[Oneshot] Hello! Neighbor

Hello! Neighbor 

TITLE : Hello! Neighbor

Genre : Romance, fluff, drama.

Author : JiYoo19

Cast : Oh Sehun – Song Jinni

Leight : Oneshot

Summary : Jinni membuka jendela kamar barunya, dan tidak sengaja mendapati pemuda itu berdiri di sana. Di depan rumahnya tengah mencuci mobil dengan earphone tergantung di leher.

Pemuda itu berkulit putih pucat, tinggi juga ramping. Rambut hitamnya acak-acakan dan terlihat smrawut. Seperti baru saja ditiup oleh tornado super dahsyat.

Dia tampan, dan tentu saja ini seperti mimpi.

Jinni seperti menjumpai langsung karakter manga yang sering dibacanya di komik-komik. Nyaris sempurna dan tanpa cela.

Pemuda itu Oh Sehun, tetangga barunya mulai hari ini.

~000~

Jinni menguap pelan. Gadis itu membuka matanya dan menggeliat. Tangannya meraba meja buffet dan mengambil sebuah jam weker berbentuk pororo berwarna baby blue kesayangannya.

Matanya memicing, mencoba melihat jam berapa sekarang.

Jam 6 pagi.

Jinni mengerang, ia mengacak rambutnya gusar dan menyingkap selimutnya. Gadis itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Aroma roti bakar dan selai kacang yang manis tercium oleh penciumannya. Jinni juga dapat mendengar sayup-sayup suara percakapan orangtuanya dari arah ruang makan.

Ini hari pertamanya menempati rumah baru, setelah kemarin ia pindah dari kediaman lamanya di Myeongdong. Selain itu,  ini juga menjadi hari pertama Jinni sekolah di sekolah barunya.

Jinni menggosok giginya lambat, matanya masih setengah terbuka dan wajahnya terlihat kuyu meskipun gadis itu telah mencucinya dengan krim facial. Entahlah, ia begitu tak bersemangat hari ini.

Jinni meraih gelas berisi air dan berkumur cepat. Gadis itu mengambil handuk dan mulai mengeringkan wajah dan rambutnya. Ia keluar dari kamar mandi.  Masih tampak asing dengan suasana kamarnya.

Sebuah kamar dengan warna dasar dinding abu-abu pucat dan berbagai barang-barang yang mayoritasnya dikuasai oleh warna putih dan biru-kehijauan. Ranjang berukuran sedang dengan spray putih bercorak bunga-bunga kecil yang diselubungi selimut tebal berwarna hijau dan biru lembut.

Tampak sedikit berantakan, tapi setidaknya suasana kamar baru Jinni cukup nyaman untuk ditinggali.

pretty-old-world-charming-bedroom-design-furniture-elegant-white-beautiful-accent-teen-girl-bedroom-inspiration-idea

Tatapan Jinni teralihkan ke bagian kiri kamarnya.

Jendela.

Jinni tiba-tiba saja teringat kejadian ketika ia membuka jendela itu kemarin. Dan di sana, ia mendapati seorang pemuda tampan tengah mencuci mobilnya. Lokasinya persis berada di sebelah rumah Jinni. Gadis itu tanpa sengaja memandangnya dan pemuda itu malah memergoki aksi Jinni.

Tersenyum miring dan membuat Jinni mendadak bisu.

Nafasnya tercekat.

Pemuda itu seperti karakter dalam tokoh komik yang selalu dibaca Jinni.

Ini aneh, tapi perasaan ini terlalu asing dan…

…menggelitik.

Ada sesuatu yang aneh dirasakannya ketika melihat senyuman pemuda itu.

Jinni tak pernah mengalami hal ini sebelumnya, dan ia akui ini sedikit membuatnya shock.

Gadis itu hanya membuka jendela,  ia tak sengaja menemukan pemuda tampan itu tengah mencuci kendaraannya.

Dan pemuda itu malah menghadiahinya sebuah senyuman selamat datang.

“Jinni, ayo turun sayang, kita akan sarapan bersama!” suara panggilan yang berasal dari luar kamar membuyarkan lamunan Jinni terhadap pemuda aneh itu. Jinni beranjak menjauh dari  jendela dan melempar handuknya asal di atas tempat tidur.

Jinni mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya yang masih setengah kering. Bergegas menuju ruang makan untuk bergabung dengan ayah dan ibunya.

Gadis itu bernama Song Jinni. 17 tahun, seorang gadis biasa yang terlalu sibuk dengan laptop dan ponsel.

Gadget freak, penggila makanan asam dan kopi.

Hanya seorang gadis biasa yang hanya menghabiskan waktu dengan melamun dan menatap awan-awan di langit.

Itu Jinni, si gadis yang membosankan.

“Ne, eomma, sebentar lagi aku turun!”

~000~

“Nah, baiklah nona Song, kau bisa duduk di bangku deret ke empat di pojok kanan,”

In Young seosangnim menunjuk bangku yang dimaksudnya. Jinni mengangguk, ia melangkah ke arah bangku tersebut dengan kepala tertunduk.

Gadis itu menghela nafas.

Jinni benci diperhatikan dan menjadi pusat perhatian

—itu menyebalkan.

Ditatap berpasang-pasang mata sementara kau harus berjalan menuju bangku-mu  bukanlah hal yang menyenangkan. Kau seperti menjumpai final destination-mu dalam skala kecil.

