Wedding Dress Chapter 1 – JiYoo19

wedding dress1

Title : Wedding Dress

Author : JiYoo19

Genre : Angst/ Romance

Rated : PG17 *NO NC*

Cast : Oh Sehun – Kim Ji Yoon

Another cast : Xi Luhan

SUMMARY : Ini sebuah jalan lain yang akan ku ambil. Entah untuk beberapa saat yang akan datang, aku akan merasakan kepedihannya. Penyesalan bukan permasalahan yang harus menjadi sebuah pertimbangan dalam takdir yang ku jalani.

Cinta adalah kunci dari semua masalahku. Tapi pernikahan jelas sebuah jalan lain yang harus ku pikirkan.

Oh Sehun…

Disclaimer : Karakter hanya milik agensi berwenang dan orang tua masing-masing dan jalan cerita milik author.

PROLOGUE

***

Mimpi adalah hal yang paling ku sukai. Aku suka menghayal—tentang apapun itu. Aku bisa dengan bebas berlari dari masalah dan hidup dengan cara yang ku inginkan. Karena itu adalah duniaku, tidak ada yang berhak marah atas keputusanku di sana.

Tapi adalah sebuah hal yang salah jika aku terus menerus bermimpi dan mengabaikan kehidupanku yang sesungguhnya.

Ini bukan hal yang tepat.

Ironi—ya, itu dia.

Berlari dari kenyataan, dan membohongi diri sendiri jelas sebuah luka lain. Tidak ada yang lebih bodoh dari Kim Jiyoon yang selalu lari dari kenyataan. Dan anehnya, kemanapun aku pergi, kenyataan selalu berhasil menemukanku.

Ini seperti permainan petak umpet yang ku lakukan ketika aku masih kecil. Tidak ada pemain lain selain diriku. Satu-satunya orang yang akan meraih kemenangan juga kekalahan di saat yang sama.

Apakah aku menyerah terhadap takdir?

Apa… ini adalah akhirnya?

Aku meletakkan pakaian terakhir yang telah ku lipat itu ke dalam lemari pakaian. Menumpuk kaus dan kemeja di tanganku pada tumpukan pakaian lainnya menjadi satu.

Aku memandang cincin perak yang tersemat di jari manisku dengan tatapan datar.

Satu pertanyaan kembali melintas di kepalaku.

Apakah aku yakin melakukan semua ini?

Menikah bukanlah pilihan mudah, butuh waktu bagi orang-orang untuk memutuskan masa lajangnya dan menukar kebebasan mereka dengan sebuah ikatan—karena menikah adalah komitmen. Bukan sebuah keputusan yang nantinya akan disesali karena menganggap ini adalah pilihan yang salah.

Menikah adalah janji atas Tuhan—dan inilah pilihannya. Sebuah jalan yang dengan bodohnya dapat ku ambil begitu saja, tanpa perlu berpikir lebih lanjut.

Bodoh, sangat sangat bodoh.

Kim Jiyoon dan kebodohannya jelas sebuah masalah. Itu kenyataannya. Dan cincin di jariku justru membuatku semakin membenci diriku sendiri.

Oh Sehun.

Aku tidak pernah mengira jika pada akhirnya aku akan memakai nama pemuda itu di depan namaku, menikahinya, dan tidur di ranjang yang sama.

“Jiyoon-ah?”

Sehun membuka pintu kamar kami, aku melihatnya berada di balik pintu, masih mengenakan  kaus dan kemeja yang dipakainya saat pergi ke kampus tadi pagi.

“Kau sudah pulang?”

Aku bangkit dan berjalan ke arahnya. Mengambil beberapa buku yang ia bawa dan meletakkannya di meja kecil tempat biasa ia belajar.

“Hari ini professor Jang tidak masuk, jadi kami bisa pulang lebih awal,” ujarnya. Sehun berjalan melewatiku, dan merebahkan dirinya di tempat tidur.

“Kau kelihatan lelah, kau ingin aku menyiapkan air hangat?”

“Tidak, aku bisa menyiapkannya sendiri. Ku rasa kau lebih lelah karena harus mengajar ekstra hari ini,” Sehun tersenyum  tipis.

“Kau yakin?” tanyaku memastikan.

