Tugas Cerpen Bahasa Indonesia [Creepy Life] JiYoo19

Creepy Life

TITLE : Creepy Life

Author : JiYoo19

Hari Minggu adalah hari penting untukku,  ah mungkin juga tidak. Tapi ku rasa hari minggu adalah hari yang menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan ketimbang mendapat sekantong permen rasa strawberry dari Trey—tetangga sebelahku.

Ya, itu tentu saja. Hari Minggu adalah hari dimana aku bisa lebih lama memejamkan mata, bergumul bersama selimut motif polkadot warna hijau dan boneka Dinosaurus ungu di ranjangku yang nyaman.

Tidak ada yang lebih sempurna dari hari Minggu yang dilanda hujan lebat, pagi hari yang sejuk, tv yang memutar film Spongebob, dan susu coklat hangat yang masih mengepulkan asap.

Dari luar kamar, aku dapat mendengar suara percakapan, Ayah, Ibu dan kakak laki-lakiku. Jam menunjukkan pukul 7 pagi, dan itu artinya ini masih terlalu awal untuk bangun. Mungkin aku bisa memejamkan mata untuk beberapa jam lagi.

Yeah, itu bagus…

Mungkin juga tidak—aku ingat belum mengerjakan makalah Biologi dan LKS Ekonomi. Tugas Seni Budaya yang baru setengah jadi, dan… uhuh hafalan bahasa Jepang. Oke, aku lupa kalau aku harus mengerjakan semua tugas laknat itu.

Dan sialnya, aku malas—sangat. Aku tak ingin bangun karena ini hari Minggu. Hari yang sempurna untuk malas-malasan. Aku tidak sudi jika harus menodai hari sempurnaku ini dengan tugas-tugas menyebalkan itu. Mungkin aku bisa mengerjakannya nanti malam setelah selesai menonton Serial Drama Korea To The Beautiful You.

Ini episode ke 2 dan aku tidak boleh lupa menontonnya. Bagaimanapun itu.

EXO ada di sana sebagai CAMEO dan pastinya itu sangat keren. Akan ada si imut Baekhyun dan pangeran tampanku di sana. Oh Sehun. Tentu saja, memangnya siapa lagi huh?

Kalian bisa melihat betapa rapatnya poster-poster mereka di dinding kamarku yang mengelupas. Tersenyum, dan aku bersumpah—mungkin aku bisa meleleh jika melihatnya secara langsung.

Aku punya banyak koleksi majalah, foto Polaroid, dan beberapa souvenir bercorak EXO.

Well… aku benar-benar fans yang baik kan?

Aku menguap saat melihat Spongebob mengobrak-abrik tong sampah untuk mencari kartu pengenalnya. Hey! Aku sudah jutaan kali melihat bagian ini! Sialnya lagi, si bodoh Spongebob justru tak dapat menemukan tanda pengenal yang berada di belakang bajunya. Oke, dia bodoh—aku tahu itu, tapi ini benar-benar tidak manusiawi. Aku yakin jika Masashi Kishimoto membuat karakter Naruto menjadi se idiot Spongebob, tidak diragukan lagi si tampan Sasuke Uchiha itu akan berakhir di penggorengan bersama Patrick Star.

Hah… memangnya sejak kapan Spongebob menjadi sejenius Orochimaru?

Aku tersadar dari lamunanku akan si sinting Spongebob ketika ponselku berdering heboh. Lagu SNSD – Lazy Girl berbunyi cukup nyaring—aku yakin dalam kasus ini seorang kakek tua akan dilarikan ke UGD karena terkena serangan jantung mendadak.

Dengan mata yang masih setengah terbuka, aku mengambil ponselku dan melihat siapa orang gila yang menelepon di tengah kegiatanku yang padat (yeah, menonton Spongebob dan membayangkan hal gila adalah kesibukan yang tidak dapat ditolerir)

Bagus, Careen.

Aku menekan tombol hijau di ponselku.

“Halo?” suaraku terdengar parau dan serak. Beruntungnya Careen tak dapat mencium bau aneh yang menguar dari mulutku. (Aku bersumpah jika ia menciumnya, anak itu akan terkena diare parah).

