[Ficlet] RETURN | JiYoo19

ReturnKepergian Oh Sehun, bagi Kim Jiyoon adalah masalah kesekian di hidupnya. Namun melupakan pemuda yang telah mengisi hari-hari sepinya jelas sebuah permasalahan paling mustahil. Kim Jiyoon nyaris putus asa. Tepat satu tahun lalu segalanya berakhir, dan di tahun yang sama ia menemui satu sosok nyaris serupa dengan Oh Sehun. Pemuda yang telah pergi itu. Xi Luhan. Pertemuan di taman rumah sakit, menjadi awal dari segalanya. Dia, Xi Luhan. Si pemuda ramah dengan senyuman bunga matahari yang tampak berkilau.

This FF Special dedicated for my beloved namjachingu.

hope you read it, and smile from Heaven :’D

Mandala Novebri Putra

12-11-96 to 28-01-12

TITLE : Return.
Genre : Friendship / Hurt/ Comfort

Cast : Kim Jiyoon — Xi Luhan

Another Cast : Oh Sehun.

Rated : PG13
Author : JiYoo19/ JY19/ 

~000~

 

Aku nyaris khawatir pada diriku sendiri. Aku, takut, kesal, marah dan entah apa lagi yang dapat ku katakan untuk mendefinisikan keadaanku.

Aku tidak yakin bahwa sekarang memang telah genab satu tahun pasca kepergiannya. Aku tidak yakin bahwa memang selama ini aku menjalani kehidupan tanpa eksistensi pemuda itu di sekitarku.

Kembali sendirian dengan berbagai kenangan ambigu yang berputar di kepalaku.

Aku tidak dapat melupakannya. Meskipun hatiku terus berteriak dan mengumpat, memaki diriku sendiri untuk melenyapkan bayangan pemuda itu dari kepalaku.

Seperti segalanya memang tertulis di dalam suratan takdir yang menyatakan matahari terbit di siang hari dan baru akan berganti dengan bulan di kegelapan malam.

Aku…

Tetap tidak bisa mengenyahkan pemuda itu dari kepalaku.

Oh Sehun.

Pemuda itu. Dia terlalu sulit untuk dilupakan. Seakan-akan memang tidak ada hal lain yang dapat ku pikirkan selain pemuda itu sepanjang hari. Tidak ada celah.

Oh Sehun…

Dia memeluk logikaku terlalu erat, menenggelamkannya terlalu jauh dan membuang seluruh kepingan hatiku entah kemana.

Apa memang harus seperti itu? Apa pemuda itu memang harus selalu melekat di kepalaku?

Oh Sehun…

Oh Sehun…

Oh Sehun…

Harus berapa banyak lagi aku menulis namanya di buku harianku? Harus berapa banyak lagi air mata yang diingini pemuda berkulit pucat itu?

Ada jutaan pertanyaan yang masih ingin kutanyakan padanya. Ada banyak hal yang masih mengganjal di sudut hatiku.

Tapi kepergian telah meluluh-lantakkan segalanya. Itu cukup—sebuah kata perpisahan yang tertahan di tenggorokan, dan air mata penyesalan.

Kim Ji Yoon, kau bodoh.

“Aku mencintaimu.”

Dan aku kembali kehilangan bayangan pemuda itu, bahkan sebelum sempat aku meraihnya.

Aku masih ingat. Memory otakku dapat merekam dengan jelas, raut pucat pemuda itu. Tangannya yang semakin kurus juga tubuhnya yang terlihat semakin ringkih. Aku menangis di sisinya. Menggenggam telapak tangannya yang dingin nyaris seperti dinginnya es di kutub utara.

Tatapannya kosong. Dan hal terakhir yang dapat ku ingat hanyalah bunyi alat pendeteksi jantung yang mengindikasikan angka nol.

Dia…

…Oh Sehun telah meninggal.

Penyakit infeksi saluran pernafasan itu telah merenggut nyawanya.

Dan di detik itu aku menyadari bahwa segalanya sudah selesai.

Kepingan terakhir itu hancur. Musnah dalam hitungan detik, dan menghujam jantungku dengan rasa sakit.