Ia mengangguk pasti. Aku tersenyum kecil, “Aku akan menyiapkan makan malam,” ku hela nafas sejenak dan kemudian melangkah keluar untuk menyiapkan makan malam.

Jam menunjukkan pukul setengah delapan saat aku memotong-motong brokoli menjadi potongan kecil. Udara di luar cukup dingin, jadi ku rasa sup untuk menu makan malam bisa membuat tubuh kami terasa hangat.

Aku memasukkan kaldu sapi ke dalam panci kecil bersama potongan brokoli dan wortel. Aku menambahkan sedikit garam sebelum memasukkan potongan daging sapi ke dalam panci. Kepulan asap membumbung tinggi, memenuhi dapur kecilku dengan aroma lembut sup yang ku buat.

Jika dulu aku hanya masak ramen instan, sekarang aku benar-benar harus memasak bukan hanya untuk diriku. Harus berbagi dalam segala hal, bahkan untuk urusan ranjang. Rasanya menggelikan mengingat di usiaku yang baru menginjak 19 tahun ini harus berkutat bersama kegiatan rumah tangga seperti memasak.

Kemampuanku memang jauh dari kata sempurna, tapi aku berusaha keras untuk menjadi seorang istri yang baik meski ku tahu Sehun tak akan pernah perduli soal itu. Entah apa, ku rasa ia tak pernah menyisakan bagian di kepalanya untuk sekedar mengingatku.

Oh, sudah berapa lama aku menjalankan peran ini?

Sudah berapa lama aku membohongi diriku sendiri dengan mengatakan semuanya akan baik-baik saja?

Aku selalu berbohong—dan akan terus hidup dari balik drama yang ku sutradarai. Entah sampai kapan aku tidak tahu, mungkin akan berakhir ketika akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi kebohongan ini.

Setelah musik berakhir, maka aku akan bersamanya. Mungkin ini akhirnya.

Aku sudah hidup terlalu lama di dalam kebohongan.

Sehun tiba di dapur, dan mengambil alih sendok sup yang ku gunakan untuk mengaduk sup di panci. Ia tersenyum. Aku hendak mengajukan protes keras, ketika Sehun mengecup sudut bibirku singkat. Matanya mengerling.

“Jangan menolak, aku hanya ingin membantumu,”

“Kau lelah,”

“Bukankah kau juga?”

“Aku bisa melakukannya sendiri, Sehun-ah,” aku berusaha meraih sendok itu dari tangannya, namun ia mengangkat sendok itu hingga aku tak sanggup mengambilnya.

“Tidak apa-apa, kita bisa mengerjakan ini bersama.”

Jangan terlalu baik padaku, Oh Sehun.

“Baiklah,”

Aku mengambil cuka dan menambahkannya ke dalam sup sementara Sehun terus mengaduk-aduk isi panci itu. Aku menatapnya cukup lama. Memandangi detil wajahnya hingga aku tidak dapat menyangkal bahwa ketampanan pemuda ini benar-benar dilewat batas.

Matanya yang kecil terlihat begitu teduh, hidung itu, lalu bibirnya yang kecil berwarna pink pucat…

Aku tidak tahu apa yang ku pikirkan, tapi—

Apa kau seorang malaikat?

Ia terlihat serius dengan sup itu. Rasanya lucu, aku tidak pernah ingat tentang perjanjian ‘berbagi dapur’ dengannya. Mungkin setelah makan malam aku bisa membicarakan ini pada Sehun.

“Kau tahu, Professor Kang benar-benar menyebalkan,” celutuknya.

“Memangnya apa tugas yang ia berikan?”

Sehun meletakkan sendok sup itu di atas piring dan mulai menyandarkan dirinya di konter dapur sepertiku. Tatapannya beralih ke langit-langit dapur.

“Dia selalu mengancamku tentang beasiswa itu jika aku tidak mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Dia terlalu menekanku, percayalah! Dan itu sangat menyebalkan, bahkan ia lebih paranoid daripada Ibuku,”

Aku mengulum senyum dan mengambil sendok sup itu.

“Professor Kang hanya menghawatirkanmu, mungkin itu sebabnya ia selalu menasehatimu,”

Sehun mendengus, ia mengerucutkan bibirnya.