Merana dan entah kata apa lagi yang pantas untuk mendefinisikan keadaan gadis itu.

Jinni duduk di bangkunya, berulang kali mengucap syukur karena setidaknya ia telah berhasil melalui semuanya dengan baik.

Gadis itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap segerombolan siswa yang tengah bermain bola di lapangan. Jinni bersyukur ia tak satu kelas dengan tetangganya itu—pemuda yang mencuci mobil di depan rumahnya kemarin. Entah apa yang akan terjadi jika ia sekelas dengan pemuda itu, mungkin saja ia akan mati kutu setiap kali mereka berpapasan di kelas?

Mereka seumuran, dan kamar mereka berdua persis saling berhadapan satu sama lain.

Ini menyebalkan. Dan yang semakin memperparah keadaan adalah, kenyataan bahwa ibu dari pemuda itu adalah sahabat ibu Jinni sejak SMA.

Hell!

Apa semuanya harus serba kebetulan? Atau ini hanya akal-akalan Tuhan untuk membuat lika-liku takdirnya semakin rumit?

Satu hal yang diketahui Song Jinni mengenai pemuda itu.

Namanya Oh Sehun. Pemuda berkulit putih pucat, tinggi dan ramping. Memiliki rambut hitam acak-acakan yang terlihat seperti ditiup angin puting beliung setiap kali mereka bertemu.

“Hai!”

Jinni menoleh,  mendapati seorang gadis manis berkucir tengah melambaikan tangan padanya. Ia tersenyum.

Jinni mengerjapkan matanya beberapa kali, alisnya berjingit.

“Kau bicara padaku?” tanya Jinni menunjuk dirinya. Merasa aneh.

Gadis itu menggaruk pelipisnya bingung,“Sejujurnya iya.” Jawab gadis itu, dengan nada ragu, ia sedikit menjingitkan alisnya. Mungkin merasa aneh pada Jinni.

“Apa… aku terlihat seperti bicara pada orang lain?” tanya gadis itu polos.

Jinni menggeleng.

“Bukan begitu, aku hanya tidak yakin kalau tadi kau mengajakku bicara,”

Gadis manis itu tersenyum, matanya terkatup. Ia mengulurkan tangannya.

“Oh… ku kira ada apa. Aku Choi Jin Ri, senang bertemu denganmu, Jinni-ssi!”

Jinni membalas uluran tangan itu. Tersenyum tipis.

“Song Jinni, senang bertemu denganmu, Jin Ri-ssi,”

Choi Jin Ri. Nama yang cukup bagus. Ia kelihatannya orang yang sangat menyenangkan, Jinni  bisa merasakan hawa positif yang cerah menguar di sekelilingnya. Seperti matahari, dan senyumnya benar-benar tulus.

Hangat.

Dia orang pertama yang mengucapkan kata ‘hai’ padanya hari ini.

Mungkin Jinni bisa menambahkan nama Choi Jin Ri di buku hariannya sebagai orang pertama yang menyapanya.

“Ku harap, kita bisa menjadi teman baik, ne?”

~000~

“Jadi… ini cafetarianya?” tanya Jinni dengan ekspresi agak aneh.

Gadis itu hati-hati bertanya, menatap tempat di sekelilingnya dengan pandangan yang sebisa mungkin terlihat biasa saja. Tapi itu tidak cukup berhasil, ekspresi gadis itu terlalu jelas untuk ditutupi. Bahkan orang buta sekalipun pasti dapat mengira ekspresi aneh Jinni terhadap tempat ini dari nada bicaranya.

Mendadak selera makannya hilang.

Bau-bau aneh dari makanan yang berada di cafetaria membuat hidung Jinni sakit dan mendadak mual. Entah apa lah itu—yang jelas Jinni benar-benar ingin pergi dari tempat ini.

Choi Jin Ri, gadis manis yang berada di sebelah Jinni tersenyum manis. Dia si gadis ramah yang menyapa Jinni saat di kelas tadi, dan dia juga lah yang bertanggung jawab penuh atas terseretnya Jinni di tempat ini.

Gadis itu terus menarik lengan Jinni yang terkulai tak bertenaga agar terus mengikutinya. Menyeret Jinni seperti boneka dan membiarkan gadis itu mengoceh seperti anak kecil yang terlampau bersemangat menjadi seorang ‘guide tour’.

“Kau harus tahu, Jinni-ah, di sini makanannya sangat enak!”

Jinni tersenyum kikuk.

Yeah… kelihatan lezat kok. Aku bisa mencium aroma makanan itu dari sini.

“O-oh… begitukah?”

Jinni menutup hidungnya, mencoba tertawa—meski ia yakin itu bukan sesuatu hal yang patut ditertawakan. Dan lagi, mana poin lucunya di sini?

Di sini tidak ada badut Donal Duck ataupun Xiumin—teman sekelasnya dulu,  yang tengah mencoba menjadi Maryline Monroe.

—oh yah… setidaknya di sini Jinni dapat menikmati suguhan aksi lempar sedotan yang dilakukan siswa-siswa aneh di dekatnya. Anggap saja Jinni sedang menonton pertandingan lempar lembing yang tak sempat ia tonton saat olimpiade Inggris beberapa bulan lalu.