Aku merasa dunia meninggalkanku. Semuanya pergi, membawa sosok Oh Sehun menjauh dariku.

Suara hujan menenggelamkan segalanya. Kepergian Oh Sehun dan luka di hatiku. Menjadi tanda bahwa akhir segalanya telah dimulai. Menyeretku paksa ke sebuah dimensi aneh, dimana hanya menyisakan bayanganku dan cermin.

Tidak ada siapapun.

Aku sendirian.

Tetap menunggu.

Aku selalu percaya bahwa semua ini hanya sebatas mimpi. Tidak nyata dan segalanya pasti akan berakhir dengan terbangunnya diriku di tengah malam seperti biasa.

Oh Sehun pasti akan datang dan tersenyum padaku. Seperti biasanya.

Pemuda manis itu akan menggamit lenganku, dan kami akan bergandengan tangan bersama. Kami akan bicara dan akan menjalani sisa hari ini dengan kebahagiaan seperti yang sebelumnya.

Tapi tidak.

Oh Sehun tidak pernah datang. Satu kali pun tidak.

Aku sendirian, dan sejauh ini tetap sama. Memeluk diriku sendiri di sudut ruangan gelap dengan linangan air mata yang mengucur tanpa henti.

Aku menjerit, menangis, meneriakkan namanya berulang kali hingga suaraku terdengar serak juga sumbang karena terlalu lama menangis.

Ini terlalu menyakitkan. Ini mimpi yang terlalu nyata, dan rasa sakit yang ku rasakan begitu jauh jika harus ku katakan hanya sebongkah mimpi.

Realita ini.

Rasa sakit yang ku rasakan, dan air mata.

Kehilangan…

…dan cinta.

Oh Sehun…

“Kenapa kau pergi terlalu cepat?”

 

~000~

 

Hari ini, aku kembali terbangun. Di sebuah ruangan bernuansa putih dan bau-bauan obat yang menguar di sekelilingnya. Korden putih yang melambai ditiup angin, selang infus yang tertancap di lengan kiriku juga alat bantu pernafasan.

Alat pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring mengisi kesepian di sini.

Kepalaku pusing. Aku mual—aku benci dengan bau-bauan ini.

Satu-satunya yang ku sadari akan tempat ini.

Rumah sakit.

Oh… jadi aku belum mati?

Di dalam hati aku menertawai diriku miris.

Aku memutar pandanganku. Mendapati salah seorang suster datang dengan membawa papan kesehatannya, ia tersenyum dan berjalan ke arahku.

“Nona, Kim, kau sudah merasa lebih baik?” ia bertanya.

Aku mengangguk. Tidak bisa bicara, dan tubuhku terasa kaku layaknya patung. Aku tidak bisa banyak memberikan respon selain kerlingan mata sendu yang kelihatan sangat mengiba.

Suster itu tersenyum lembut. Ia mencatat sesuatu di papannya. Aku tidak tahu apa itu—tapi bisa ku perkirakan itu adalah perkembangan kesehatanku.

“Baiklah nona, jika kau merasa membutuhkan sesuatu, kau hanya perlu menekan tombol pemanggil suster itu, ne?”

Ia menunjuk tombol kecil yang berada di sisi ranjangku. Aku menatapnya kosong.

Ia tersenyum, kemudian melenggang pergi dan menghilang dibalik pintu.

Aku sendirian lagi.

Oh Sehun…

Apa kau juga sendirian di sana? Kau kesepian?

Ku harap tidak. Tuhan selalu menyertaimu, dan aku percaya kau sudah berada di tempat yang tepat. Akhirat adalah tempat yang indah, Sehun. Jadi jangan pernah mengkhawatirkanku.

Aku… baik-baik saja.

Ya. Aku baik-baik saja, meski sejauh ini aku tidak terlalu yakin dengan argumentasi itu. Tapi ku harap itu cukup—setidaknya untuk menyokong kehidupanku ke depannya tanpa perlu  terjatuh dan hancur seperti sebelumnya.

Hei, Oh Sehun, kau dengar itu?

“Aku merindukanmu,”

 

~000~

 

Aku akan mengingat ini. Ya, kalau perlu aku akan mencatatnya dengan tulisan super besar di buku jurnalku.