“Oh Halo, Reg! Kau sudah selesaikan draft Fanfictionnya?”

Draft… Fanfiction? Bagus, sepertinya aku melupakan hal itu.

“…kurasa tidak—oke, mungkin aku tidak ingat soal itu Car, tugasku banyak dan kau harus tahu ini. Aku sibuk—sangat. Jadi ku harap kau dapat memakluminya,”

“Apa kau harus bicara dengan nada menyedihkan seperti itu? Oh Godness, apa aku terdengar seperti penagih hutang?”

Aku melirik televisiku yang kini mulai menayangkan si Squidward yang tengah memainkan clarinet bututnya.

“Ku rasa aku tidak perlu memperjelasnya. Kau selalu menagihnya dariku setiap minggu. Oke, se pikun apapun aku, aku pasti bisa mengingatnya Car! Sungguh, sekarang kau mengganggu acara pagiku yang sempurna.”

Aku dapat mendengar suara decakan sebal itu dari seberang telepon.

“Kau selalu menyebalkan, Reg. Ah sudahlah, sepertinya aku harus mengerjakan pekerjaan rumahku. Kita lanjutkan nanti siang,”

“Yeah… terserah, aku mau menonton,”

“Sampai jumpa—“

“—binggo.”

Sambungan telepon terputus. Aku meletakkan ponselku di atas nakas dan mengambil susu coklatku. Hujan masih belum reda, dan ini sangat dingin.

Bulan Februari yang seharusnya cukup hangat sekarang benar-benar disulap menjadi kutub utara paling aneh yang pernah ku temui. Taburan salju menjadi rintik air, dan hawa dingin di sini sepertinya cukup ampuh membekukan seekor gajah hidup-hidup (aku tahu ini hiperbola, tapi ini kenyataannya!)

Kali ini jeda iklan cukup lama. Sekali lagi aku menguap, menatap sederetan iklan-iklan wafer yang terlihat menggiurkan. Perutku berbunyi.

Well… aku lapar.

Tapi sekali lagi. Aku tidak memiliki keinginan untuk bangun—bahkan untuk mengambil kudapan lezat dari lemari makanan.

Oke, jadi lupakan soal makanan. Tidur sepertinya lebih baik (salah satu hal yang paling ku suka di dunia ini)

Aku baru saja hendak menutup mata, hingga akhirnya kegiatanku terpaksa terhenti karena Kakakku yang tampan itu (yeah, sangat tampan hingga aku bisa melihat jelas betapa kontras warna kulit dan giginya) masuk ke dalam kamarku tanpa permisi.

Pintu berdebum keras, hingga aku yakin setelah ini engsel pintuku yang sudah berkarat itu akan copot.

Mataku melotot.

“Ayo! Ayo! Bangun! Ini sudah pagi~! Com’on Girl!”

Dia—kakakku yang tampan itu berteriak heboh, berlari mengitari tempat tidurku, dan bertepuk tangan seperti orang tak waras.

Oh, tidak…

Revan.

Aku bersumpah setelah ini akan mendepaknya jauh-jauh dan mengikatnya di gudang.

“ASTAGA REVAN! KAU MENGHANCURKAN PINTU KAMARKU!!!”

***

Harusnya aku mencoret kata ‘hari ini hari Minggu yang sempurna’ di dalam buku harianku. Karena kenyataannya tidak—sama sekali tidak!

Berbelanja ke pasar di hari minggu adalah hal nomor dua yang ku benci setelah kehabisan stok majalah EXO. Ah, maksudku tentu saja berdesak-desakan dengan ibu-ibu gendut, menunggui ibuku yang asyik berdebat dengan para pedagang mengenai harga bahan makanan yang dinilai ibuku ‘tidak masuk akal’      (untuk ini, rasanya aku benar-benar ingin menyeret ibuku pulang) oh, dan kemudian…

Ugh! Aku benci mengatakan ini.

Tempat pemotongan unggas! (well… izinkan aku muntah sekarang)

Oke, sepertinya aku harus mencoret daftar kehabisan stok majalah EXO dan menggantinya dengan hewan dari famila AVES itu  di urutan pertama hal yang ku benci.

