejenak. Rencana-rencana itu memang mengusikku, terlalu membebani hingga pundakku terasa lebih berat dari saat pertama kalinya difonis mengidap pneumonia.

Tapi tak mengapa. Harusnya aku bisa lebih banyak bersyukur dan menjalani hidup dengan sewajarnya.

Ku tatap langit biru dan awan-awan putih kecil di atas sana. Rasanya ada yang janggal; seolah-olah bisa membaca gambar-gambar aneh yang tercipta dari awan-awan di langit bagai peramal yang salah tujuan, aku meratapi musim panas hari ini dengan mengeluhkan segala aspek yang jelas-jelas tidak penting. Sayangnya aku tidak tahu apa yang ku maksud. Lalu aku menghela napas lagi.

Tapi, tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku mengambilnya dari saku blazer dan melihat nama si pemanggil di layar. Hanya saja ada yang berbeda, aku tidak menemukan nama siapapun di layar ponselku kecuali nomor misterius itu.

Aku mengerutkan dahi bingung.

Yeoboseyo,”

“Yeoboseyo?”

Suara seorang pria terdengar dari seberang telepon, nadanya berat. Tiba-tiba saja dadaku berdenyut.

Sepertinya aku pernah mendengar suara orang ini.

“Maaf, sepertinya aku salah orang.”

Tidak seperti biasanya aku tak pernah merasa begitu penasaran dengan orang yang salah sambung. Aku juga tidak ingin repot-repot menelepon balik dan menanyakan identitas si penelepon, tapi… entahlah, aku merasa mengenali suara itu.

Terasa cukup lama. Hampir tidak dikenali.

Kemudian sambungan telepon itu terputus. Aku tidak mendengar apapun selain kebisingan dari festifal musim panas.

Mungkinkah aku sudah gila? Atau bagaimana mungkin aku bisa mengira bahwa suara itu sangat mirip dengan suara Kim Jong In?

Ya Tuhan… sadarlah Park Cheonsa! Ayo kembali berpikir secara sehat; maksudku, untuk apa orang seperti Kim Jong In mau repot-repot meneleponmu untuk mengatakan ‘Halo’ dan  ‘maaf, aku salah sambung’ seperti orang kurang kerjaan?

Rasanya itu terlalu berlebihan mengingat diriku sendiri.

Aku, seperti yang semua orang tahu bukanlah gadis menarik. Tentu saja itu sebabnya mengapa aku berada di deret terbawah kriteria pacar idaman semua pria lajang.

Aku menyedihkan. Bukan hanya soal gadis kutu buku yang dingin. Oh lihatlah aku di cermin. Si Romeo itu jelas-jelas akan menertawakanku nanti.

Tidak ada Julliet yang mau repot-repot pakai celana training saat musim panas. Tidak juga dengan rambut yang diikat asal-asalan dan baju kaus kedodoran seperti penduduk yang terpaksa diisolasikan ke perbatasan.

Oke, jangan pikirkan dia lagi.

Aku harus berhenti memikirkan Cassanova si perayu ulung itu sebelum aku menjadi benar-benar gila.

— (m i d n i g h t – r o m e o)—

Gangnam-gu, Seoul, 12th July 2014.

“Salah sambung,” Kim Jong In meletakkan ponselnya di atas meja. Pandangan Lee Taemin tertuju pada Jong In, dahinya berkerut bingung.

“Tidak mungkin. Itu memang nomor ponsel Nona Park Eun Soo.”

Jong In menyandarkan punggungnya di sofa. Ia melempar pandangannya ke luar jendela apartemen. “Suaranya memang wanita, tapi aku yakin itu bukan suara Park Eun Soo.”

“Apa?”

Taemin mengambil ponsel Jong In, kemudian ia melihat riwayat panggilan terakhir di ponselnya. Tidak mungkin, seharusnya ini memang nomor Park Eun Soo.

“Bagaimana bisa?”

Jong In mengangkat bahunya acuh. “Bisa dipastikan ponselnya pada orang lain.” Jawab Jong In seadanya. Kemudian ia mengambil minuman kaleng di atas meja.

Taemin memangang Jong In risih, kemudian ia mengulangi panggilannya. Dari seberang sana tidak terdengar jawaban, kemudian suara operator lah yang menyahut. Taemin berdecak.

“Aku benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu. Terutama denganmu Kim Jong In.” Taemin menunjuk Jong In.

Yang ditunjuk hanya menatapnya lurus dan tidak perduli.

“Bisa-bisanya kau memacari seorang wanita yang lebih tua 18 tahun darimu.”

“Ku rasa itu bukan masalah,” Jong In menarik sebatang rokok dari sakunya dan menyalakan pemantik. Kemudian kepulan asap keluar dari celah bibirnya.

Lee Taemin meringis dan meletakkan ponsel Jong In di atas meja. Terkadang dan seringkali ia merasa bingung dengan jalan pikiran seorang Kim Jong In. Bukankah Jong In seorang Cassanova? Bukankah dia si pemikat wanita? Tapi kenapa dia harus memilih satu dan mengapa wanita itu harus Park Eun Soo?

“Dia sudah punya anak.” Suara Taemin tercekat saat mengatakannya. Tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering.

Tapi Jong In tetap tidak perduli. Lagi pula, itu tidak penting. Bukan masalah tentang Park Eun Soo yang lebih tua darinya dan telah memiliki seorang anak.

“Aku tahu.”

“Tapi anaknya sebaya dengan kita. Tidak kah kau tahu itu?”

Lalu Kim Jong In menghela napas. Itu tidak terlihat seperti helaan napas yang putus asa, hanya saja Jong In perlu bertanya pada dirinya sendiri terhadap hidup macam apa yang ia jalani.

Jatuh cinta pada wanita yang bahkan lebih cocok ia panggil Ibu, dan lagi sudah memiliki seorang anak yang sebaya dengan dirinya.

Kemudian Jong In menutup mata dan mengulas senyum tipis. Ekspresi wajahnya sama dengan dua tahun lalu tepat di awal musim gugur.

“Aku tahu itu.”

TBC

Advertisements

214 thoughts on “Midnight Romeo Chapter 1 – JiYoo19

  1. Pingback: Midnight Romeo Chapter 6 – JiYoo19 (D.OneDeer19) | Elfsotics19

  2. aku suka bahasa ff ini kakk.. bagus banget.. hihihi
    utu jongin cinta sama ahjuma2… apalagi udah punya anak seusiaan dia lagi.. waduwhhh jong… kenapa nggak sama cheonsa aja…

    Like

  3. Annyeong aku reader baru kk 🙂 salam kenal ya kak 🙂

    apa jongin tahu kalau park eun so yang dia pacari itu adalah ibu cheonsa ?? Semoga gk hahaha

    Like

  4. Pingback: Midnight Romeo Chapter 7 – JiYoo19 (D.OneDeer19) | Elfsotics19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s