28 Januari, 2013

 

Satu tahun yang lalu. Tepat hari ini.

Kau…

Oh Sehun. Telah genab pergi dan beristirahat dengan tenang.

Aku tersenyum getir. Rasanya pahit ketika aku harus tersenyum sementara air mataku luruh dan menetes di gundukan makam itu.

Aku meletakkan bunga Lily putih itu tepat di pusara pemuda itu. Mengelus nisan itu lembut dengan tanganku yang kurus nyaris terlihat seperti lidi.

Dingin.

Aku berusaha untuk tak membuat ini semakin buruk—aku berusaha untuk kuat dan untuk tidak menangis. Tapi aku gagal.

Aku sedih, aku marah, aku membenci diriku sendiri.

Kenapa aku harus menjadi gadis cengeng? Kenapa hingga kini pun aku tidak bisa terlepas dari segala macam kemelut kesedihan ini?

Ku mohon jangan benci diriku.

Aku mencintaimu—sangat.

Tapi itu tetap bukan alasan aku diperbolehkan menangis kan? Itu bukan sebuah alasan untuk membiarkanku tetap terperosok ke dalam jurang kesedihan seperti apa yang kau katakan di saat-saat sebelum kepergianmu.

 

“Kim Ji Yoon, jangan pernah bersedih untukku lagi. Kau mengerti?”

 

Bagaimana mungkin aku tidak bersedih untukmu, bodoh! Bagaimana mungkin aku tidak menangis?! Bagaimana mungkin aku tidak depresi karena memikirkanmu!!!

Oh Sehun…

Pemuda macam apa kau heh?

Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan itu, jika jelas-jelas aku tetap tak akan bisa melupakanmu!!!

 

“Bodoh. Kau gadis bodoh, Kim Ji Yoon.”

 

Ya. Aku memang bodoh, lalu apa? Kau ingin menertawaiku?

Pernahkah satu kali saja kau memikirkan keadaanku? Pernahkah sekali saja kau mengerti kesedihanku atas kehilangan sosokmu?

“Oh Sehun, kau bodoh!”

 

~000~

 

“Sayang, kau tunggu di sini ya? Ibu akan mengambil obatnya,”

Ibu mengelus puncak kepalaku, sementara aku hanya dapat memberi pandangan kosong. Ia tersenyum, meninggalkanku sendirian di taman rumah sakit bersama beberapa pasien lain yang tengah jalan-jalan pagi.

Aku hanya menatap taman di hadapanku dengan tatapan kosong. Tidak ada yang berarti. Gerimis mulai turun, dan langit mulai redup.

Matahari meninggalkanku.

Ya. Sepertinya segala yang ada di dunia ini memang berniat meninggalkanku.

Aku tersenyum miris—terasa amat getir dan hatiku mendadak ngilu.

Rintik hujan mulai menderas, menghujam bumi beserta segala isinya. Langit bulan Januari tampak sendu. Nyaris tidak ada bedanya dengan kesedihanku yang masih tetap rekat di sudut hati. Tidak berubah. Sama seperti satu tahun yang lalu.

Salah seorang dari pasien itu memperhatikanku.

Aku tidak tahu mengapa—

Jantungku… benar-benar terasa berhenti berdetak selama beberapa detik.

Aku melihatnya. Sosok pemuda itu.

Ia tersenyum—dan itu membuatku merasa sakit.

Senyum yang familiar bagiku. Sangat ku kenali hingga nyaris ku hafal di luar kepala.

“Oh Sehun…”

Nama itu kontan meluncur tanpa bisa ku hindari. Aku membekap bibirku, menggelengkan kepalaku berulang kali. Berusaha menepis pemikiran gila yang tiba-tiba saja merayap di kepalaku.

Tidak—tidak mungkin.

Tidak mungkin itu Sehun.

Dia… sudah meninggal kan?

Aku pasti salah! Aku pasti salah lihat!

Pemuda itu bukan Oh Sehun. Mereka dua orang yang berbeda. Wajah mereka boleh saja terlihat identik, tapi wajah Sehun lebih terlihat sendu dan tenang. Sementara wajah pemuda itu lebih terlihat ceria.