AYAM. Satu dari sejuta hal menyebalkan yang benar-benar ingin ku musnahkan dari dunia ini.

Mereka berjalan dengan kaki-kaki jelek, bulu-bulu kusam yang bahkan tak lebih halus dari bulu seekor kucing, mematuk-matuk tanah dengan paruh kuning menyebalkan mereka, dan kemudian berkokok heboh seolah-olah dunia akan kiamat hari ini.

Tidak ada hal yang dapat diperjelas dalam kamusku mengenai ayam. Semuanya sudah jelas.

Aku-benci-MEREKA. Titik.

“Eum… bu,”

“Apa sayang?” Ibu masih asyik memilih buah tomat yang berwarna merah (hey! Bukankah semua buah tomat berwarna merah?)

“Regina ada tugas bu—tugas kelompok, dan sekarang teman Regina sudah menunggu,” bagus kebohongan macam apa ini? Menggunakan ‘embel-embel’ tugas untuk menghindari datang ke tempat pemotongan unggas?

“Tapi kita belum selesai belanja. Kita harus membeli beberapa kilo ayam untuk acara syukuran Mama Veron hari ini,”

Jangan—ku mohon jangan ayam!

“Bu… please, mereka sudah mengomel dan bersumpah jika aku tidak datang maka mereka akan mencabut jari kakiku…” mencabut jari kaki, huh? Bagus, aku benar-benar  pembohong yang buruk.

Ibu mengeriyitkan alisnya. Oke, harusnya aku bisa lebih kreatif dalam memilih alasan selain dari ‘mencabut jari kaki’ mungkin aku bisa mengatakan bahwa Jessy mendadak berjenggot, atau tubuhnya telah dipenuhi lumut karena terlalu lama menungguku. Baiklah—apapun itu, aku benar-benar mengacaukannya, aku tak pernah mencetak rekor yang baik dalam berbohong.

Ibu menghela nafas, kemudian meraih kunci motor di dalam tas dan memberikannya padaku.

“Beritahu kakakmu untuk menjemput ibu jam 10 nanti,”

“Jadi… aku boleh pergi?”

“Asal kau tidak melupakan pesan ibu,”

Aku tersenyum.

“Tentu saja, ibu bisa mempercayaiku,”

Aku berbalik, pergi keluar pasar, dan begitu aku sampai di tempat parkir bau-bauan aneh itu hilang.

Hah… dunia…

Aku bisa merasakan oksigen kembali.

Oke, sepertinya ini tidak terlalu buruk— meski aku tahu berbohong adalah tindakan illegal, tapi lihat poin plusnya,  aku bisa terlepas dari kegiatan menyebalkan di hari minggu dan pulang ke rumahku yang nyaman.

Oh tidak… ini bahkan lebih mudah daripada  mencabut staples yang tersangkut di jariku dua minggu yang lalu.

***

Revan tampak terkejut mendapatiku tiba di rumah tanpa sosok Ibu di belakangku. Ia mengeriyitkan alisnya bingung.

“Mana mama?”

Aku merebut gelas di tangannya dan mengisi gelas di tanganku dengan air dingin.

“Di pasar,”

Aku meneguk minumanku beberapa kali.

“Kau meninggalkan mama?!” seketika Revan nyaris memekik.

Oh, God…

“Tentu saja tidak. Kau ini bodoh atau apa sih?”

“Astaga, tidak bisakah kau lebih hormat pada kakakmu ini huh?”

Aku memutar bola mataku bosan. Dear, Revan tersayang, selamanya aku tak akan hormat padamu. Kau bahkan masih terlalu enggan untuk menukar film Pororo kesayanganmu dengan drama Korea yang ku suka.

Aku melempar kunci sepeda motor, ia menangkapnya.

“Jemput Ibu jam 10,”

“Apa?”

Aku langsung menutup pintu kamarku, begitu Revan hendak bertanya lebih lanjut. Aku merebahkan diriku di atas ranjang, dan bergumul bersama selimut polkadot hijau kesayanganku.