“Itu terlalu berlebihan,”

Sehun buru-buru mengambil sendok dan mencicipi sup di panci, “Ku rasa sudah matang, rasanya juga sudah pas. Kau mau coba?” ia menyuapkan kuah sup itu padaku. Aku mencicipinya dan mengangguk setuju.

Aku mematikan kompor, menuang isi sup itu ke dalam mangkuk dan membawanya menuju meja makan.

“Ku rasa dia benar-benar gila tentang memberikan tugas lapangan itu, Yoon-ah,”

“Tugas lapangan?”

Sehun mengangguk.

“Hasil laporannya bahkan harus diserahkan minggu depan.”

Pemuda itu hanya menghela napas dan menatap mangkuk supnya yang masih mengepulkan asap itu dengan pandangan tidak berselera.

“Ini benar-benar gila, harusnya aku tidak perlu mengikuti program beasiswa itu dan melanjutkan kuliah,”

Aku mendelik. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan itu?

“Oh Sehun!”

Pemuda itu malah menenggelamkan kepalanya di lipatan sikunya.

“Demi Tuhan, aku benar-benar ingin istirahat. Kau tahu? Tugas-tugas ini hampir membuatku gila,”

Aku tah itu…

Aku tahu kau lelah, aku tahu betapa sulitnya terjaga di tengah malam dengan tumpukan tugas yang menggunung dan waktu yang tidak lagi bisa leluasa untuk sekedar bernapas dengan benar. Ku genggam tangan pemuda itu dan tersenyum setulus yang ku bisa. Sehun menatapku dalam diam, ku amati garis wajah itu dan menemukan sejumput rasa lelah terselip di bawah matanya.

“Kau sudah berjalan sejauh ini, aku yakin kau pasti bisa melakukannya,”

Ia tersenyum. Tangannya balik menggenggam tangan mungilku hingga tanganku tenggelam oleh rasa hangat yang menguap dari kulitnya yang pucat. Sedetik kemudian ekspresinya berubah sendu.

“Aku terlalu egois. Maafkan aku…”

“Tidak, aku bisa merasakannya. Kau pasti lelah karena tugas-tugas itu, harusnya aku bisa lebih mengerti,”

“Jiyoon-ah, kau terlalu baik,”

“Itu kewajibanku, Sehun-ah. Kau kira apa yang bisa ku lakukan ketika melihat suamiku sedang berada di krisis mental sepertimu hm?”

Sehun terkekeh pelan, ia melepaskan tanganku dari genggamannya dan mulai menyuapkan sup itu ke mulutnya.

“Aku tidak percaya aku bisa mengatakan ini. Tapi…” Sehun menghentikan perkataannya dan aku menatap pemuda itu serius.

“Tapi?”

Aku mengerutkan alisku bingung. Ia kembali tersenyum dan ku tahu ia sedang mencoba mempermainkan organ dalam tubuhku yang kini mulai bereaksi mengabaikan implus dari otakku.

“… kau benar-benar seorang istri yang baik, Jiyoon-ah.”

Aku tahu bahwa logika sedang mencoba mempermainkanku. Ini kenyataan yang hampir sama seperti ironi ku rasa. Aku bisa merasakan detakan jantung ini ketika menangkap senyuman pemuda itu.

Entah sihir apa, aku tak tahu. Tapi semuanya menjadi sesederhana itu, juga menjadi begitu rumit ketika aku menemui sebuah pertanyaan besar yang tak dapat ku temui jawabannya.

Kenapa aku seperti ini?

Lantas apa?

Aku tidak tahu, jenis kebohongan apa lagi yang dilakukan oleh rasioku. Batasnya terlalu tipis dengan fakta hingga aku nyaris menganggap ini seperti mimpi.

“Gomawo… Sehun-ah.”

~OooO~

“Bersediakah kau, Kim Ji Yoon menerima Oh Se Hun sebagai suamimu dalam keadaan sehat maupun sakit hingga maut memisahkan kalian?”

“Ya. Saya bersedia.”

Aku mendengar suara itu sayup-sayup dari hembusan angin yang berlalu. Pagi terasa cukup dingin ketika aku dan Sehun memutuskan untuk keluar, berbelanja kebutuhan bulanan.

Dia memaksa ikut ke supermarket meskipun keadaan tubuhnya sedang tidak begitu baik. Ia berdalih akan sangat membosankan jika ia hanya berbaring di tempat tidur, mungkin dengan mengikutiku berbelanja, ia bisa sedikit lebih baik.