Tubuhnya juga lebih kecil dari Sehun. Biar ku tebak, dia pasti lebih muda dari kami?

Tidak! Pemuda itu datang!

Dia—

“Annyeong…”

Aku diam. Menatap wajahnya datar tanpa ekspresi, mataku membelalak lebar.

Terlambat. Aku tidak bisa lari kemanapun sekarang.

Pemuda ini… menyapaku?

Dia menyodorkan tangan mungilnya di hadapanku. Tersenyum lebar hingga matanya yang kecil itu terlihat semakin menyipit. Aku dapat mencium bau madu yang lembut dari tubuhnya.

Apa yang terjadi?

“A-annyeong…” jawabku ragu-ragu. Aku mengangkat tangan dan mencoba menyanggupi jabatan tangannya, tapi namja di hadapanku jauh lebih cepat. Ia telah terlebih dahulu menangkap tanganku dan menggenggamnya.

Hangat.

“Namaku Xi Luhan. Kau boleh memanggilku Luhan atau Lulu,”

Suaranya terdengar ringan juga lembut. Khas anak-anak namun juga terkesan sangat dewasa.

Pemuda ini…

Ku rasakan bongkahan es yang menggelayut di sudut hatiku sedikit mencair. Sinar matahari berhasil menembusnya.

Sentuhan pemuda bernama Xi Luhan ini menyatu bersama sentuhan es yang melapisi setiap sel kulitku. Rasanya aneh, berbeda dari apa yang pernah ku rasakan.

Jika selama ini aku selalu merasakan genggaman tangan Sehun yang lembut dan sejuk, maka kini aku merasakan genggaman tangannya yang hangat.

Xi Luhan…

Dia namja aneh yang menyapaku hari ini. Dia orang pertama yang tersenyum untukku hari ini. Tidak perduli apakah dia hanyalah seorang orang asing yang tiba-tiba menyapaku lalu berjabat tangan, dia melakukan itu semua dengan teramat baik. Dia ramah, dan senyumannya benar-benar mengingatkanku pada bunga matahari yang ku tanam 5 tahun lalu bersama Sehun di depan rumah.

Kurang dari 60 detik, dan semuanya terjadi begitu saja.

Xi Luhan…

“Jiyoon. Kim Jiyoon, senang bertemu denganmu, Luhan-ssi.”

 

~000~

 

Hari ini aku kembali datang untuk memeriksa kesehatanku. Pagi-pagi sekali aku dan ibu bersiap-siap dan pergi menuju Rumah Sakit.

Ketika kami datang, suasana masih sangat sepi. Baru jam 8 dan hanya ada beberapa suster serta pasien yang kebetulan lewat di lobi Rumah Sakit. Di sana aku kembali menemukan pemuda mungil itu. Dia melambaikan tangannya padaku dan tersenyum cerah.

Senyum yang familiar. Seperti bunga matahari.

Dia Xi Luhan.

Ibuku tersenyum menyambut pemuda mungil itu. Satu bulan pasca pertemuan kami di taman rumah sakit, berkenalan dan mengucapkan kata ‘halo’ kini dia benar-benar terlihat seperti bagian dari keluargaku.

Hebat.

Aku tak pernah menjumpai orang dengan kadar adaptasi sehebat dirinya. Aku bahkan butuh waktu 3 tahun untuk bisa menjadi teman Sehun—dan bertambah menjadi 5 tahun untuk bisa menjadi orang yang benar-benar tahu seluk beluk pemuda pucat itu.

Tapi ini berbeda.

Ini Xi Luhan, bukan Oh Sehun. Mereka dua individu yang berbeda.

“Selamat pagi, Luhan,” ibuku menyapanya lebih dulu. Ia tersenyum.

“Ah, selamat pagi juga, ahjumma,”

“Bagaimana keadaanmu, Luhan? Sudah lebih baik?” Ibu mengajak pemuda itu duduk sementara aku harus menjalani pemeriksaan di ruang dokter. Aku dapat melihat dua orang itu saling bicara, terlihat akrab bahkan melebihi diriku sendiri.

Luhan memang seperti itu. Memangnya siapa yang tidak mengenalnya?