Ku ambil laptop tua yang teronggok di atas meja dan membawanya ke pangkuanku. Setelah sepenuhnya menyala, aku langsung membuka website EXO Fanfiction, dan melihat beberapa draft cerita yang berada di bagian timeline.

Aku berdecak sebal.

Apa-apaan ini?! Draft cerita yang satu bulan lalu ku kirimkan belum dipublikasikan?!

Oke, harusnya aku tak perlu mengirimkan naskah itu ke sana. Menunggu seperti orang bodoh hanya untuk naskahnya dipublikasikan, sementara aku punya sebuah blog—yang jelas-jelas bisa lebih baik dari itu.

Bagus, Regina dan kebodohannya jelas sebuah permasalahan serius.

“Aku tidak percaya, kau masih menunggui cerita bodohmu itu untuk dipublikasikan,” sosok seorang gadis berusia 17 tahun dengan gaun putihnya melayang-layang di udara. Tertawa cekikikan, sementara ia memainkan rambut kritingnya yang tampak aneh.

Wajahnya pucat dan kelihatan tirus, dia duduk di atas meja belajarku. Ia mengelus foto Oh Sehun di sana.

Aku mendengus. Well… lihat siapa yang datang? Satu tamu tak diundang.

“Satu-satunya hal bodoh di sini adalah kau, arwah. Pergilah, aku benar-benar tidak berminat meladenimu sekarang,”

Sosok gadis itu melayang lagi. Terbang di langit-langit kamarku, dan memandangku sinis.

“Kau menyebalkan, Regina! Kau bahkan tidak tahu betapa sibuknya aku,”

Aku tertawa garing.

“Oh yeah? Kira-kira kesibukan macam apa yang dilakukan oleh arwah gentayangan sepertimu, hm?”

“Tentu saja banyak! Aku ini popular diantara kalanganku,”

Aku mencibir.

“Dan kau menyebut bergentayangan untuk melihat-lihat pemuda tampan adalah kesibukan?”

Ia merengut, kembali melayang mendekati salah satu poster EXO yang terpampang di bagian kiri kamar.

“Kau tidak akan mengerti dimana letak menariknya, Reg. Maka itu cobalah keluar sesekali, carilah udara segar, dan kau akan tahu bagaimana rasanya. Jangan hanya berkutat dengan benda petak butut itu dan poster-poster konyolmu, Regina. Itu tidak baik untuk kesehatan jiwamu,”

Aku melotot.

“Dan kau menganggap aku tidak waras karena menjadi seorang K-Popers?!”

Bayangan gadis itu melayang di depan wajahku.

“Aku tidak bilang kau tidak waras, tapi apa salahnya mencoba untuk keluar dan mencari kesibukan baru selain membuat fanfiction,”

“Kau arwah gentayangan yang sinting, Putri,”

Ia tertawa, dan aku bersumpah inilah hal yang paling ku benci darinya. Suara tawa Putri bahkan tak lebih baik dari suara sirine ambulans. Melengking kelewat nada tinggi, dan membuat telingaku berdengung.

“Tapi arwah yang sinting masih jauh lebih baik, daripada menjadi gadis aneh sepertimu,”

Aku memutar bola mataku bosan.

“Terserah,”

Aku terlalu malas meladeni ocehan Putri mengenai pemuda tampan yang ia temui dua hari yang lalu. Dia selalu bercerita tentang betapa keren dan tampannya mereka.

Memakai satu setel kemeja keren yang dibalut dengan celana katun. Rambut klimis rapih—yang menurutku terlihat aneh karena seperti terkena tumpahan minyak goreng, parfum wangi lemon (sama  halnya dengan jenis pewangi mobil yang sudah terlalu sering ku cium), sepatu kulit mengkilap, perhiasan yang luar biasa mewah, dan yeah…

Kawat gigi yang tak kalah mengkilap dari sepatu kulit yang dikenakannya.

Jujur, aku sedikit megkhawatirkan apakah arwah ini masih waras atau tidak. Sebenarnya pria macam apa yang ia temui? Apakah pria itu berpakaian vintage yang terlihat kuno seperti pada perang dunia pertama? Atau malah terlihat identik seperti Charlie Chaplin dengan kumisnya yang hanya tersisa ¼ bagian?