Alasan paling konyol.

Pagi terlihat mendung, sapuan rata warna abu-abu mendominasi kota Seoul. Tak ada sedikitpun celah yang terbuka bagi sinar Matahari. Oh, barangkali Matahari masih bergelung di dalam selimutnya?

Siapapun bisa menebaknya. Dan itu adalah hal konyol lain yang terlintas di kepalaku.

Janji itu sudah ku ucapkan satu tahun lalu. Anehnya aku selalu mendengar suara itu setiap kali angin berhembus. Apakah Sehun mendengar suara yang sama? Atau ia malah melupakan janji sakral itu?

Aku tidak tahu tentang perasaannya. Aku tidak tahu apapun tentang dirinya—aku mengatakan ini baik-baik saja. Diriku, semuanya akan berjalan seperti pada mestinya meski aku tak tahu itu.

Apakah Sehun mencintaiku?

Ketika melihat punggunya saat pemuda itu tertidur, aku selalu terpikir untuk memeluknya, ketika kami akan berpisah untuk menjalani rutinitas masing-masing, aku selalu terpikir untuk melayangkan satu kecupan perpisahan dan berjanji akan pulang ke apartemen di waktu yang sama.

Tapi apa bisa?

Aku sangsi Sehun menatapku. Aku ragu bahwa di satu detik pun pemuda itu masih sudi memikirkanku.

Apa kau… tidak mencintaiku?

Katakanlah aku sedang mengajukan pertanyaan konyol pada sebuah patung yang mati. Mencoba menyemangati diri meski aku sudah tahu, vonis apa yang Tuhan berikan untuk takdirku.

Karena sejauh apapun aku berlari, kenyataan selalu berhasil menemukanku.

Di matanya, di pikirannya, sosok yang mengisi hati pemuda itu…

Bukan sosok Kim Ji Yoon. Tidak ada tempat yang pantas bagiku untuk menyentuh hatinya dengan ujung jariku.

Sehun…

Ayo katakan sesuatu

Selamanya ia mungkin tak akan menganggapku sebagai sesuatu yang berarti. Bahkan sejuta wanita pun tak akan ia lirik.

Memangnya untuk apa?

Seorang Oh Sehun hanya akan menatap Xi Luhan. Di hatinya, di pikirannya… aku tersisihkan oleh bayangan pemuda itu. Bukan hanya untuk takaran waktu yang dapat dihitung. Entah yang kesejuta kali, aku merasakan pukulan telak saat aku memergoki Sehun tengah terdiam memandangi foto Luhan di balkon kamar.

Tidak ada yang bisa memudarkan rasa cintanya akan pemuda itu.

Entah mengapa aku merasa takdir ini semakin mempermainkanku.

Apa aku baru saja menjawab pertanyaannya?

Apa aku baru saja mengatakan bahwa selama ini aku menikahi seorang… gay?

Saat aku terbangun, aku menemuka Sehun mengigau memanggil Luhan. Mengatakan, jangan pergi, dan aku mencintaimu berulang kali hingga jantungku serasa remuk menjadi serpihan abu.

Apa kau tidak bisa menatapku?

Aku hampir menumpahkan air mataku jika saja Sehun tidak terjungkal dan hampir terjatuh jika saja aku tidak memegang lengannya. Aku menghapus air mataku.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku. Sehun hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

“Aku tidak apa-apa. Ayo kita masuk,”

Aku memegang lengannya, memastikan pemuda itu berjalan dengan benar. Kami berjalan menuju rak-rak bubuk deterjen dan sabun.

Aku mengambil beberapa deterjen dan meletakkannya di trolli, Sehun mengekor di belakangku.

“Apa kau selalu membeli deterjen wangi lemon?”

Aku menoleh, “Kenapa? Ku kira wanginya cukup segar. Kau tidak suka? Atau kau ingin membeli deterjen lain?”

Sehun hanya tertawa kecil dan menggeleng.

“Bukan seperti itu. Aku suka kok, rasanya sedikit berbeda. Aku seperti mencium bau yang sama dari tubuh kita berdua,”

Sejenak aku tertegun. Ia tersenyum dan mendorongku untuk kembali berjalan.