Seorang pemuda ramah dengan cengiran khas anak kecil yang terlihat begitu inosen. Dia ceria, dan berada di dekatnya benar-benar membuat perasaan siapapun terasa nyaman. Ya, dia menyenangkan.

Suasana sendu terlihat begitu jauh darinya, dia seperti matahari.

Ya, matahari yang tidak akan pernah meninggalkanku seperti sebelumnya.

Luhan adalah orang pertama yang mampu mengikis rasa sedih di hatiku. Dia selalu mengajakku bicara. Apa saja—dan anehnya dia selalu berusaha membuat lelucon untuk memancingku tertawa. Aku hanya mendengarkan, sesekali hanya merespon perkataan pemuda itu dengan gumaman ataupun pandangan kosong yang menyiratkan beginilah keadaanku sekarang.

Tidak menentu.

Aku seperti menjumpai masa taman kanak-kanakku ketika berada di dekatnya.

Luhan bercerita banyak hal. Tentang mengapa ia terjebak di rumah sakit ini, tentang ia yang sangat suka menyanyi dan minum Bubble Tea. Tentang kesepiannya yang terlahir sebagai anak tunggal, masa kecilnya, bahkan tentang laba-laba dan cicak yang berada di dinding rumah sakit.

Aku hanya tersenyum.

Dia—Luhan, mampu mengubah presepsiku bahwa segalanya memang akan meninggalkanku. Mulai saat itu ia mengikrarkan bahwa kami adalah teman selamanya.

Aku tidak pernah terfikir soal itu. Ku rasa itu terlalu kekanakan. Tapi melihatnya berjalan sembari menggandeng lenganku yang nyaris sekurus lidi, menyanyikan beberapa lagu favorite-nya, dan meniup gelembung di akhir pekan…

Aku sadar bahwa hal menggelikan itulah yang membuatku merasa aku tidak sendiri.

Luhan bersamaku.

“Kau suka Bubble Tea? Aku juga!”

Selama ini orang-orang tak pernah menatapku. Mereka hanya lewat dan menganggapku seperti bunga kecil yang tidak penting. Aku bukan siapa-siapa.

Tapi Luhan menyangkal itu. Seolah berusaha mengatakan secara tidak langsung bahwa aku berharga di matanya melalui omongan polosnya yang menggelikan.

“Kau tidak sendirian, Yoon-ah, lihat! Kau masih punya aku, ibumu dan suster di rumah sakit. Oh, atau perlukah kita membeli Bubble Tea lagi?”

Terkadang aku berfikir, jika saja seorang Xi Luhan terlahir dalam kondisi normal dan sehat, bukan dalam kondisi down syndrome, dia pastilah akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang luar biasa.

Xi Luhan mencoba kuat dan menyemangatiku dengan caranya sendiri. Tidak masalah tentang seberapa tak pentingnya ocehan pemuda itu mengenai balon berwarna-warni ataupun suara aneh burung hantu yang dipelihara tetangganya sewaktu ia kecil.

Di mataku Luhan menarik. Dia berbeda, dia berusaha menyembuhkan kesedihanku akan kehilangan Oh Sehun dengan kata-katanya yang manis.

“Kalau kau menangis, dia pasti tidak bahagia. Ayo! Kau harus bahagia, Yoon-ah!”

Aku memang tidak mengerti apa-apa tentang Xi Luhan, aku memang tak dapat banyak berkata-kata seperti apa yang ia katakan padaku. Tapi dia adalah alasanku…

…dia teman terbaik yang pernah ku miliki meski selamanya, pemuda itu tak akan pernah mengerti.

Teman baginya adalah orang yang selalu bahagia dengannya, tidak perduli apakah kebahagiaan yang disalurkannya tersampai sepenuhnya pada orang itu atau tidak.

Dia—Xi Luhan.

Si pemuda dengan senyuman bunga matahari.

“Yoon-ah, ayo kita beli permen lollipop itu!”

Aku baru tiga menit keluar dari ruang pemeriksaan dokter,  begitu melihat penjual Lollipop datang, ia langsung merengek dan memintaku untuk menemaninya.

Pemuda itu memohon, tangan mungilnya tertangkup di depan wajahnya yang terlihat memelas. Satu-satunya hal yang tak dapat ku tolak.