Oh tidak… ini jauh lebih mengerikan ketimbang menghadapi guru PKN-ku yang mirip dewa Zeus itu.

Aku mungkin akan meresponnya dengan dua kata.

“Seleramu mengerikan,”

***

Jika seseorang bertanya pada orang lain mengenai diriku, maka satu kata yang akan terlintas—dan itu lebih dari sekedar penegasan.

Aneh.

Ya, pasti. Tidak pernah berubah sejak aku kecil hingga di usiaku yang ke 15 ini. Semuanya sama saja kecuali sifatku yang semakin mistis dari hari ke hari.

Aku pemalas, memiliki emosi yang terkadang tidak dapat ditakar dengan thermometer usang, dan sangat berbakat dalam bidang hal-hal gaib hingga orang-orang di kelasku menjulukiku ‘Regina si cenayang’

Hey! Apa-apaan itu?! Aku tidak pernah berminat dan bercita-cita menjadi seorang paranormal. Aku ingin menjadi seorang penulis novel. Titik!

Tapi itu, tetap tak mengubah asumsi orang-orang mengenai diriku. Tidak ada hal lain yang lebih suram dari Regina. Bahkan segerombolan awan mendung yang selalu menggantung di langit tak terlihat lebih suram dariku.

Diriku selalu dikerumuni kegelapan, kesedihan, juga kesepian.

Seberapapun seringnya aku menyangkal asumsi orang-orang mengenai sifat anehku, itu tak pernah berhasil. Aneh dan kesialan adalah dua hal yang paling melekat dalam diriku.

Mungkin ini terlihat seperti takdir yang menyebalkan, saat aku bisa melihat ‘sesuatu’ yang tidak bisa dicerna orang-orang pada umumnya. Ini memang terlihat keren—dan jika kau menganggap bisa berkomunikasi dengan makhluk astral adalah hal keren, lebih baik aku terjun ke kerak neraka paling dalam.

Tidak ada yang keren saat kau bicara dengan mereka, selain mendengar keluhan mereka tentang “Mengapa aku pergi begitu cepat?”

Aku terganggu—sangat.

Dan ini masih jauh lebih menyebalkan daripada saat orang-orang di lingkunganku mengecap aku sebagai bocah sinting yang aneh.

Aku punya dua ‘teman’ yang cukup akrab sejak aku SMP. Salah satunya adalah arwah seorang gadis berusia 17 tahun—yang sayangnya cukup genit meskipun ia telah menjadi seorang arwah gentayangan.

Mereka adalah Putri dan Rio.

Oke, aku ini kedengaran tidak waras saat aku mengatakan bahwa mereka adalah temanku. Tapi sungguh! Mereka itu sangat asyik juga keren!

Ah, mungkin juga tidak. Terkadang mereka juga bisa menjadi lebih cerewet ketimbang Ibuku, mengganggu waktu belajarku, dan memintaku melakukan hal-hal gila seperti bermain dengan mereka pukul 2 dini hari! (dan itu sangat TIDAK NORMAL! Hey! Aku baru tidur jam 11 dan mereka membangunkanku pukul 2 untuk bermain?!)

Dan sialnya lagi, aku benar-benar ingin menghilangkan kemampuan gila ini!

Ya. Benar, aku ingin membuangnya. Tidak ada yang bisa ku peroleh dari kemampuan ini selain kesulitan juga kesialan melihat makhluk-makhluk aneh yang bergentayangan di langit-langit kamar.

Sudah cukup kata ‘aneh’ yang melekat dalam diriku. Aku tidak ingin menambahkan kata ‘horror’ di sana, dan membuat hidupku makin terlihat merana seperti tokoh Myrtle di serial Harry Potter.

“Kapan sih kau itu kelihatan normal?”

Panda menyeruput teh gelasnya. Ia memandangku malas.

“Menurutmu?” aku membalik pertanyaanku. Gadis itu berdecak.

“Persentasenya hanya 1% atau mungkin itu hanya akan terjadi saat dunia akan kiamat,”

Aku tersenyum sinis.