Dengan lembing yang terbuat dari plastic dan bercorak polkadot warna merah, itu terlihat cukup ‘keren’ kok, dari sudut pandang Jinni. Setidaknya Jinni masih dapat tertawa, walaupun ia yakin 100% Jin Ri hanya akan menganggap tawa garingnya itu seperti sebuah dengungan lebah yang lewat.

Jin Rin menarik Jinni duduk di salah satu kursi kosong. Meletakkan nampan mereka yang telah terisi dengan berbagai hidangan menggiurkan di atas meja persegi panjang. Jin Ri tersenyum, menatap puas nampannya.

“Nah… Jinni-ah, kau harus coba ini, aku yakin kau pasti belum pernah mencoba Kimchi rasa cola, kan?”

Jin Ri menunjuk mangkuk kecil Kimchi itu dengan sumpit pelastiknya. Jinni mengangguk, tersenyum canggung.

Mendengar namanya saja membuat Jinni mual. Dan… apa itu?

Kimchi rasa cola?

“Oh iya, kau juga harus coba ini Jinni-ah, Japchae rasa buah, kau pasti menyukainya!”

Jin Ri menyodorkan semangkuk mie beraneka warna itu pada Jinni. Gadis itu hanya dapat tersenyum dan tak berkutik samasekali.

Ia memandang mangkuk mie di hadapannya dengan perasaan ngeri dan was-was.

Apa aku harus makan ini?

Jinni tersenyum canggung. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela cafetaria, dan di sana ia melihat Oh Sehun tengah bermain basket bersama teman-temannya.

Pemuda itu lagi.

Seperti yang sudah-sudah, ia terpaku—tak dapat berkedip dan menghirup nafasnya dengan benar.

Oh tidak! Ini gawat!

Jantung gadis itu berdetak cepat, memacu dan memukul rongga dadanya hingga ia merasa begitu sesak. Perasaan aneh itu muncul lagi, dan sialnya sosok Oh Sehun terlihat begitu tampan dari sisi ini.

Jinni tak dapat berkutik, gadis itu terdiam, mematung dan entah apa namanya.

Nafasnya nyaris tercekat—putus-putus dan butuh sebuah energi ekstra untuk sekedar menarik nafas.

Oh Sehun. Pemuda itu terlihat berkilau. Kulit putih pucatnya yang dibasahi oleh keringat diterpa oleh cahaya matahari, rambutnya yang setengah basah acak-acakan tak teratur. Tubuh rampingnya yang tinggi, wajahnya, senyumnya…

Segalanya yang berada pada diri Oh Sehun benar-benar membuat Jinni nyaris gila!

Apa ini sebuah mimpi?

Lalu mengapa ketampanan pemuda itu kelihatan begitu tak manusiawi?

Kenapa pemuda itu mampu membuat Jinni merana? Nyaris gila karena pesonanya yang begitu menyilaukan.

Oh Sehun, siapa dirimu sebenarnya?

“Jinni-ah?”

Jin Ri mengibaskan tangannya di depan wajah gadis itu. Dan Jinni tetap tak sadar, gadis itu terus terpaku menatap segerombolan pemuda yang tengah bermain basket tanpa mengindahkan panggilan Jin Ri yang mulai khawatir padanya.

“Jinni-ah?”

“…”

“Jinni-ah!”

Jinni masih tetap sama. Terdiam layaknya patung dengan ekspresi paling aneh sedunia. Mata yang membelalak lebar, dan mulut ternganga dan ekspresinya benar-benar mencerminkan sosok gadis itu yang sesungguhnya.

Dia shock.

Atau mungkin hanya meluapkan kekagumannya pada sosok rupawan itu dengan cara yang diluar batas normal?

“Ya! Song Jinni!”

Jinni tersentak, mendadak lamunannya buyar dan kini ia menatap Jin Ri dengan pandangan kosong yang lebih berkesan gugup.

Jin Ri menghela nafas.

“Jinni-ah, kau baik-baik saja kan? Dari tadi aku mengajakmu bicara tapi kau tetap diam, aku kira ada sesuatu, jadi aku terus memanggilmu,”

Jinni menggaruk kepalanya kikuk. Ia merasa bodoh jika melamun hanya karena melihat Oh Sehun yang tengah bermain basket—apa sekarang Jinni mulai terkontaminasi virus aneh hanya karena melihat Oh Sehun?

“Ah, tidak, maafkan aku. Aku melamun, tadi,”

“Ya sudah, jangan ulangi lagi ne? Melamun itu tidak baik, Jinni-ah, nah… sekarang ayo coba cicipi makananmu! Aku yakin, kau pasti menyukainya,”

Jin Ri mendorong mangkuk kecil itu mendekat, sementara itu, mangkuk makanan Jin Ri telah terlihat berkurang dari sebelumnya. Hanya menyisakan setengah bagiannya saja.

Lagi-lagi Jinni tersenyum canggung. Mencoba melawan perasaan enggan dan sungkannya terhadap Jin Ri yang telah repot-repot menyodorkan makanan padanya.

Jinni membuka mulutnya, memasukkan Kimchi rasa cola itu perlahan. Ia menutup mata, alisnya mengeriyit dan rasa aneh itu mulai menjalar lagi di sekitar mulutnya.

Ia tersenyum, dan kali ini dia benar-benar merasa ini adalah senyum paling aneh sedunia.