“Karena itu jangan salah paham dulu, kau mengerti? Kau selalu salah dalam mengartikan pendapatku,” ia mengacak rambutku lembut. Aku hanya tersenyum tipis.

Tapi aku selalu mengetahui bahwa kau tak pernah menatapku, Oh Sehun.

“Ayo ke tempat susu bubuk dan cemilan, perutku jadi lapar,”

Sehun mendorong trolli menjauh dariku dan menghilang di balik rak-rak biskuit dan susu. Aku menatap jari manisku dan memutar cincin pernikahanku di sana.

Satu tetes air mata tiba-tiba saja jatuh. Mataku perih dan jantungku berdenyut.

Namun jika ini film, saat ini kau berada di sini Oh Sehun,”

~OooO~

Sudah hampir satu setengah tahun lamanya Luhan pergi. Tapi ku tahu Sehun masih belum bisa melupakan pemuda itu. Hingga detik ini, mungkin ia masih berharap bahwa Luhan akan muncul di hadapannya dan mereka bisa pergi meninggalkanku.

Hatiku berbisik lirih.

Apakah aku menyesalinya?

Apa aku menyesal menikah dengan Oh Sehun?

Aku menghabiskan waktuku untuk memikirkan Oh Sehun, mengkhawatirkannya dan membuat diriku hampir gila karena kenyataannya pemuda itu terlalu lekat dengan ingatanku.

Selama ini baik Luhan ataupun Sehun tidak pernah terpisah satu sama lain. Mereka tidak pernah punya masalah dan semuanya baik-baik saja. Aku menatap mereka dari jauh dan menyusut air mataku. Sakit selalu ada. Entah apa maksudnya.

Tapi di hari itu, tiba-tiba saja Sehun tiba di depan apartemenku dan mengajakku untuk menikah. Aku tidak mengerti apa maksudnya, bahkan hingga detik ini. Mereka saling mencintai. Aku tahu itu.

Bukankah ia masih menjalin hubungan dengan Luhan? Bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu?

Aku menatap cincin di jari manisku dan memutar-mutarnya.

Aku sama sekali tidak mengerti.

Apakah ia melakukan itu karena Luhan pergi meninggalkannya secara mendadak? Ataukah ia punya alasan lain?

Jawaban itu tidak pernah ku dapatkan. Pertanyaan terbengkalai dan mengambang di udara beku. Sejauh ini Sehun tak pernah mengklarifikasi perasaannya terhadapku. Apakah ia mencintaiku? Aku tak tahu. Sehun selalu diam dan mengamati foto pemuda manis itu jauh di belakang bayanganku. Sekarang aku tahu maksudnya.

Sehun tak pernah mencintaiku, karena hati pemuda itu selalu tertuju pada Luhan.

“Kim Jiyoon, menikahlah denganku,”

Apa sekarang aku harus menyesali keputusanku satu setengah tahun lalu?

Air mataku jatuh.

Sejauh ini aku melangkah. Aku tak pernah mengerti tentang rasa sakit macam apa yang selalu menusuk-nusuk hatiku. Katakanlah ini memang ironi yang harus ku jalani dalam takdir. Karena kenyataannya realita selalu berhasil menemukanku.

Aku selalu berbohong dan mengatakan ini akan baik-baik saja. Tapi benarkah seperti itu?

Aku mencintainya lebih dari apapun. Lebih dari udara yang ku hirup, semakin bertambah dari hari ke hari. Tapi pemuda itu justru diam. Mematung dan membiarkan aku seperti orang idiot yang menunggui patung bicara.

Kenyataannya aku tidak baik-baik saja. Sejak dulu aku selalu sakit, sejak dulu aku selalu menderita, sejak dulu aku selalu menelan air mata ini dalam diam tanpa Sehun ketahui sedikitpun.

Sampai kapan?

Sampai kapan aku akan membohongi diriku demi pemuda itu?

Apa aku sedang mencoba menyemangati diriku? Apa aku… memang benar-benar bodoh mencintai pemuda yang salah?

Tanpa sengaja ketika aku hendak melewati rak susu bubuk, kakiku terselip dan aku menjatuhkan sekotak susu formula bayi. Aku memungutnya dan berniat mengembalikan susu itu ke tempatnya semula. Namun seorang gadis yang tidak lebih muda dariku datang dan mencegahku untuk meletakkan susu itu di rak.