“Kau bahkan sudah tahu jawabannya,”

“Tapi cobalah untuk terlihat lebih ‘normal’ dear… kau sudah 15 tahun! Dan 2 tahun lagi kau akan menghadapi sweet seventeen!” Panda berkoar-koar heboh seperti burung beo. Aku mengeriyitkan alisku.

“Tidak dengan memakai rok, dan  benda-benda berwarna pink. Itu menjijikkan!” semburku ketus.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Memangnya kenapa sih dengan semua itu? Itu kan terlihat manis,”

Aku memutar kedua bola mataku bosan.

“Ya, kelihatan manis sampai aku ingin mengeluarkan seluruh isi perutku hingga ke dasarnya,”

Panda mencibir.

“Kau gadis yang mengerikan juga aneh,”

“Aku anggap itu sebuah pujian,”

Dan kini, gadis itu melempariku dengan bantal lucunya yang bermotif penguin biru.

Aku tidak tahu jika ini akan semakin buruk—atau malah menjadi lebih buruk dari apa yang aku perkirakan.

Tentang sejuta hal aneh yang ku pikirkan, selalu, dan selalu. Hidupku adalah hal aneh lain yang harus ku pertanyakan.

Dan Panda benar. Sampai kapan aku akan menjadi seorang gadis aneh, pemalas, juga ber aura seram seperti ini?

Terlalu sibuk berkutat bersama laptop, majalah K-POP, dan hal-hal mistis? Dan sialnya, Putri benar.

Aku harus keluar untuk mencari cara penyelesaian dari problem ini.

Berhenti untuk menjadi gadis aneh dan memulai kehidupan yang lebih normal.

“Kurasa aku harus memulai ini dari awal,”

***

Aku masuk ke dalam kelas dengan menyeret langkahku. Tubuhku terasa berat, dan kantukku masih belum tuntas, karena aku harus menyelesaikan tugas cerpen Bahasa Indonesia yang harus dikumpul hari ini hingga larut malam.

Jempolku terlihat memiliki abs, dan jadi tengahku kapalan. Bagus, jariku terlihat sangat mengenaskan.

Tugas makalah Sosiologi bahkan belum kukerjakan, ulangan lisan agama, dan masih banyak tugas sial lain yang menunggu di meja belajarku.

Aku bisa merasakan nyeri di pinggang dan bahuku. Berjalan dengan memegangi pinggang, hingga terlihat seperti nenek tua, yang pinggangnya hampir copot. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini.

Anak-anak kelas menatapku aneh. Aku mengabaikan mereka, duduk di bangku reyot-ku dan menghela nafas sedalam mungkin karena akhirnya rasa sakit ini bisa sedikit berkurang.

Hari-hari selalu berjalan cepat, dan akan menjadi lebih berat saat tugas-tugas menumpuk. Kepalaku nyaris copot karena terlalu sering memikirkan kapan tugas-tugas itu akan berhenti. Waktu istirahat yang kurang, waktu mengerjakan project novelku yang terhambat…

Dan ini jauh lebih melelahkan daripada membereskan kamarku yang terlihat seperti kandang kambing.

Tidak ada waktu untuk beristirahat, karena tugas-tugasku selalu menumpuk. Aku tidak tahu kapan ini akan berhenti—bahkan waktu weekend yang biasanya ku gunakan untuk tidur, ku habiskan untuk mengerjakan tugas dan belajar.

Oh, God…

Jika bisa, rasanya aku ingin sekali menyeret bantal serta selimutku ke sini. Tidur di atas meja belajar, lalu menggelepar seperti mayat. Hah, bagus.

Salahkan tugas yang menumpuk, lalu sekolah yang tidak sesuai selera, dan kegilaan para guru-guru mengenai tugas-tugas menyebalkan.

Yang ku inginkan hanya tidur dan istirahat, setidaknya tidak perlu menunggu hingga aku digotong ke rumah sakit dan dirawat seperti orang sekarat. Itu menyedihkan, jujur saja.