Ini buruk—dan ia bersumpah ini adalah rasa paling aneh selain masakan gagalnya yang tak layak makan.

“Bagaimana? Enak kan?”

~000~

Jinni menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Kepalanya pusing dan ia benar-benar merasa buruk.

Perutnya bahkan masih merasa mual, ditambah lagi ayahnya tidak menjemputnya pulang dan ia terpaksa berjalan dari sekolah menuju rumah selama kurang lebih tiga per empat jam!

Kaki-kakinya menjerit, minta tolong dan melolong gaduh dari rasa nyeri yang nyaris mencabuti jari kakinya satu per satu.

Gadis itu meringis, menahan rasa sakit sembari berguling di atas ranjangnya.

Keadaan rumah Jinni kosong. Ayah dan ibunya pergi entah kemana, dan di rumah ini ia sendiri. Benar-benar merasakan atmosfer sepi yang menyelubunginya.

Jinni beringsut bangkit dari tempat tidur, bermaksud untuk pergi ke dapur dan mengambil beberapa kudapan lezat dan sekaleng soda. Tapi, mendadak langkahnya terhenti di depan jendela.

Gadis itu kembali terpaku.

Ia seakan lupa, atau malah mengabaikan rasa sakit yang mendera kaki-kaki mungilnya.

Tatapannya tertuju pada kamar yang berada persis di depan kamarnya. Bayangan sosok itu tertangkap retina matanya.

Sosok Oh Sehun yang tengah membaca dengan earphone putih yang tergantung di telinganya.

Pemuda itu lagi.

Jinni melihat pemuda itu membaca buku di atas ranjangnya. Duduk menyamping hingga Jinni dapat memperhatikan detil wajah pemuda itu.

Matanya yang kecil, hidungnya yang mancung, dan bibir mungilnya yang berwarna pink pucat.

Kenapa segalanya terlihat begitu pas? Kenapa pemuda itu begitu terlihat tanpa cela?

Mengapa setiap Jinni menatap pemuda itu, selalu ada gemuruh perasaan aneh?

Gadis itu tak dapat berpaling, ia tak dapat mengelak. Seperti kodrat yang memang menggariskan kutub utara membeku dan gurun Sahara dengan sinar matahari yang membakar. Jinni tak kuasa untuk tak menatap Sehun setiap kali ia memandang ke jendela.

Jinni mungkin tak menyadari ini, tapi ia secara tak langsung telah mengambil konsekuensi atas tindakannya.

Membuka jendela kamarnya untuk melihat Oh Sehun.

~000~

Satu bulan telah berlalu semenjak kali pertama Jinni dan keluarganya menjejakkan kaki di rumah baru mereka.

Dan kini, Jinni punya kegiatan baru selain memainkan ponsel dan laptopnya.

Mungkin ini terdengar illegal, tapi kau tahu? Jinni benar-benar menyukai kegiatannya.

Mengamati Oh Sehun dari jendela kamarnya.

Jinni terbiasa membuka jendelanya pagi-pagi buta. Duduk bersimpuh di sisi jendela, lalu mengedarkan pandangannya ke arah kamar pemuda itu.

Bahkan Jinni tak jarang mendapati Sehun masih tertidur lelap di ranjangnya. Wajah tenangnya benar-benar membuat Jinni terlena. Seperti seorang malaikat yang jatuh dan tiba-tiba saja berubah menjadi seorang manusia.

Ini gila—dan Jinni merasa pusing. Entah mengapa dari hari ke hari pemuda itu kelihatan semakin tampan di matanya. Mengapa pemuda itu selalu dapat mencuri perhatiannya?

Menyedot seluruh kepingan hati milik gadis itu hingga menyisakan seperempat bagian.

Jinni merasa tak yakin dengan ini. Ia tak yakin dengan perasaannya.

Mungkinkah ini cinta?

“—tidak! Tidak mungkin!”

Jinni mengacak rambutnya gusar. Berantakan dan mengakibatkan keadaannya menjadi lebih parah. Gadis itu kembali menghela nafas panjang.

Itu tak mungkin.

Jinni…

…tak mungkin menyukai Oh Sehun bukan?

Pemuda itu terlalu indah untuk bersanding dengannya. Jinni hanya gadis biasa, bukan pemuda super terkenal seperti Oh Sehun. Punya banyak teman dan menjadi bintang.

Jinni hanya seorang gadis biasa yang suka membuka jendela dan menatapnya dari jauh. Dia bukan apa-apa selain stalker yang hobi mengamati gerak-gerik pemuda itu baik di sekolah  maupun di rumah.

Jinni tidak terobsesi pada pemuda itu. Ia hanya mengaguminya.

…atau mungkin tidak, karena gadis itu hanya dapat menatap pemuda itu dari jauh.

Bahkan saat mereka berdua tidak sengaja berpapasan di jalan, Jinni hanya dapat menunduk , membalas senyuman manis pemuda itu dengan sebuah senyuman kikuk yang terlihat aneh.

Ada alasan mengapa Jinni lebih suka membuka jendelanya selain untuk melihat Oh Sehun.

Alasannya adalah, Jinni tak perlu takut jika Sehun melihatnya, dan jika itu terjadi, Jinni hanya perlu berbalik dan bersembunyi dibalik tembok.

Jinni akui itu perbuatan pengecut—memalukan.