“Nona, anda tidak perlu meletakkannya di rak, susu formula ini memang gratis dan akan dibagi-bagikan pada pengunjung. Anda harus mengambilnya, ini bagian dari promosi kami, ”

“Tapi aku tidak punya bayi, aku—“

Gadis itu bersi keras menyodorkan susu formula itu padaku. Ia tersenyum.

“Tidak apa-apa, nona.”

Apa?

“Nona, aku—“ aku baru saja akan menyela ketika tiba-tiba Sehun muncul dari balik rak susu bubuk bayi yang berada di sebelahku.

“Jiyoon-ah? Apa yang sedang kau lakukan?”

Aku mengatupkan bibirku. Kemudian tatapan Sehun teralih pada susu formula bayi di tanganku.

“Kau membeli susu bayi? Untuk apa?”

“Ini, aku—“ aku hendak melihat gadis yang tadi menyodorkan susu formula ini padaku, namun ia menghilang.

Kemana?

Ku lihat Sehun tersenyum tipis. Ia mengambil susu formula di tanganku dan memutar-mutarnya ke berbagai sisi.

“Ah lihatlah, bayi ini sangat menggemaskan,” Sehun tertawa kecil. Ia merengkuh bahuku.

“Tidakkah kau berpikir seperti itu?”

Pandangan matanya tertuju padaku. Sekarang aku bisa melihat refleksi diriku di sana. Jantungku berdetak kencang, sesuatu yang aneh meledak dari dasar diriku. Rasanya… benar-benar aneh. Aku merasakan suhu tubuh pemuda itu menguar di sekelilingku.

Sehun benar. Aku merasa tidak ada bedanya diantara aroma tubuh kami. Semuanya sama.

Aku tersenyum tipis.

“Dia menggemaskan,”

Sehun menarik tanganku dan kami beralih ke trolli belanjaan kami. Sehun memasukkan beberapa cemilan kecil dan biskuit, kemudian kembali berjalan menuju rak-rak lainnya untuk membeli barang kebutuhan.

Aku berharap ini tidak pernah berakhir.

Genggaman tanganmu yang membungkus jemariku. Kemudian kita tertawa bersama di padang bunga.

Aku tidak tahu. Mungkinkah suatu saat nanti kau akan mengingat ini?

Bukan masalah tentang air mata dan rasa sakit yang ku rasakan. Ketika satu pertanyaan itu terlontar, angin hanya menjawab dalam diam dan aku tersenyum.

“Apakah suatu hari nanti kau akan mencintaiku?”

 

~OooO~

Empty House Far Away
Lost In Lonely Space
You Know You´ve Felt The Same

From The Shallows In Love
To The Depths Of Yours Scars
You Know You Want To Change

~OooO~

Kabut malam menjalar tipis. Meniup hawa dingin hingga nyaris membekukan tubuhku. Kali ini ku tatap wajahnya dalam diam dan membiarkan atmosfer keheningan itu menyapu kami.

“Sehun…”

Ku sentuh ujung hidungnya dengan jemariku. Ia menggeliat pelan, ku rapatkan selimut itu hingga ia merasa lebih baik.

Aku beranjak dan meninggalkannya di kamar. Aku pergi ke dapur dan mendudukkan di meja makan, membawa sekotak susu formula bayi itu di dalam pelukanku.

Apa yang ku pikirkan sebenarnya?

Jauh di dalam pikiranku, aku tak pernah memikirkan hal ini. Tidak satu kali pun. Tapi mengapa sekarang berbeda?

Rasa sepi mengusik diriku. Ku tatap susu formula bayi itu dan meluncurkan air mata dalam diam.

Ketika melihat seorang Ibu yang menggendong anaknya dan tertawa bersama anaknya, membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia, kemudian ku lihat seorang wanita hamil bersama suaminya pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian bayi. Entah apa yang ku rasakan sampai aku menyadari kehidupanku begitu miris.

Sepi… tapi di satu sisi juga ku rasakan ketakutan.

Kehidupanku yang tidak sempurna. Kehidupanku yang jauh dari kata bahagia…

Aku menginginkan sosok malaikat kecil itu mengisi rahimku.

Aku ingin membangun sebuah keluarga kecil yang hangat dan bahagia.

Aku konyol—dan ini gila.