“Baiklah,”

Luhan menyeret lenganku. Dia kelihatan sangat bahagia, dan aku selalu menyukai rambut blondenya yang terlihat ringan saat sapuan angin lembut menerpanya.

Sedikit demi sedikit aku dapat melupakan kesedihanku. Meskipun jauh di dalam lubuk hatiku, bayangan tentang Oh Sehun masih tetap ada. Tersembunyi dibalik rentetan hari-hari yang telah ku lalui bersama Luhan.

“Terimakasih, ahjussi!” Luhan berseru, sedikit melonjak kegirangan ketika pria paruh baya memberikan permen beraneka warna itu padanya.

Kami duduk di salah satu kursi, Luhan memeluk boneka kelincinya erat, sementara aku asyik menatap langit yang kini tampak  seperti samudra mengapung.

Hari yang cerah. Sama seperti Xi Luhan.

“Yoon-ah…”

“Ne?”

Luhan menyodorkan boneka kelinci putihnya padaku. Memaksaku untuk mendekapnya seperti apa yang ia lakukan pada boneka ini sebelumnya.

“Ada apa?” tanyaku.

Luhan menggeleng. Ia mengemut lollipopnya dan beralih menatap bunga dandelion yang berterbangan, matanya berbinar, mengingatkanku pada Sehun saat ia masih berada di bangku taman kanak-kanak.

“Yoon-ah… jangan bersedih lagi,”

“Apa?”

Luhan menoleh, menatapku. Kali ini tatapannya berubah sendu.

“Aku tidak mau melihatmu bersedih lagi. Tuhan bisa marah padaku, nanti,”

Aku tertawa.

“Tuhan tidak akan memarahimu, Luhan, kau tidak salah atas apapun,”

Luhan mengerucutkan bibirnya.

“Aku temanmu, kalau aku tidak membuatmu bahagia, Tuhan pasti akan memarahiku, Yoon-ah. Teman harus saling bahagia.”

Teman…

Kebahagiaan.

Xi Luhan… kau tahu? Aku benar-benar ingin menangis sekarang. Bukan karena sedih.

Aku bahagia, kau tahu itu? Aku memiliki teman terbaik se dunia, dan itu kau.

Xi Luhan, si rusa bunga matahari.

“Lain kali, aku akan meminta nenekku untuk membuatkan satu boneka kelinci lagi untukmu, Yoon-ah. Lalu kita bisa tidur bersama dan mendengarkan dongeng Alice in Wonderland dari nenekku!”

Aku tersenyum tulus.

“Benarkah? Aku benar-benar tidak sabar untuk itu,”

Kali ini ia tertawa.

Jernih dan lebih hangat dari sinar matahari.

“Mm! Kemudian, kita akan hidup bahagia selamanya!”

…dan berakhir seperti dongeng.

Xi Luhan, apapun alasan yang ku miliki, terlepas dari itu semua…

. Tetap tersenyum dan bahagia untukku.

Teman. Ya, kau temanku. Si rusa kecil bahagia.

Kau orang pertama yang sanggup mengikis kesedihanku, membuatku terjun dalam dunia yang telah lama ku tinggalkan.

Masa kanak-kanakku.

Xi Luhan…

Untuk segalanya yang sudah kau lakukan dan pertemuan kita.

Terimakasih…

Dan untuk senyuman cerah bunga matahari itu…

Kau adalah alasan mengapa aku bertahan hingga detik ini.

 

FIN

 

 

 

 

Advertisements

24 thoughts on “[Ficlet] RETURN | JiYoo19

  1. aseeeeek…XD
    hurt… Gaspooool nooop..XD
    aku salut dengan penulisan fic mu.. Lagi” khas..XD
    hahahahahaa..XD
    sip”..
    Aku juga salut kenapa kamu bisa menghindari misstypo..XD hebaaat.. Aku aja sulit banget menghindari itu.. QAQ

    lalu aku mau concrit.. Boleh?
    Genab = genap
    Memory (kalau kamu mau pake kata asingnya sih gpp, tapi di italic kalau ada.. :D) = memori
    ku tanam = kutanam (no space)
    sip.. Cuma itu sih..xD
    yang lain manteeeeep..XD
    keep writing noooop.. :’D
    turut berduka soal manda.. :’O
    jangan terus terpuruk.. Maju, angkat wajhmu.. Sesekali bersikap angkuh dan ceria..
    Oke? :’D
    salam,
    Karikazuka