Tapi sejauh ini—sejauh Jinni masih dapat memandang pemuda itu dari celah jendelanya, itu sudah cukup. Jinni tak mengharapkan apapun selain membuka jendela dan melihat sosok pemuda yang diam-diam disukainya berada di sana.

Melakukan semua aktifitas, sementara gadis itu menonton dengan tenang.

Tapi itulah alasannya.

Tidak logis?

Ya. Cinta memang terdengar seperti sesuatu hal menjijikkan dan tidak masuk akal. Bahkan kekuatan cinta dapat mengubah kutub utara mencair dan memutar balikkan pergantian siang dan malam secara acak.

Menjungkir balikkan dunia dimana segalanya yang tak mungkin begitu kelihatan sepele.

Itu cinta—dan gadis itu hanya menyimpan sepersekian perasaan itu di sudut hati kecilnya.

Jinni terbangun. Membuka jendela dan melihat Oh Sehun di kamarnya.

… itu seperti sebuah kesenangan tersendiri bagi seorang Song Jinni.

Gadis berusia 17 tahun, yang memiliki kehidupan statis dan super sederhana.

~000~

“Sehun-ah, ahjumma minta tolong, untuk menjaga Jinni ne? dia sedang demam, dan kami harus segera ke pulau Jeju untuk mengurus beberapa urusan, kami tidak akan lama, paling tidak nanti malam kami akan pulang,” pesan Song Jae Kyung—ibu Jinni pada Sehun di depan pintu rumah keluarga Oh.

Pemuda itu tersenyum manis, menampakkan eyesmile-nya yang begitu menawan.

“Ne, ahjumma, aku akan menjaganya,” jawab pemuda itu kalem.

Song Jae Kyung tersenyum, perasaannya menjadi lega dan ia hanya dapat berulang kali mengucapkan terimakasih.

“Gomawo, ne, Sehun-ah. Kami tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa, maaf jika ini membuatmu repot,” wanita itu membungkukkan badannya.

“Tidak, ahjumma, ini sama sekali tidak merepotkan. Aku senang membantu ahjumma, jadi mohon jangan terlalu sungkan begitu,”

“Tapi ini tetap saja merepotkanmu, Sehun-ah. Apalagi kau juga ditinggal sendiri oleh orangtuamu,”

“Sudahlah, ahjumma, ini tidak apa-apa,”

Jae Kyung tersenyum pada Sehun, ia memandang arlojinya sekilas dan mendadak bergegas pergi dari kediaman keluarga Oh.

“Ini sudah waktunya ahjumma pergi, Sehun-ah. Kalau begitu, ahjumma titip Jinni, ne?”

“Ne, ahjumma,”

Mobil Audy berwarna putih itu melaju. Menjauh dan meninggalkan Sehun seorang diri di depan gerbang rumah. Pemuda itu menatap langit biru di atasnya. Meletakkan tangannya tepat di atas matanya untuk menghalau sinar terik matahari.

Cerah.

Ini awal musim panas. Dan mendadak pemuda itu merasa geli dengan tetangganya yang satu ini.

Harus sakit di awal musim panas.

Dan… demam?

Apa itu alasan yang cukup logis?

“Song Jinni? Kau gadis yang menarik,”

~000~

Jinni meraba kepalanya. Mendadak ia merasakan adanya sebuah benda lembab yang hinggap di dahinya.

Sebuah handuk kecil dengan motif pororo yang tampak familiar di matanya. Ia melirik ke nakas, dan mendapati adanya sebuah baskom berisikan air es yang tergeletak di sana. Jendela kamarnya terbuka, hembusan angin lembut menerbangkan korden jendela Jinni yang berwarna putih transparan.

Gadis itu bangkit, mendudukkan dirinya dengan sesekali memijat pelipisnya yang berdenyut. Keringat membanjiri tubuhnya.

Ya. Gadis itu kepanasan.

Jinni beranjak dari tempat tidur, berjalan sempoyongan menuju dapur untuk mengambil segelas jus jeruk dingin dari kulkas.

Ia membuka pintu kamarnya. Kakinya tersangkut sandal, ia jatuh tersungkur dan bersimpuh di lantai. Jinni mengelus pinggangnya.

Tangannya mengambil sandal itu.

“Ini… bukan sandalku, apa eomma membeli sandal baru untukku? Tapi kenapa bentuknya terlihat aneh?” Jinni menggaruk kepalanya. Pandangannya masih sedikit kabur dan kepalanya terasa pening.

Namun gadis itu tetap bangkit, dan kembali berjalan menuju dapur untuk minum.

Sesampainya di dapur,Jinni membuka kulkasnya. Mengabil  jus jeruk dan menenggaknya langsung tanpa perlu menuangnya ke dalam gelas.

Dan mendadak, segalanya seperti terhenti. Jinni tersedak minumannya. Terbatuk-batuk dan memegangi hidungnya yang terasa pedih sementara matanya membelalak lebar tatkala melihat sosok di hadapannya datang dengan membawa satu porsi sup di panci. Sosok itu pun tak kalah kaget, cepat-cepat pemuda itu meletakkan sup itu di meja makan dan menghampiri Jinni yang masih terbatuk-batuk heboh.

“Jinni-ssi, gwenchana?” tanya pemuda itu khawatir.

Jinni mengangguk, perlahan-lahan mengusap hidungnya yang terasa pedih.