“Tamatlah riwayat kita…”

Aku menoleh, menatap Tiffany yang tengah merana di bawah bangkunya. Ia menggigit kuku-kukunya yang sudah di many-cure itu dengan brutal. Oh, dia kasihan sekali…

Ah, tidak, semua orang di kelas ini harus dikasihani karena kami semua nyaris tak memiliki jiwa karena tugas-tugas yang terlanjur menggunung layaknya gunung Himalaya.

Di pojok sana, Jefry sang ketua kelas duduk meringkuk, di sebelahnya Ulil masih asyik dengan rubiknya (dan akhirnya rubik merah muda itu hancur karena ia lempar. Oh bagus, harusnya ia melakukan itu sejak dulu) lalu di depan pintu kelas, Jessy dan Veronica termenung dan menatap kolam di depan kelas dengan pandangan mengiba (untungnya mereka tidak menadahkan tangan).

Harusnya aku sadar dan paham tentang konsekuensi kehidupan SMA yang luar biasa keras. Aneh memang menjadi masalah, tapi tidak lebih besar dari konsekuensi yang ku terima karena aku yang menjalaninya.

Mungkin ini memang takdir, dan—yeah… Tuhan pasti punya banyak alasan, tentang menjadikanku seorang anak aneh yang introvert.

Mungkin aku akan terlihat semakin aneh dengan cengiran lebar seperti kakakku, atau sama sekali tidak, karena aku akan terlebih dahulu mengubur diriku sebelum itu terjadi.

Jadi… yeah, mungkin aku akan melupakan soal keluhanku akan aneh, dan bakat mistis yang ku miliki. Aku punya banyak tugas yang harus ku selesaikan, dan aku yakin jika aku tak mengerjakan itu semua, aku akan berakhir di tiang jemuran oleh Ibuku.

Aneh adalah takdir, dan ini memang jalannya. Terlihat identik seperti lotre, semua hanya masalah keberuntungan, dan entah sampai kapan aku akan menemukan kata ‘beruntung’ itu di dalam kamusku.

–FIN–

Advertisements

9 thoughts on “Tugas Cerpen Bahasa Indonesia [Creepy Life] JiYoo19

  1. Daebak thor..!! Kau memang berbakat jd penulis 😀

    Soal kemampuan mu bisa melihat hal mistis, hmmm sedikit bergidik bacanya. Walau ga kebayang gimana rasanya bisa melihat hal ‘itu’ hahaha..

    Terus menulis yaa, dan sekolahnya tetap lancar 🙂

    Like

    • Amin…. ^^ makasih, tapi masih belum bisa dikategorikan penulis sih ._.
      kalo itu jujur, aku juga terganggu =.=’ tapi ada lah enaknya ‘sedikit’ XD
      hehehe… iya, makasih buat do’anya…

      Like

  2. ahh!! keren!!
    tugas bahasa indonesia y? kangen~
    suda lma ngga dapet tugas bgnian..
    keren bgt bisa ngebuat cerita kehidupan sehari-hari jadi menarik bgini..
    good job!

    Like

  3. Hidupmu kok unik bgt sh saengie.. 😀
    Seenggaknya kan kamu punya kakak yg gokil,cirinya kok ky kaya chanyeol oppa ya?
    Rasanya ngeliat hantu gmn sh nov? Hantunya yg cwe itu cantik ga? => pertanyaan macam apa ini,haha
    entah knpa aku suka sama crita hidupmu nov! Jjang! 🙂

    Like

  4. Hiiii.. apa kita memiliki nama panggilan yg sama? Novi ? .-. Kita senasib. ak rasa memiliki hal semcam itu bukan hal yg menyenangkan. Bahkan terkadang ak takut jika salah satu drimereka i in berteman denganku. Upsss maaf, perkenalkan aku novi line 97, salam kenal. EUMM ak suka sekali gaya bahsamu. sanGAT ringan dn menarik. tidak terlalu muluk tpi tidak juga terlalu sederhana. Perfectly.jika kau memiliki senggang waktu mampirkan ke websiteku. Wyfnexokingdom.wordpress.com aku juga autjor tpi abal, karena masih terlalu sibuk dengan -ya kau tahu kurikulum 2013 seperti apaa..

    AND the last, byebyee 😃😊😊☺😃😄😄😄😄😄👻

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s