    Like

    • wkwkwkwkwk XD makasih yo, mbak bro… :’D
      hehehehe… diusahain move on deh :’D kalo ceria gue ga bisa janji XD
      gue selalu mellow setiap saat masalahnya XD #waks
      yowes lah, pokoknya makasih banget :’D

      Like

  2. Hmm, Namjachingunya Jiyoo pasti seneng deh di sana, keep move on, ne?

    Komen typos, EYD, eonni gak tll paham lah ya…
    Cm agk janggal pas bagian Lulu penderita Down Syndrome. Coba riset ulang ttg ciri2+sifat2nya.

    Like

    • makasih eonni :’D
      hehehe… kalo untuk down syndrome itu, nggak harus kaya anak cacat kok, eonni….
      cuma sifat mereka lebih kekanak-kanakan dan pemikiran mereka belum sepenuhnya dewasa 😀
      hehehehe…

      Like

  3. Ga tau harus komen apa ceritanya hurt bgt ini. Aku tau pasti kehilangan org yg paling disayangi, pasti sulit untuk merelakannya. Tp jangan sampe dilupain juga, kita harus ttp memberikan doa” yg baik untuk kebahagiaan alm disana. Dan juga untuk kebahagiaan dan keselamatan kita di dunia ini.
    #malah ceramah hahaha

    Turut berduka cita juga ya thor, semoga selalu kuat dan ceria kaya luhan hehe.

    Buat cerita, kata” nya bagus thor. Gampang dicerna, pokonya buat tulisan di semua ff km selalu bagus dan enak di bacanya, rapi pula.

    Cukup sekian aja, semangat terus ya thor. Aku tunggu karyamu yg lainnya 🙂 keep writing and hwaiting!!!

    Like

  4. aku kehilangan kata-kataku ._. Aku suka pengemasan fictmu as usually. Aku suka fictmu yang punya diksi khas sendiri. Jangan diganti, biarkan ini menjadi identitasmu, semangat Jiyoon :3 I love you.

    Like

    • wkwkwkwkwkwk XD bahasanya udah mulai ‘normal’ kan? :d nggak terlalu susah XD hwehehehehehe…
      lagian gue ngerasa ni epep gue buatnya perjuangan banget :’D
      hehehehehehehehe…
      maklum, special dedicated :’3

      Like

  5. lulu oppa emang pantes bgt klo dpt peran imut n polos bgini… cocok..
    tpi, emang rada aneh ama ‘down syndrom’..
    soalnya setauq orang pnderita itu punya wajah yg hampir-hampir mirip..
    n rada aneh aja klo ngebayanginnya..

    but, all… suka!!!
    beruntung bgt jiyoon nemuin ‘bunga matahari’nya, yg akan selalu menatap dan tersenyum untuknya.. semangat jiyoon~~ himnae!

    Like

    • soalnya down syndrome itu kan cenderung lebih bersifat seperti anak-anak dan kedewasaan psikisnya terhambat 😀 jadi ku fikir itu udah agak cocok…
      tapi, maaf ya, kalau itu malah jadiin agak ganjil…
      makasih buat coment-nya 😀

      Like

  6. Tetaplah bahagia bersama Luhan, JiYoon~ssi. Tadi aku gak sengaja nge-seaching nama temenmu Kak, dan ketemulah FF ini. Huaa,, sedih banget. Ada pesan moralnya nih, selagi kita masih hidup, kita harus bahagia dan jangan menyia-nyiakan kehidupan.. Nice fic Kak, semua FFmu pasti ada pesan moralnya.

    Oh iya, semoga teman Kakak mendapat tempat terbaik disisi-Nya #Amiin

    Like

  7. Sedih astga. Ini makna dari kata2 “cinta tidak harus memiliki, selama masih ada org yg perduli disekeliling kita, janganlah bersedih” ;;

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s