“Ne, nan gwenchana Sehun-ssi,”

Gadis itu menutup matanya, hidungnya sakit dan tenggorokannya pedih.

Kaget?

Itu tentu saja. Bagaimana mungkin tetangganya itu berada di rumahnya? Dan… membawa sepanci sup yang masih mengepulkan asap di tangannya. Apa dia baru saja masak?

Oh… tidak…

Rasa pening itu kian menjadi-jadi. Dan Jinni benar-benar tak dapat bernafas dengan benar ketika pemuda itu di dekatnya. Jantungnya berdebar kencang, memacu dan membuat gadis itu berpuluh-puluh kali lebih kacau dari sebelumnya.

Hey! Jangan salahkan Jinni kalau begitu. Lalu bagaimana dengan Oh Sehun ini? Dia terlalu tampan, dan itu sungguh tak manusiawi.

Dia seperti malaikat—dan Jinni hampir-hampir menduga bahwa ini mimpi jika tidak ingat hidung dan tenggorokannya sakit.

“Em… ku rasa, sebaiknya aku mengantarmu ke kamar,”

Sehun memegang lengan Jinni. Memapahnya untuk naik tangga ke lantai atas, dimana kamar Jinni berada.

Jinni sangat menikmati ini. Saat-saat dimana Jinni dapat lebih dekat dengan Oh Sehun, menghirup aroma tubuhnya dan memandangi pemuda itu dari jarak yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dan, Jinni akui, Oh Sehun jauh lebih tampan dari sisi ini.

Atau… memang tidak, karena Oh Sehun memang selalu kelihatan tampan di matanya?

Lekukan garis wajahnya terlihat jelas, dan sangat indah.

Rambutnya mungkin tidak acak-acakan seperti terakhir kali mereka bertemu dua hari yang lalu—mungkin kali ini Sehun menyisir rambutnya?

Dan baju yang dikenakan pemuda itu agak longgar. Setelan kaus polo berwarna hijau emerald entah mengapa terlihat pas melekat di tubuhnya yang putih bersih. Sementara Jinni?

Gadis itu hanya mengenakan tanktop putih yang kelihatan tidak pas melekat di tubuhnya yang agak kurus. Gadis itu memang putih, tapi kulitnya benar-benar pucat dan kering.

Salah satu factor mengapa itu terjadi adalah, gadis itu tak pernah merawat tubuhnya. Jinni terlalu sibuk berkutat dengan laptop dan cerita fiksinya hingga ia mengabaikan tubuh dan kesehatannya. Hasil perbuatannya itu memang berbuah jelas, ia jatuh sakit.

Di awal MUSIM PANAS.

Sehun mendudukkan Jinni di pinggir tempat tidurnya. Gadis itu memijat pelipisnya dan terus meringis.

Sehun berjongkok di depan gadis itu. Mengangkat tangan Jinni, dan balik menjejalkan punggung tangannya di kening gadis itu untuk memeriksa suhu badannya.

Panas.

Dan sekarang Jinni benar-benar merasa bahwa wajahnya terbakar.

Bersentuhan dengan pemuda itu benar-benar membuat tubuhnya terasa aneh. Anggota tubuhnya seakan tak mendengar jeritan gadis itu yang memintanya menghentikan segala tindakan gila ini.

Tetap saja tidak—

Selama Oh Sehun di sisinya, tubuh gadis itu akan terus bertindak tanpa batasan yang jelas.

“Apa kau membutuhkan sesuatu, Jinni-ssi?”

Jinni menegakkan kepalanya, menatap ragu ke arah Oh Sehun.

“A-apa?”

“Kau membutuhkan sesuatu? Makanan, minuman, atau kau ingin aku mengganti air di baskom itu?”

Jinni cepat-cepat menggeleng. Ia kikuk dan terlalu rikuh—bahkan untuk sekedar membuka suaranya yang kelewat kecil itu.

Bahkan ketika mengeluarkan kata-kata pun, itu lebih berkesan seperti cicitan yang terlalu halus untuk didengar.

“T-tidak, termakasih, Sehun-ssi,”

Sehun menaikkan alisnya bingung.

“Sungguh? Keadaanmu benar-benar tidak baik, Jinni-ssi, atau kita harus ke dokter?”

Lagi-lagi gadis itu menggeleng. Kali ini terlalu cepat, hingga Sehun semakin mengerutkan alisnya bingung.

“Tidak perlu Sehun-ssi, a-aku baik-baik saja,”

Sehun menyunggingkan senyum miringnya. Ia mengacak rambut gadis itu gemas. Entah mengapa ia merasa geli saat berinteraksi dengan gadis ini.

“Oh, ya, Jinni-ssi, orang tuamu sedang ada urusan di pulau Jeju, dan baru kembali nanti malam. Mereka berpesan padaku untuk menjagamu. Jadi maaf jika aku mengagetkanmu, tadi,”

“Urusan?”

Sehun mengangguk.

“Mereka kelihata buru-buru sekali tadi, jadi mungkin mereka tidak sempat mengatakannya padamu,”

Jinni menunduk. Menatap kakinya yang sedari tadi bergerak gelisah.

Tinggal berdua dengan pemuda ini hingga orang tuanya kembali.

Oh Tuhan… berdekatan seperti ini saja, rasanya Jinni nyaris tak dapat menangkap udara untuk memenuhi kebutuhan paru-parunya. Sementara itu menunggu hingga orang tuanya kembali dan tinggal berdua dengan Oh Sehun?