Seorang anak?

Aku menginginkannya mengisi perutku yang rata. Tapi mungkinkah itu dapat terjadi jika kenyataannya Sehun enggan menyentuhku barang sekali? Dia tak pernah melakukannya.

Air mata terus turun dan turun bagai hujan.

Aku ingin merasakan menjadi seorang Ibu dan istri yang sempurna. Memiliki seorang anak dan hidup bahagia…

Ku peluk susu formula itu dan mulai meratapi takdir. Butir-butir salju mulai turun di luar sana. Menabur hawa dingin di langit kota Seoul. Ku tekan dadaku untuk meredam rasa sakit ini. Membuatnya semakin membakar tubuhku.

Aku ingin ini hanya menjadi mimpi yang tidak nyata. Ini hanya mimpi buruk dan aku akan terbangun. Tapi bagiku ini seperti sebuah ironi. Aku takut jika ini nyata.

Sesungguhnya apa yang ku harapkan dari hidup?

Apa yang ku harapkan diantara puing-puing kesedihan yang menguburku dalam diam?

~OooO~

Los Angeles 2nd October 2012.

12. pm.

Keberangkatan menuju Seoul akan dimulai pada pukul 12. 15. Luhan menatap langit kelabu di atasnya dengan tatapan datar. Ekspresinya tak jauh berbeda. Pemuda itu mengatupkan matanya dan menghembuskan napasnya hingga tampak mengepulkan asap tipis.

Langkahnya terhenti di depan bandara. Di tangan kirinya sebuah koper besar telah menunggu. Tiket pesawat berada di tangan kanannya.

Senyum lirih itu terkembang di wajahnya.

Entah sedih ataukah kecewa. Tidak ada yang tahu.

Apakah udara beku membuatnya melupakan tatacara tersenyum dengan benar?

Ia kembali melangkah memasuki bandara. Kali ini dengan perasaan yakin. Senyumnya terkembang makin lebar, pemuda itu menarik kaca mata hitamnya.

I’m back, Sehun-ah.

 

_TBC_

Advertisements

98 thoughts on “Wedding Dress Chapter 1 – JiYoo19

  1. Aigoo kapan ini di lanjut? Penasaran >o<
    kasian itu ji yoon 😥
    dari ini sampe Noona You're My Wife kisah Hun-Yoon itu nyesekin banget sih :"

    Like

  2. adohhhhhhhhhhhhhhhhhh >< nemu hunhan lagi . mereka terlalu berharga untuk disatukan eonni .. tapi kalo gak gini gak greget ya 😀 wkwk btw ini udah lama dri tgl post nya. gak dilanjutin eon ?? penasaran hehhe cerita gantung dipart ini . Jiyoon dibikin malang bgt disini . sumpah tak tunggu lanjutnya ^^

    Like

  3. Tidak, tidak. Luhan, apa yg kau lakukan ?! Jangan pernah muncul dihadapan sehun & menghancurkan pernikahan mereka. Tidak, itu tidak boleh terjadi.

    Like

  4. Eonniyaa~ ff ini lanjutnya kapan?? Pengen bgt tau kelanjutannya-,-

    Jiyoon kok selalu nyesek sih perannya. HunHan??? Astagaaa>//< nanti pas Lu Han balik pasti ceritanya lebih nyesek dan lebih greget dari ini, gapapa deh Eon, di ff ini lengkap ada straight+gay juga.

    Semoga Eonni ada waktu buat ngelanjutin ff ini ya Eon:))) Fighting~~!

    Like

  5. Blm begitu ngerti sm ceritanya. Tp luhan sehun gay? Trus msh penasaran knp tiba2 luhan ninggalin sehun dan sehun ngajak jiyoon nikah mendadak. Weowe

    Like

  6. Luhan oppa please jng hancurin pernikahan SeYoo couple lgi… udh cukup pendritaan Jiyoo,,, next thor nggak pke lama yahh,,, pnasaran pke BGT,,,, hehehehe

    Like

  7. Annyeong… aq reader bru dani… awalnya aq mw baca my pervert husband… cma di protect jadi aq baca ini dlu…

    Smph aq gk nyangka klw sehun ternyta gay… trus luhan knp blk lgi ke kore gmn nanti sma nasibnya ji yoon…?T^V*Five*X^Q

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s