Apa Tuhan memang berencana untuk membunuhnya secara perlahan?

Oh Sehun terlalu menawan, dan berkilau. Jinni benar-benar tak kuasa untuk terus menatap pemuda di hadapannya ini tanpa berkedip, lalu kembali mempermalukan dirinya sendiri.

Pesona pemuda di hadapannya benar-benar mematikan.

Dan entah ini harus dikatakan sebagai anugrah atau bencana.

Pemuda ini benar-benar berbakat untuk membuat gadis manapun menggelepar tak berdaya hanya karena kharismanya yang lembut dan inosen.

“Jinni-ssi,  gwenchanayo? Kau mimisan!”

~000~

Jinni tak pernah ingat, kapan terakhir kalinya ia tidak mengisi otaknya dengan berbagai memory mengenai pemuda bernama Oh Sehun itu.

Jinni berusaha mengingat, dan gadis itu tak pernah bisa melakukannya.

Pemuda itu telah merekat terlalu kuat di dalam ingatannya. Menjerat gadis itu hingga ia tak dapat berkutik, dan terus terbelenggu dalam pesona manis yang menenangkan dari Oh Sehun.

Sehun memang bukan pemuda dingin yang misterius. Dia juga tidak berkesan manly.

Tapi Sehun punya cukup charisma untuk menyedot seluruh perhatian orang-orang karena senyumnya yang tulus, dan kepribadian manis yang teramat aneh, di mata Jinni.

Dia cukup inosen— atau malah terlalu polos untuk ukuran pemuda seusianya. Tapi justru itulah yang membuatnya semakin menarik.

Dan, jika boleh Jinni akui. Nyaris selama tiga tahun ini tak melihat Oh Sehun membuat Jinni kesepian.

Pemuda itu pindah, melanjutkan sekolahnya di Seoul bersama neneknya.

Jinni tidak tahu kapan pemuda itu akan kembali. Melihat sosok itu mencuci mobilnya di depan rumah dan melambaikan tangan padanya. Menjaganya ketika ia sakit dan berbicara dari jendela kamarnya.

Jinni merindukan itu.

Jinni merindukan saat-saat dimana ia dapat melihat Oh Sehun tersenyum. Melihat eyesmile pemuda itu yang menyerupai bulan sabit.

Tapi kini, Jinni hanya dapat memandang kamar yang telah kosong itu dengan pandangan sendu.

Di pagi hari ia terbangun, membuka jendela kamarnya, berharap ia dapat menemukan sosok Oh Sehun yang tengah tertidur.

Sore hari, setelah ia pulang kuliah, Jinni kembali membuka jendela kamarnya. Masih berharap menemukan bayangan Oh Sehun  yang tengah berguling di kasurnya dengan mendengarkan lagu sembari memainkan laptopnya.

Tengah malam gadis itu kembali terbangun, kembali membuka jendelanya dan masih tetap menunggui kamar kosong itu terisi oleh sosok yang teramat dirindukannya tiga tahun belakangan ini.

Jinni menangis. Terisak di sisi jendela sembari memeluk boneka teddy bear putih yang pernah dihadiahkan pemuda itu padanya. Menggumamkan nama pemuda itu berulang kali hingga akhirnya ia tertidur di sisi jendela yang masih terbuka.

Jinni menunggu. Gadis itu selalu menunggu.

Membuka jendelanya, dan berdo’a semoga pemuda itu berada di kamarnya dan kembali.

Tapi tidak…

Sehun tidak pernah datang dan kembali.

Sehun tak pernah ada di sana.

Jinni kembali terisak.

Ia merindukan pemuda itu. Ia merindukan suara pemuda itu yang terdengar ringan dan menggelitik telinganya.

Ia merindukan segala yang ada pada diri pemuda itu.

“Sehun-ssi, jeongmal bogoshipoyo…”

Jinni berdiri, hendak menutup jendelanya dan menangis di ranjangnya. Namun, mendadak, jendela kamar yang berada di seberang kamarnya terbuka. Menampakkan kamar yang di dominasi oleh warna biru dan hitam itu.

Kamar Oh Sehun.

Sebuah kertas menyembul di balik tirai tipis kamar pemuda itu.

Jinni terhenyak.

Ada apa? Apa yang terjadi sebenarnya?

Di sana tak ada seorang pun, dan tiba-tiba saja kertas itu menyembul dengan sendirinya. Sangat tidak mungkin jika setan muncul di siang hari bukan?

Gadis itu menggigil, di sela isak tangisnya ia mencengkram erat boneka teddy miliknya. Ia ketakutan.

Tangan itu terjulur. Memegang kertas putih tadi. Dan itu membuat isak tangis Jinni kian menguat.

“Jinni-ssi…”

Suara itu terdengar.  Memanggil namanya.

Suara itu… tidak asing, seakan Jinni pernah mendengar suara tersebut di suatu tempat yang tak dikenalnya sama sekali.

Tidak—

Itu tidak mungkin. Jinni pasti salah.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyangkal dan tetap bersi keras pada pendiriannya. Itu hanya halusinasinya saja, itu hanya imajinasinya, karena efek merindukan pemuda itu.

“Jinni-ssi…”

Jinni membuka matanya. Memberanikan untuk menatap kamar pemuda itu.

Dan di sana ia melihatnya.

Bukan lagi khayalan seperti apa yang dibayangkan gadis itu. Karena kenyataannya sosok itu telah berdiri di sana.

Di depan jendela kamarnya dengan membawa sebuah kertas di pelukannya dan tersenyum manis pada Jinni.

Ia membalik kertas di tangannya. Memperlihatkan tulisan yang berada di kertas tersebut.

Jinni terdiam, mematung dan hanya dapat memandang pemuda itu dengan perasaan shock.

Setetes air mata kembali luruh di sudut matanya, namun kali ini gadis itu tersenyum. Ia tak dapat menutupi rasa bahagianya.

Bukan sebuah kata-kata yang penting. Tapi cukup dengan itu, segala rasa sepi dan sedih yang dirasakan gadis itu selama tiga tahun belakangan ini menguap dan hilang tertelan udara musim semi.

“Sehun-ssi…”

*

*

*

Hello! Neighbor…

Would you be my girlfriend?

 

FIN_

 

Advertisements

38 thoughts on “[Oneshot] Hello! Neighbor

  1. Weee QAQ huaaa huaaa #sesaknapas Ini QAQ dengan baca ini setidaknya udah bisa ngurangin rasa galau gue. Huaaa daebak thor, gue suka QAQ Suami gue di sini manis banget. Huaa QAQ gue terharu *eh? Gue suka fluff ini thor. Sering-sering buat fluff ya? #hug

    Like

    • wakakakakakak XD
      padahal gue kira ini bukan fluff ==’
      dan karakternya si cadel malah gue buat jadi manis kaya belimbing(?)
      padahal tadinya mah epil XD #pok
      gue kaga janji lho, ya sering-sering buat oneshot fluff *w*d
      pokoknya hutang(?) fluff gue udah lunas nih XD #tawanista

      Like

  2. Kalo stiap ada yg tetanggaan slalu inget you belong with me sama call me maybe. Hehe,

    nemu typo 2 doang,rapi deh:D.

    Bales ama jinni nya : jawab ga yaaaa?#ini jinni dlunya putih abu2 di Ina sblum k korsel. Loll

    Like

    • wkwkwkwk XD padahal ini ngedengerin pake lagunya Hyorin sistar- I Choose to loving you :3 tapi malah dapet ke call me maybe ya? XD #plok
      hehehe…
      iya, lain kali bakalan lebih teliti lagi, ne ^^
      makasih buat berkunjung…

      Like

  3. Halo broo! XD
    bru nemu kotaknya.. XD
    #buagh
    deskrip nya.. Indaaah~ ❤
    udah pernah kmu tag ke aku blum sih? Kyknya belum ya.. U__U
    keren! Aku suka kata" trakhirnya, yg:
    hello neighbor..
    Would you be my GF?
    Wah wah, boleh minta ijin make kata" it bt fic aku? 😀
    endingny manis.. XD
    keep writing bro! XD

    Like

    • wohohoho… nemu juga kan? :3
      wkwkwkwk XD ini fic juga karena lagu carley jae rapsen yang call me maybe itu lho~ ;3
      mau make kata-katanya? XD
      wha…. monggo… silahkeeen… 😀 #pelukcium

      Like

  4. butuh sehun pov!
    q ngerasa ada bag. yg ilang,
    q kaget bgt pas ternyata uda 3 tahun kmudian..
    pnasaran bgt ama yg trjadi slma 3 tahun itu.. soalnya keliatannya yg cinta mati cma jinni doang, ngga keliatan klo sehunnya jg cinta ma jinni..
    tpi suka bgt ama akhirnya.. gaya sehun bgt~ ehehehe..

    Like

  5. Kyaaaaa… Fluffy bgt ini, maniss, semanis Es Krim,

    ide makanan aneh begituan dpt dr mana Jiyoo? Di kantin skul Jiyoo jual jenis begituan?
    Gk kebayang rasanya..kkk

    bikin Thehun POV dong…
    Hehehe

    Like

    • O.O wah, dapet kah kesan fluffnya? Jiyoo rasa ini malah ancur banget eon T^T #hiks
      ide makanan? O.O itu sebenernya sih == gara-gara ngedengerin lagu Suju yang cooking cooking itu ==’
      malahnya jadi nista begitu eon XD #ditendang
      rasanya pasti fantastis! XD #waks

      hooo… sekuel kah? OwO diusahakan ne… XD

      Like

  6. huwaaa… Jinni mabuk kepayang ini mah sama de Thehun hohoho
    gak tahu kenapa jadi ikutan capek ngikutin perasaan Jinni yang mengagumi Sehun dgn kadar tinggi begitu haha
    rada ngebatin sukanya kelamaan tp berbalasnya telat banget kkk^^
    nice FF thor, unyu deh hehe
    oya, setuju banget sama komen2 sebelumnya, butuh sequel dgn Sehun POV thor 🙂
    ditunggu ya ^^

    Like

  7. uwoooo~ keren thor! alur’a ringan n mudah d cerna, tp feel’a dpt bngt (y)
    apalagi bhsa’a uda sesuai, salut deh bwt author!!
    disini jinni karakter’a bner2 mirip aku bgt. gaget freak, pnggila cerita fiksi, pemalu jg.. haha!! nice story. squel’a ditunggu ye.. ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s